Pencemaran Sungai

Bom Waktu Sungai Barito

Ibarat bom waktu, keramahan sungai barito yang menjadi urat nadi perekonomian dan kehidupan warga tepian Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, suatu ketika dapat menimbulkan petaka. Air sungai yang dikonsumsi lebih dari dua juta warga itu kini dalam status berbahaya akibat pencemaran.
Sungai barito merupakan salah satu sungai besar di Kalimantan selain sungai Kapuas dan Kahayan di Kalteng, serta sungai Mahakam di Kaltim. Sungai dengan panjang total 1.500 kilometer itu adalah sungai utama, dengan puluhan cabang (anak sungai).
Hulu Sungai barito berada di kaki pegunungan Muller perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur,dan bermuara hingga laut Jawa di wilayah Kalsel. Sungai Barito adalah induk dari anak-anak sungai yang berada di berbagai kota kabupaten di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Sungai barito membelah wilayah empat kabupaten di Kalteng yaitu Murung Raya, Barito Utara, Barito Timur dan Barito Selatan di bagian hulu. Dan dibagian hilir, sungai ini melintasi empat wilayah Kabupaten Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Banjar dan Kota Banjarmasin.
Maraknya aktifitas pertambangan emas dan batubara di sepanjang daerah aliran sungai, serta kerusakan kawasan hutan akibat penebangan dan alih fungsi kawasan, diduga kuat menjadi penyebab tercemar sungai barito. “Saat ini kualitas air sungai barito masuk kategori tercemar berat dan sangat berbahaya untuk konsumsi,” tutur Rahmadi Kurdi, Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel.
Berdasarkan hasil penelitian berkala kualitas air dari hulu ke hilir, sungai barito kini tercemar termasuk tingginya kandungan logam berat seperti air raksa dan arsenik. Hasil penelitian pada akhir 2009 lalu, diketahui berbagai komponen seperti biological oksigen demand (BOD) mencapai 14,7 mg/lt diatas baku mutu 2 mg/lt.
Kandungan carbon oksigen demand (COD) mencapai 27,6 mg/lt, sedangkan baku mutu seharusnya 10 mg/lt. NH3N (nitrat) tercatat 1,5 mg/lt dari baku mutu 0,5 mg/lt. Bakteri ecoli (tinja) mencapai 290,1 mg/lt jauh diatas baku mutu 100 mg/lt.
Bahkan, sungai barito juga tercemar logam berat seperti Mangan (Mn) 0,3 mg/lt diatas baku mutu 0,1 mg/lt. besi (Fe) 2,089 mg/lt sedangkan baku mutu 0,3 mg/lt, air raksa (Hg) mencapai 0,3 mg/lt jauh diatas baku mutu 0,01 mg/lt. Dan adapula logam berat jenis arsenic (As) mencapai 0,099 mg/lt jauh diatas baku mutu 0,005 mg/lt.
Pencemaran juga terjadi di sungai-sungai lainnya di wilayah Kalsel, termasuk sungai Martapura yang mempunyai hulu sungai Riam Kiwa dan Riam Kanan, kaki pegunungan meratus. Padahal sungai ini menjadi sumber air baku untuk konsumsi 26.000 keluarga di Kabupaten Banjar dan lebih dari 100.000 keluarga di Banjarmasin.
Seperti halnya sungai barito, sungai martapura juga tercemar logam berat akibat aktifitas penambangan di bagian hulu pegunungan meratus. “Pencemaran ini jika dibiarkan terus menerus dapat menjadi bom waktu, seperti kasus minamata dan itai-itai di Jepang,” tegasnya.
Guna menanggulangi pencemaran dan ancaman kerugian akibat kerusakan lingkungan ini, BLHD Kalsel telah mengusulkan dibentuknya Badan Otoritas Pengelolaan DAS Barito.
Terus menurunnya kualitas air sungai ini, ikut mengancam ketersediaan air baku bagi PDAM. “Sebagian besar warga pesisir dan tepi sungai, masih mengandalkan air sungai untuk dikonsumsi,” ujar Muslih, Direktur Teknik PDAM Bandarmasih. Padahal kondisi air sungai di Kalsel mengalami pencemaran mulai dari bakteri ecoli, hingga pencemaran logam berat seperti mercury.
Pada saat kemarau, air sungai mengalami interusi air laut sehingga air yang dikonsumsi warga terasa asin. Kadar garam pada air baku yang berasal dari sungai mencapai 5.000 mg/liter, jauh diatas ambang batas 250 mg/liter.
PDAM sendiri mengaku belum memiliki teknologi untuk menetralisir air sungai yang mengandung logam berat tersebut. Proses pengelolaan air baku baru sebatas penjernihan air, sehingga apabila kondisi tercemarnya sungai tidak segera diatasi maka akan mengancam jutaan warga kalsel.
“Dari tahun ke tahun biaya untuk pengelolaan air terus meningkat dan bukan tidak mungkin sepuluh tahun ke depan, air sungai barito dan martapura tidak dapat lagi diolah menjadi air minum,” tegasnya. (Denny Susanto)

About these ads

~ oleh dennymedia pada Juni 19, 2010.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: