<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JELAJAH KALIMANTAN</title>
	<atom:link href="http://dennymedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dennymedia.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 18:03:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dennymedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JELAJAH KALIMANTAN</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dennymedia.wordpress.com/osd.xml" title="JELAJAH KALIMANTAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dennymedia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kebakaran Hutan</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/kebakaran-hutan/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/kebakaran-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehutanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Menjaga Belantara di Tengah Keterbatasan JK, (Juli 2011): Kalimantan Selatan ditetapkan dalam Siaga II ancaman kebakaran hutan dan lahan. Keterbatasan personil dan peralatan, menjadi kendala utama menjaga ratusan ribu hektar belantara di wilayah ini. Raungan sirine membahana di tengah pekatnya malam belantara, kawasan Mandiangan, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar. Tiga buah mobil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=593&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjaga Belantara di Tengah Keterbatasan<br />
 JK, (Juli 2011):<br />
Kalimantan Selatan ditetapkan dalam Siaga II ancaman kebakaran hutan dan lahan. Keterbatasan personil dan peralatan, menjadi kendala utama menjaga ratusan ribu hektar belantara di wilayah ini.<br />
     Raungan sirine membahana di tengah pekatnya malam belantara, kawasan Mandiangan, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar. Tiga buah mobil pemadam Fire Jeep, melaju kencang, walau harus melalui jalanan aspal menuju lokasi wisata alam yang sebagian besar dalam kondisi rusak.<br />
     Beberapa saat sebelumnya, brigade pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Manggala Agni) menerima laporan tentang adanya kebakaran hutan di kawasan Tahura Sultan Adam. Sayangnya informasi mengenai kebakaran hutan ini, diterima setelah tiga jam api berkobar melubat pepohonan dan semak belukar.<span id="more-593"></span><br />
     Meski demikian sepuluh orang anggota Manggala Agni dari Daerah Operasi (DAOP) I Tanah Laut, tetap berteguh hati untuk melaksanakan tugas. Beratnya medan dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau menjadi kendala dalam upaya pemadaman.<br />
     Diperlukan waktu satu jam untuk sampai ke lokasi kebakaran. Tak banyak yang bisa dilakukan luas areal kawasan hutan yang terbakar sudah merambah hingga puluhan hektar. Kobaran api baru dapat dipadamkan, menjelang dinihari, setelah brigade pendukung datang serta faktor habisnya belukar yang menjadi “bahan bakar” api.<br />
     “Masalah klasik yang kita hadapi adalah keterbatasan personil, sarana, lokasi kebakaran kerap terjadi di daerah sulit dijangkau, serta ketiadaan sumber air,” ucap Zulkarnaen, Kepala DAOP I Manggala Agni, Tanah Laut.<br />
     Selama ini, luas kawasan hutan Kalsel seluas 1,77 Juta hektar dan ratusan ribu hektar areal penggunaan lain (APL), hanya di awasi dua DAOP yang ada di Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Baru, pertengahan Juli 2011 lalu, Kementerian Kehutanan meresmikan operasional DAOP III yang dipusatkan di kawasan Tahura.<br />
     Padahal idealnya, Kalsel memerlukan dua sampai tiga DAOP tambahan, mengingat luasnya wilayah. Kebakaran hutan yang terjadi kawasan Tahura, masih mengandalkan bantuan brigade Manggala Agni dari daerah cukup jauh, sekitar 40 Kilometer di wilayah kabupaten tetangga Tanah Laut.<br />
     Demikian juga dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah Banua Enam atau wilayah utara kalsel, akan sangat sulit untuk ditanggulangi. Tak terkecuali, areal seputar bandara Syamsuddin Noor, merupakan daerah rawan kebakaran karena merupakan areal lahan pertanian tanah gambut.<br />
     Saat ini, jumlah personil Manggala Agni hanya 180 orang atau masing-masing 60 orang untuk tiap DAOP. Dengan pertimbangan giliran kerja, maka jumlah personil siap (stand by) hanya 30 orang. Para petugas Manggala Agni ini, adalah tenaga kerja kontrak dengan gaji Rp900.000 perbulan.<br />
     Sementara, jumlah armada mobil tanki pemadam (ukuran besar) cuma tiga buah, ditambah sebelas mobil fire jeep. Ditambah, delapan mesin portable, 20 pompa jinjing dan beberapa buah pompa apung.<br />
     Yang cukup ironis adalah, pernyataan dari Kepala UPT Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani yang mengungkapkan dana operasional pengamanan kawasan Tahura Sultan Adam seluas 112.000 hektar termasuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, serta pengamanan illegal logging, kurang dari Rp90 Juta pertahun.</p>
<p>Perda Kebakaran Tidak Jalan<br />
Selain faktor cuaca yang ekstrim, kebakaran hutan dan lahan tidak lepas dari sulitnya menghilangkan budaya membakar dalam kegiatan pembersihan lahan pertanian dan perkebunan.<br />
     “Kita hanya dapat pasrah dan berdoa hujan turun. Karena untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan secara langsung, sangat sulit,” tutur Akhmad Ridhani. Sebenarnya, Kalsel telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 1/2008 tentang pengendalian kebakaran lahan dan hutan yang mengatur tentang sanksi terhadap pelaku pembakaran.<br />
     Bahkan, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan tegas menyatakan larangan (haram) kegiatan pembakaran hutan dan lahan ini. Tetapi apa boleh buat, sejauh ini belum ada pelaku pembakaran hutan dan lahan yang ditangkap, terlebih pemberian sanksi terhadap mereka.<br />
     Zainal Ariffin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, menyebut situasi anomaly iklim berubah kemarau basah, menjadi keuntungan tersendiri karena mampu menekan kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Sepanjang 2011 ini, jumlah titik api terdeksi berdasarkan pantauan Satelit NOAA sebanyak 202 titik api.<br />
     Jumlah ini, jauh lebih sedikit dari kondisi kebakaran hutan dan lahan pada 2006 lalu yang mencapai 8.000 lebih titik api. Hingga kini, luas areal kawasan hutan terbakar termasuk kawasan hutan lindung dan konservasi Tahura Sultan Adam, diperkirakan lebih 400 hektar.<br />
     Tidak hanya bekaran hutan dan lahan, ancaman kebakaran permukiman pun menjadi persoalan tersendiri. Dalam dua bulan terakhir, sudah lebih dari 10 kali kebakaran permukiman dengan kerugian cukup besar. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=593&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sumber Pangan</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/sumber-pangan/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/sumber-pangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Teratai Sumber Pangan Pengganti Beras JK, (Juli 2011): Warga pedalaman rawa, Kalimantan Selatan menyebutnya Talepok jenis panganan yang terbuat dari biji bunga teratai (Nymphaea). Panganan tradisional sebagian besar warga Kabupaten Hulu Sungai Utara ini, dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber pangan pengganti beras. Berbagai jenis panganan lokal seperti apam, bingka, bolu, donat (cincin), puding, gipang, hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=591&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teratai Sumber Pangan Pengganti Beras<br />
 JK, (Juli 2011):<br />
Warga pedalaman rawa, Kalimantan Selatan menyebutnya Talepok jenis panganan yang terbuat dari biji bunga teratai (Nymphaea). Panganan tradisional sebagian besar warga Kabupaten Hulu Sungai Utara ini, dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber pangan pengganti beras.<br />
     Berbagai jenis panganan lokal seperti apam, bingka, bolu, donat (cincin), puding, gipang, hingga jus buah yang terbuat dari bunga teratai tersaji di meja panjang sebuah stan pameran milik Pusat Kajian Makanan Tradisional, Lembaga Penilitian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Aneka panganan tradisional ini, dipamerkan dalam kegiatan pekan pertanian rawa nasional I yang dipusatkan di Balai Penelitian Tanaman Rawa (balitra) Kalsel, Banjarbaru.<span id="more-591"></span><br />
     “Mari silahkan dicoba, kue khas hulu sungai utara,” ucap Rita Khairina, kepada para pengunjung stand pameran. Para pengunjung pun, banyak yang mencicipi aneka kue tradisional talepok ini. Dengan penyajian bentuk dan kemasan yang menarik, kue (wadai) talepok, dinilai tidak kalah dengan panganan sejenis dari bahan beras maupun gandum.<br />
     Rita Khairina yang menjabat Ketua Pusat Kajian Makanan Tradisional ini, mengaku sudah bertahun-tahun melakukan penelitian dan pengembangan tanaman teratai sebagai bahan pangan. Teratai merupakan tanaman yang  tumbuh di permukaan air seperti kolam, sungai dan rawa.<br />
     Tanaman air ini mempunyai ciri, bunga dan daun  keluar dari tangkai berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur. Tangkai teratai terdapat di tengah-tengah daun. Sementara daun teratai berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar.<br />
     Bagi warga pedalaman rawa dan sepanjang daerah aliran sungai di Kalsel, tanaman teratai ini sudah dikenal sebagai sumber makanan secara turun temurun. Tumbuhan teratai tumbuh subur di rawa-rawa dan sungai, seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Tapin dengan luas mencapai 800.000 hektar. “Teratai ini, sebuah sumber pangan yang besar dan murah, serta bisa dijadikan panganan pengganti beras,” terangnya.<br />
     Warga lokal, selama ini memanen buah teratai untuk dikonsumsi baik secara langsung maupun diolah terlebih dahulu menjadi aneka panganan. “Dulu warga terpaksa mengkonsumsi teratai, karena wilayah rawa kerap kali mengalami gagal panen padi,” ujar Siti Khairiyah, Ketua Kelompok Tani Rita Kartika, Desa Hambalau Tengah, Kecamatan Sungai Pandan, Hulu Sungai Utara.<br />
     Kelompok tani yang sudah ada sejak 1972 ini, dalam beberapa tahun terakhir menggeluti pengembangan tanaman teratai menjadi aneka panganan lokal. Saat ini, sebanyak 35 anggota kelompok tani ini, mampu memproduksi aneka panganan lokal dari teratai dan dipasarkan di sekitar wilayah Hulu Sungai Utara.</p>
<p>Gipang Teratai Masuk Rekor MURI<br />
Salah satu yang menarik dari pameran aneka panganan terbuat dari teratai ini adalah, masuknya Gipang raksasa buatan kelompok tani Rita Kartika dalam rekor Museum Rekor Indonesia (Muri). Gipang raksasa berukuran lebar satu meter, setebal setengah meter dan panjang sepuluh meter ini, dicatat sebagai makanan gipang terbesar di Indonesia.<br />
     Teknologi pengembangan tanaman teratai menjadi sumber panganan pengganti beras ini, juga mendapat perhatian dari Menteri Pertanian, Suswono, saat meninjau areal pengembangan tanaman rawa di Balitra, Banjarbaru.<br />
     Tanaman teratai, selain dimanfaatkan sebagai tanaman hias  juga dikenal memiliki khasiat sebagai tanaman obat-obatan tradisional untuk mengobati diare, disentri, keputihan, kanker nasopharynx, demam, insomnia, Hipertensi, muntah darah, mimisan, batuk darah, sakit jantung, Beri-beri, sakit kepala, berak dan kencing darah, anemia hingga ejakulasi dini.<br />
     Menurut penelitian Universitas Lambung Mangkurat, tanaman teratai mengandung karbohidrat, protein dan kalsium yang tinggi, sehingga mampu menjadi sumber pangan bergizi. Namun, sumber pangan ini harus diolah secara benar untuk menghindari serangan penyakit. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=591&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/sumber-pangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Barito Sign</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/barito-sign/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/barito-sign/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[Barito Sign, Sebuah Identitas Budaya JK, (Juli 2011): Pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan Selatan, tahun ini disemarakkan dengan pameran lukisan hasil karya puluhan pelukis dari koleksi pilihan Galeri Nasional Indonesia (GNI), seperti Basuki Abdullah, Otto Djaya hingga Gusti Solihin. Tarian hadrah, sebuah kesenian khas Banjar, menandai pembukaan kegiatan pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=589&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barito Sign, Sebuah Identitas Budaya<br />
 JK, (Juli 2011):<br />
Pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan Selatan, tahun ini disemarakkan dengan pameran lukisan hasil karya puluhan pelukis dari koleksi pilihan Galeri Nasional Indonesia (GNI), seperti Basuki Abdullah, Otto Djaya hingga Gusti Solihin.<br />
     Tarian hadrah, sebuah kesenian khas Banjar, menandai pembukaan kegiatan pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan Selatan dan pameran lukisan dan seni rupa yang disebut Barito Sign. Lenggak lenggok serta gemulainya para penari remaja dan anak-anak dengan pakaian adat banjar, ditambah atraksi pemegang payung hadrah yang berputar-putar memukau para tamu undangan.<br />
     Bunyi gendang dan gamelan musik panting yang mengiringi tarian hadrah membuat suasana siang itu semakin meriah. Hampir bersamaan, lomba merangkai bunga rampai dan membuat tikar purun pun digelar.<span id="more-589"></span><br />
     Sepuluh orang perempuan lanjut usia (lansia), ambil bagian dalam lomba mengayam tikar purun ini. Mereka adalah para perajin tikar purun, dengan pengalaman mengayam tikar sudah puluhan tahun. Dalam waktu kurang dari tiga jam, nenek-nenek ini mampu menyelesaikan tikar purun berukuran satu meter persegi.<br />
     Sementara, lomba membuat bunga rampai diikuti tidak kurang dari 30 wanita yang sehari-harinya memang berprofesi sebagai pembuat bunga rampai dari berbagai penjuru Kota Banjarmasin. “Kegiatan lomba, pemeran dan pagelaran seni budaya ini merupakan even tahunan dalam rangka merayakan ulang tahun Kalsel ke 61,” tutur Noor Hidayat Sultan, Kepala Taman Budaya Kalsel.<br />
     Adapula lomba bertutur (bakisah) hingga lomba lagu-lagu khas banjar. Even pekan kemilau budaya Kalsel ini berlangsung 7-14 Juli 2011. Namun dibalik kemeriahan pekan budaya ini, diakui Hidayat, ada rasa pesimis terhadap perkembangan budaya daerah tersebut.<br />
     Budaya dan kesenian yang menjadi sebuah identitas daerah ini, terancam punah. Hal ini terlihat dari peserta lomba dan pagelaran budaya hanya itu-itu saja dari tahun ke tahun. “Memang pesertanya itu-itu saja, seolah tidak ada regenarasi,” ungkapnya.</p>
<p>Pameran Lukisan dan Seni Rupa<br />
Salah satu even utama dari pekan kemilau budaya seribu sungai kali ini adalah digelarnya pameran lukisan dan seni rupa, karya pilihan Galeri Nasional Indonesia maupun Kalsel.<br />
     Kegiatan yang dibuka Direktur Kesenian, Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Sulistyo Tirtokusumo, ditandai dengan pemotongan bunga rampai ini menampilkan 21 lukisan karya pelukis penting Indonesia. Sebut saja nama-nama seperti Basuki Abdullah, S Sudjojono, Otto Djaja, Nyoman Tusan, Fajar Sidik, Umi Dachlan hingga pelukis nasional asal Kalsel, Gusti Solihin.<br />
     Selain itu, dipamerkan pula 33 karya perupa asal Kalsel. Pameran yang dipusatkan di gedung serba guna Taman Budaya Banjarmasin ini, mendapat perhatian dari masyarakat maupun para pecinta seni.<br />
     “Even bertajuk Barito Sign ini diharapkan mampu memotivasi dan semangat berkarya dan menumbuhkan jaringan seni kontemporer di Kalsel,” ucap Tubagus Andre Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.  Lebih jauh menurutnya, GNI sendiri setiap tahunnya menggelar kegiatan pameran seni keliling sejak 2006 lalu.<br />
     Pada 2006 kegiatan pameran diselenggarakan di Medan dan terakhir pada 2010 di Vietnam. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/589/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=589&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/barito-sign/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Fotografi</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/komunitas-fotografi/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/komunitas-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Menikmati Seni Photografi Photografi adalah perpaduan seni dan keindahan. Di Kalimantan Selatan, para penikmat seni photografi berkumpul dalam wadah Himpunan Pecinta Photografi Banjarmasin (HP2B). Suasana di siring Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pagi diakhir pekan itu tampak ramai. Bukan hanya karena adanya kegiatan rutin masyarakat yang berolahraga dan bersantai (car free day), tetapi kehadiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=587&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menikmati Seni Photografi</p>
<p>Photografi adalah perpaduan seni dan keindahan. Di Kalimantan Selatan, para penikmat seni photografi berkumpul dalam wadah Himpunan Pecinta Photografi Banjarmasin (HP2B).</p>
<p>Suasana di siring Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pagi diakhir pekan itu tampak ramai. Bukan hanya karena adanya kegiatan rutin masyarakat yang berolahraga dan bersantai (car free day), tetapi kehadiran puluhan photografer ikut menyedot perhatian warga.</p>
<p>Terlebih lenggak-lenggok model-model berparas cantik yang tengah melakukan sesi pemotretan membuat suasana pagi menjadi segar. Lensa-lensa kamera berbagai merk, saling beradu mencari moment dari obyek foto.<span id="more-587"></span></p>
<p>Tidak hanya fokus pada kecantikan sang model, berbagai obyek dan momen menarik di sekitar lokasi Sungai Martapura, tak luput dari jepretan kamera.</p>
<p>Puluhan photografer ini tergabung dalam Himpunan Pencinta Photografi Banjarmasin atau disingkat HP2B. “Perkembangan dunia fotografi di Banjarmasin memang luar biasa,” tutur Muhammad Afifuddin, wartawan senior yang kini menjabat ketua komunitas ini.</p>
<p>HP2B terbentuk pada 1 Mei 2009 lalu, dengan visi sebagai wadah berkumpulnya penggemar, penikmat dan pecinta fotografi di Banjarmasin. Serta misi turut berperan serta dalam memajukan seni budaya dan pariwisata daerah melalui fotografi.</p>
<p>Meski baru berumur dua tahun, komunitas ini mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan photografi di Kalsel. Anggota komunitas ini pun terus bertambah hingga mencapai lebih seratus orang.</p>
<p>“Tujuan awal HP2B dibentuk sebagai tempat pembelajaran, silaturahmi dan mengembangkan kecintaan terhadap seni fotografi di Kalimantan Selatan,” jelas Hendra Senjaya, salah seorang photografer senior di komunitas ini.</p>
<p>Ketika HP2B terbentuk memang agak sedikit pesimis, tapi di luar dugaan keanggotaannya terus bertambah. Sudah banyak karya foto para anggota HP2B mampu memenangkan lomba fotografi baik di daerah maupun tingkat nasional.</p>
<p>Foto itu berbicara</p>
<p>Berbagai kegiatan rutin komunitas ini adalah hunting foto dan workshop photografi. Dan di even hunting ataupun workshop tidak jarang HP2B menghadirkan para senior yang sudah mewarnai photografi Tanah Air, seperti Ray Bachtiar, Rarindra Prakarsa dan terakhir Andie Makkawaru.</p>
<p>Karena foto itu berbicara dan Photografi tidak bisa dipisahkan dengan model, landscape, human atau potrait. Photografi bagi mereka adalah selera. Apapun objeknya adalah seni photografi dan tidak terbatas.</p>
<p>Tidak dipungkiri model atau fashion adalah objek yang sangat menarik untuk dieksekusi oleh para photografer. Namun demikian objek landscape, natural, potrait, still life juga menjadi objek favorit teman-teman di HP2B.</p>
<p>Berburu foto tidak sebatas obyek-obyek wisata di daerah seperti Kerbau Rawa dan Pasar Terapung. Tak jarang komunitas ini berburu hingga ke luar daerah, seperti Bali.</p>
<p>Komunitas inipun ternyata mempunyai kepekaan sosial yang terbukti dengan digelarnya berbagai kegiatan aksi sosial membantu pelajar sekolah anak pemulung hingga bantuan bencana alam. Terakhir, para pecinta photo ini menggelar pameran dan penjualan foto dengan tema “Dari Kalsel untuk Banua”.</p>
<p>“Semua dana dari pengunjung /donatur yang terkumpul benar-benar disalurkan langsung diserahkan ke Merapi dan Mentawai dan beberapa daerah yang terkena bencana di Kalimantan Selatan,” ungkap Ananda, anggota HP2B lainnya. (Denny Susanto) </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=587&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/komunitas-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ampih Miskin</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/ampih-miskin/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/ampih-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Mengentaskan Kemiskinan di Daerah Kaya JK, (Juni 2011): Hulu Sungai Selatan, menjadi salah satu kabupaten penyumbang angka kemiskinan tinggi di provinsi kaya sumber daya alam Kalimantan Selatan. Pemerintah Kabupaten setempat, membuat terobosan pengentasan kemiskinan yang disebut Program Ampih Miskin. Siang itu, puluhan warga Desa Padang Batung, Kecamatan Angkinang, Hulu Sungai Selatan, berkumpul di salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=585&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengentaskan Kemiskinan di Daerah Kaya<br />
 JK, (Juni 2011):<br />
Hulu Sungai Selatan, menjadi salah satu kabupaten penyumbang angka kemiskinan tinggi di provinsi kaya sumber daya alam Kalimantan Selatan. Pemerintah Kabupaten setempat, membuat terobosan pengentasan kemiskinan yang disebut Program Ampih Miskin.<br />
     Siang itu, puluhan warga Desa Padang Batung, Kecamatan Angkinang, Hulu Sungai Selatan, berkumpul di salah satu rumah warga yang sehari sebelumnya, dirobohkan. Rumah milik keluarga Ismail,45 tersebut, merupakan rumah tidak layak huni karena hanya berupa bangunan gubuk tua berukuran 3&#215;4 meter dan sudah reot.<br />
     Oleh pemerintah kabupaten setempat, rumah milik keluarga Ismail, akan direhabilitasi yang masuk dalam program pengentasan kemiskinan disebut, Program Ampih Miskin. Selain rumah keluarga Ismail, ada 20 rumah milik keluarga miskin lainnya yang akan direhabilitasi.<span id="more-585"></span><br />
     Dengan bergotong royong, puluhan warga desa terlibat dalam proyek swadaya pembangunan rumah tersebut. Mulai dari pemasangan galam dan kayu ulin sebagai tiang pondasi rumah, hingga pemasangan lantai kayu, dinding serta atap rumah dari seng. Pekerjaan ini, membutuhkan waktu dua sampai tiga hari, hingga siap dihuni kembali oleh pemilik rumah.<br />
     “Rumah-rumah yang direhab ini, merupakan hasil inventarisir perangkat desa setempat dan diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni,” ucap Zulkifli, Kepala Bagian Humas Pemkab Hulu Sungai Selatan.<br />
     Keluarga Ismail, sendiri sehari-harinya adalah buruh tani. Mereka tidak mempunyai tanah garapan, sehingga penghasilan keluarganya hanya mengandalkan upah memanen di sawah tetangganya, dengan penghasilan sangat minim.<br />
     Di Loksado, warga pedalaman kaki pegunungan Meratus ini mendapatkan permodalan untuk usaha beternak unggas (ayam dan burung puyuh) selain, perkebunan karet dan kayu manis.<br />
     Selain membangun rumah layak huni, Program Ampih Miskin yang baru diluncurkan pada 2 Desember 2010 lalu ini, juga berupaya mencari solusi mengatasi kondisi kemiskinan dihadapi warga setempat. Warga ditawarkan permodalan dan usaha, sesuai keinginan mereka, demikian juga dengan jaminan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah.<br />
     “Masalah utama dihadapi kabupaten kami adalah kemiskinan. Melalui program ampih miskin, kami menargetkan pada 2015 mendatang, kemiskinan absolut di wilayahnya kami dapat dituntaskan,” tutur M Sapi’i, Bupati Hulu Sungai Selatan.</p>
<p>Langsung menyentuh masyarakat<br />
Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sesungguhnya adalah daerah kaya dengan potensi sumber daya alam cukup besar seperti pertambangan, kehutanan, wisata alam dan pertanian. Namun, sejauh ini mayoritas masyarakatnya, berprofesi sebagai petani khususnya di lahan rawa lebak, nelayan rawa, perkebunan rakyat dan sebagian pengrajin logam “nagara”.<br />
     Program pengentasan kemiskinan yang digelontorkan pemerintah dalam beberapa dekade terakhir, terbukti belum mampu mengatasi kondisi kemiskinan dialami warga. Dari 212.678 jiwa warga Hulu Sungai Selatan, sebagian besar masuk kategori miskin.<br />
     Bahkan ada 1.637 keluarga, masuk kategori keluarga sangat miskin dan menjadi sasaran program ampih miskin. Program ini, menurut Yusuf Effendi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Hulu Sungai Selatan, merupakan program yang langsung menyentuh masyarakat, sehingga tepat sasaran.<br />
     Betapa tidak, sang bupati pada periode kedua kepemimpinannya ini, rela mendatangi langsung warganya di pelosok untuk mengetahui langsung kondisi kemiskinan dihadapi warga. Warga desa dikumpulkan dibalai desa atau lapangan terbuka untuk merembukkan, kendala dan bagaimana solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.<br />
     Dalam setiap rapat lapangan ini, diikuti seluruh instansi terkait agar ragam masalah bisa langsung ditangani. “Penduduk yang perlu usaha di bidang perikanan ditangani dinas perikanan, mereka yang mau beternak ditangani dinas peternakan dan seterusnya,” tambahnya.<br />
     Hingga bulan ke enam penerapannya, program ini telah menjangkau enam kecamatan dari sebelas kecamatan di Hulu Sungai Selatan. Yaitu Angkinang, Sungai Raya, Loksado, Padang Batung, Daha Utara dan Daha Selatan.<br />
     Sepanjang Desember 2010 lalu, program ini menjangkau pembangunan 30 rumah tidak layak huni dengan dana APBD kabupaten sebesar Rp7,5 Juta tiap rumah, ditambah Rp2 Juta untuk permodalan warga. Pada 2011 ini, ditargetkan pembangunan 341 rumah, melalui dana sharing antara APBD kabupaten, provinsi dan pusat.<br />
     Sedangkan untuk 2012 mendatang, pemkab setempat telah merencanakan pembangunan 350 unit rumah bagi warga miskin. Dengan demikian untuk mengentaskan kemiskinan 1.637 keluarga sangat miskin ini, diperkirakan baru tuntas pada 2015 mendatang.<br />
     Tidak hanya di Hulu Sungai Selatan, program pengentasan kemiskinan serupa juga diterapkan di sejumlah kabupaten di Kalsel. Pemprov Kalsel sendiri mempunyai program yang disebut Gerakan Pembangunan Masyarakat dan Pengentasan Kemiskinan (Gerbangmastaskin), dimana 50 desa secara bergiliran tiap tahunnya mendapatkan bantuan dana pembangunan mencapai Rp150 Juta. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/585/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/585/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=585&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/ampih-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beruang Madu</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/beruang-madu/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/beruang-madu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[Beruang Madu pun Jadi Musuh Utama Masyarakat JK, (Juni 2011) Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah satu satu hewan dilindungi yang hidup di kawasan hutan pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Namun dalam sebulan terakhir, beruang madu pun menjadi musuh utama masyarakat, sehingga dilakukan perburuan besar-besaran. Pagi itu, belasan orang warga desa, berjalan pelan menyusuri jalan setapak meninggalkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=583&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beruang Madu pun Jadi Musuh Utama Masyarakat<br />
 JK, (Juni 2011)<br />
Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah satu satu hewan dilindungi yang hidup di kawasan hutan pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Namun dalam sebulan terakhir, beruang madu pun menjadi musuh utama masyarakat, sehingga dilakukan perburuan besar-besaran.<br />
     Pagi itu, belasan orang warga desa, berjalan pelan menyusuri jalan setapak meninggalkan permukiman mereka menuju kawasan hutan kaki pegunungan Meratus. Mereka adalah warga Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang sehari-harinya bekerja menyadap karet.<br />
     Namun tidak seperti hari-hari biasa, para petani karet ini tidak hanya membawa ember dan alat sadap (toreh), tetapi juga peralatan berburu seperti golok, tombak, bahkan senjata api rakitan (dum-dum). Warga bermaksud berburu beruang madu, sambil bekerja di kebun menyadap karet.<span id="more-583"></span><br />
     “Sudah lebih satu bulan terakhir, warga kami melakukan perburuan beruang madu yang selama ini meresahkan dan kerap menyerang warga,” tutur Abdul Halil, Kepala Desa (Pembakal) Desa Kiram. Belakangan ini, beruang madu menjadi musuh warga sejumlah desa di Kecamatan Karang Intan, menyusul terjadinya kasus beruang madu yang menyerang warga.<br />
     Sepanjang 2011 ini saja, tercatat sudah sepuluh orang warga desa kaki pegunungan Meratus tersebut diserang beruang madu. Tidak ada korban jiwa, tetapi korban serangan beruang madu yang diduga berjenis kelamin jantan itu cukup serius sehingga harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.<br />
     Umumnya, kasus penyerangan beruang madu ini terjadi di lokasi perkebunan karet milik warga yang berdekatan dengan kawasan hutan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam. Terakhir, beruang madu menyerang warga Desa Mandi Kapau, bernama Muslimin saat sedang menyadap karet di kebun miliknya, akhir Juni lalu.<br />
     Muslimin menderita luka cakar cukup parah di kedua lengannya. Kasus penyerangan beruang madu ini, tak urung membuat sebagian warga ketakutan untuk pergi ke kebun mereka.<br />
     “Tidak hanya warga desa kiram, tetapi warga desa sekitarpun ikut resah, sehingga dibuatlah sayembara perburuan beruang madu ini,” ucap Khairil Anwar, Camat Karang Intan. Sedikitnya ada sekitar 8.000 warga yang bermukim di sejumlah desa seperti Desa Kiram, Desa Mandi Kapau, Desa Mandiangin Barat dan Desa Mandiangin Timur.<br />
     Desa-desa ini berada di kaki pegunungan Meratus dan masuk wilayah Tahura Sultan Adam (25 Km dari Kota Banjarbaru). Mayoritas warga desa adalah petani dan penyadap karet, dan sebagian lagi adalah pekerja tambang galian C (batu gunung).<br />
Sayembara Membunuh Beruang Madu<br />
Pihak desa, mengiming-imingi hadiah sebesar Rp3 Juta bagi siapa saja yang dapat membunuh beruang madu yang telah menyerang warga ini. Tidak hanya masyarakat, sebelumnya pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel dan aparat kepolisian setempat pun telah mencoba melakukan perburuan dengan menggunakan senjata dan jebakan.<br />
     Tetapi sejauh ini, upaya perburuan beruang madu ini belum juga membuahkan hasil. Menurut cerita warga, beruang madu yang menyerang warga ini sempat terluka sabetan golok warga saat terjadi penyerangan beberapa waktu lalu.<br />
     Kasus beruang madu yang turun hutan dan menyerang warga ini, juga pernah terjadi pada 1996 silam. Banyak dugaan mengapa hewan dilindungi ini sampai bertindak ganas dan menyerang warga. “Dulu ada beruang yang pernah dibunuh warga, mungkin itu betinanya, sehingga beruang jantan sekarang ini terus berusaha membalas dendam,” ujar Khairil.<br />
     Di sisi lain, sayembara perburuan hewan langka ini, mendapat pertentangan dari kelompok wartawan peduli lingkungan di Kalsel. “Jika membunuh beruang saat dia menyerang warga itu dapat dibenarkan. Tetapi melegalkan perburuan beruang madu, akan mengancam populasi hewan langka tersebut,” tutur Khaidir Rahman, Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia.<br />
     Sementara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Bambang Darsono Adji, mengatakan pihaknya menyetujui aksi warga untuk menangkap beruang madu yang menyerang dan membahayakan keselamatan warga Desa Kiram. “Beruang madu memang hewan dilindungi, tetapi juga dibolehkan untuk membunuhnya apabila membahayakan warga,” ujarnya.<br />
     Kondisi kerusakan lingkungan terutama degradasi hutan akibat masih maraknya penebangan dan alih fungsi kawasan hutan untuk berbagai aktifitas seperti pertambangan dan perkebunan, dinilai menjadi penyebab. “Kerusakan hutan otomotis membuat habitat satwa ikut rusak, sehingga banyak satwa mati,” tambahnya.<br />
     Kawasan hutan konservasi dan pendidikan, Tahura Sultan Adam seluas 120.000 hektar yang membentang di dua kabupaten, Tanah Laut dan Banjar, diperkirakan 40 persennya dalam kondisi rusak. Saat ini populasi beruang madu di hutan Tahura tinggal 12 ekor dan secara keseluruhan, populasi beruang madu di Kalsel hanya 50 ekor dari sebelumnya mencapai lebih 100 ekor.<br />
     Selain beruang madu, beberapa satwa langka khas Kalsel lainnya dalam kondisi terancam punah. Antara lain, Beruang Madu, Owa-owa, Kijang Emas dan Bekantan. “Dalam lima tahun terakhir, terlihat populasi berbagai jenis satwa termasuk satwa langka semakin berkurang bahkan terancam punah,” tambahnya.<br />
     Factor lainnya adalah bencana kebakaran hutan dan masih adanya aksi perburuan satwa langka oleh masyarakat, terus menjadi ancaman bagi keberadaan satwa langka seperti beruang madu. (Denny Susanto) </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/583/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=583&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/beruang-madu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendulangan Intan</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/pendulangan-intan-2/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/pendulangan-intan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Nasib Pendulang Intan Kian Terkubur JK, (Juni 2011): Dari waktu ke waktu produksi Intan dari tambang-tambang konvensional di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan terus menurun. Namun, ribuan warga tetap menggantungkan hidup dan peruntungan mencari intan yang sudah berlangsung turun temurun. Anak-anak kecil dan para penjaja batu permata dan cincin, berlarian mendatangi bus wisata yang mengangkut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=581&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasib Pendulang Intan Kian Terkubur<br />
JK, (Juni 2011): </p>
<p>Dari waktu ke waktu produksi Intan dari tambang-tambang konvensional di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan terus menurun. Namun, ribuan warga tetap menggantungkan hidup dan peruntungan mencari intan yang sudah berlangsung turun temurun.<br />
     Anak-anak kecil dan para penjaja batu permata dan cincin, berlarian mendatangi bus wisata yang mengangkut puluhan wisatawan ke lokasi wisata pendulangan intan Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Mereka berharap para pengunjung yang datang ke lokasi pendulangan ini, membeli batu permata dan cincin untuk oleh-oleh.<br />
     “Murah bu, ini batu asli kecubung,” ucap Riswan,30 seorang penjaja batu permata dan cincin, merayu para wisatawan lokal yang sebagian adalah kelompok wartawan Komunits Jurnalis Pena Hijau Indonesia. Untuk satu cincin bermata kecubung misalnya ditawarkan dengan harga cukup murah Rp30.000, tetapi harga tersebut masih bisa ditawarkan hingga separuhnya.<span id="more-581"></span><br />
     Karena harga yang ditawarkan cukup murah, banyak dari pengunjung membeli cincin maupun bebatuan seperti kecubung, merah delima, safir, jamrud dan lainnya. Riswan adalah satu dari puluhan para penjaja batu permata dan cincin di kawasan pendulangan intan terbesar di Kalsel ini.<br />
     “Menjadi penjaja batu lebih menghasilkan ketimbang, mendulang karena sekarang ini intan sudah sangat sulit di dapat,” tutur Riswan yang sebelumnya adalah seorang pendulang intan. Namun profesi sebagai penjaja batu permata dan cincin inipun, sangat tergantung dari jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi pendulangan yang selama ini hanya ramai saat liburan atau akhir pekan saja.<br />
     Muhiddin,45 seorang pendulang intan yang sudah menggeluti profesi sebagai pendulang lebih dari 20 tahun ini, menuturkan dari waktu ke waktu produksi intan terus menurun. “Mendulang intan ini untung-untungan, apalagi sekarang ini sangat jarang ditemukan intan berkrat besar,” keluhnya.<br />
     Profesi sebagai pendulangan intan ini digeluti tidak kurang dari 2.000 warga di empat wilayah Cempaka yaitu Kelurahan Cempaka, Sunngai Tiung, Bangkal dan Palam. Terdiri dari kelompok pendulangan menggunakan mesin yang diperkirakan mencapai 200 kelompok, ditambah pendulang manual, biasanya mereka yang tidak punya modal, serta penambang pasir dan batu koral. </p>
<p>Alih Profesi<br />
Melihat aktifitas pendulangan, terkadang membuat kita berpikir betapa sulitnya mereka mencari batu permata bernilai tinggi, hanya demi sesuai nasi. Bertapa tidak, setiap harinya para pendulang dengan bertelanjang dada, meraup pasir dari dasar sungai dan dimasukkan ke dalam lenggangan, sebuah alat untuk mendulang berbentuk kerucut terbuat dari kayu.<br />
Pasir yang terkumpul kemudian dilenggang (goyang) di permukaan sungai untuk memisahkan batuan koral dengan pasir.<br />
Di dalam pasir sungai ini, para pendulang berharap ada terselip intan dan batu permata. Proses mendulang intan ini berlangsung dari pagi hingga petang.<br />
     Selain mendulang secara tradisional, proses mencari intan juga dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin pompa, kerap disebut tambang rakyat konvensional. Pekerjaan mendulang dimulai dari menembak lobang galian dengan cara menyemprotkan air lewat pipa.<br />
Materi tanah, pasir bercampur bebatuan yang terkikis di dasar lobang, kemudian disedot menggunakan mesin pompa. Selanjutnya dilakukan penyaringan di sebuah anjungan berbentuk menara yang diletakkan di bibir lobang galian. Material hasil saringan itulah, dikumpulkan dalam sebuah kolam dan kemudian dimulailah kegiatan mendulang.<br />
     Para pendulang intan umumnya bekerja secara berkelompok. Setiap lobang galian dengan kedalaman antara 10-20 meter dikerjakan oleh satu atau dua kelompok yang terdiri dari lima sampai 10 orang.<br />
Biasanya pendulang menganut sistem bagi hasil atau disebut abian. Sistem ini cenderung lebih menguntungkan para pemilik lahan dan pemilik mesin sedot. Sementara pendulang penghasilannya lebih banyak habis untuk membayar hutangnya kepada pemilik modal.<br />
     “Nasib para pendulang intan ini semakin terkubur,” ucap Syamsul Anwar, Lurah Pumpung. Betapa tidak, kebanyakan dari pendulangan sampai kini masih hidup dalam kemiskinan, bahkan untuk hidup sehari-hari penghasilan mereka sudah tergadaikan pada pemilik modal.<br />
     Mahyudin, Camat Cempaka, mengatakan pihaknya terus menerus melakukan sosialisasi untuk menyadarkan masyarakatnya, agar tidak lagi terlalu menggantungkan hidup dari mencari intan. Saat ini, pemerintah daerah telah membuat berbagai pilot project yang diharapkan bisa menjadi profesi pengganti seperti tambak ikan, berkebunan dan bertani, di sekitar lokasi pendulangan intan. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/581/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=581&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/pendulangan-intan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penangkaran Buaya</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/penangkaran-buaya/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/penangkaran-buaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Menyelamatkan Buaya di Penangkaran JK, (Juni 2011): Puluhan buaya di sebuah penangkaran yang sudah gulung tikar tidak terurus dan terancam mati kelaparan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, melakukan penyelamatan 85 ekor buaya Kalimantan dengan mengirimnya ke penangkaran baru. Diperlukan tenaga lima orang pria dewasa untuk mengangkat seekor buaya besar dengan panjang hampir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=579&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyelamatkan Buaya di Penangkaran<br />
 JK, (Juni 2011):<br />
Puluhan buaya di sebuah penangkaran yang sudah gulung tikar tidak terurus dan terancam mati kelaparan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, melakukan penyelamatan 85 ekor buaya Kalimantan dengan mengirimnya ke penangkaran baru.<br />
     Diperlukan tenaga lima orang pria dewasa untuk mengangkat seekor buaya besar dengan panjang hampir empat meter, dari dalam kolam penangkaran ke daratan. Beberapa saat sebelumnya, para pekerja penangkaran, dibantu petugas BKSDA Kalsel dan tiga orang pawang buaya yang khusus didatangkan dari Tangerang, Jawa Barat harus berjuang keras menaklukkan perlawanan buaya.<span id="more-579"></span><br />
     Selasa (14/6), BKSDA Kalsel, melakukan evakuasi 40 ekor buaya dari 85 ekor buaya yang ada di penangkaran milik perusahaan PT Alas Watu Utama. Evakuasi puluhan buaya yang sudah berumur lebih dari 15 tahun ini, dikarenakan perusahaan penangkaran sudah gulung tikar, imbas dari kolapsnya perusahaan perkayuan PT Daya Sakti Utama, induk perusahaan PT AWU.<br />
     Penangkaran milik PT AWU ini merupakan satu-satunya penangkaran buaya di Kalsel yang pernah berjaya dan menembus pasar ekspor kulit buaya di era 1990an hingga 2000. Pada 2008 perusahaan ini dinyatakan kolaps dan ijin penangkarannya dicabut, dan diambil alih BKSDA.<br />
     “Proses evakuasi buaya ini tidaklah mudah, karena baru pertama kali kita lakukan,” tutur Bambang Darsono Adji, Kepala BKSDA Kalsel.<br />
     Puluhan buaya tua di penangkaran yang berlokasi di Desa Mekatani, Kecamatan Guntung Manggis, Kota Banjarbaru ini sejak pagi diberi makan ratusan kilogram daging kambing, sapi dan ayam. Dalam kondisi kenyang, barulah sang pawang bekerja menjinakkan buaya.<br />
     Di sini kesigapan para pekerja penangkaran yang membantu sang pawang sangat diperlukan. Peralatan penakluk buaya seperti karung, tali dan sengatan listrik pun dipergunakan.<br />
     Buaya yang berada di dalam kolam ditarik atau dipancing ke daratan dan kemudian disergap. Diperlukan keberanian, keterampilan dan pengalaman untuk menaklukkan binatang buas ini. Dengan cekatan menduduki punggung buaya dan mengikat moncong buaya dengan seutas tali.<br />
     Dengan moncong terikat dan keempat kaki buaya yang ditarik ke belakang, maka sang buaya pun tidak berkutik. Selanjutnya adalah proses pembiusan dan barulah buaya ditempatkan di dalam peti untuk kemudian siap dikirim ke lokasi penangkaran baru.<br />
     Diperlukan waktu 4-5 jam untuk menaklukkan 40 ekor buaya di penangkaran ini. Pihak BKSDA sendiri harus mempersiapkan 40 peti terbuat dari kayu berukuran panjang empat meter dan lebar hampir satu meter, untuk mengangkut buaya-buaya ini ke lokasi penampungan baru.<br />
     Dengan menggunakan dua buah truk fuso, buaya-buaya ini akan dikirim ke penangkaran buaya baru milik sebuah perusahaan tambang PT Jhonlin di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu. </p>
<p>Milik Negara<br />
Proses pelepasan 40 ekor buaya ke lokasi penangkaran baru di Batulicin ini, dipimpin langsung Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan, Darori dan disaksikan Gubernur Kalsel, Rudy Arifin.<br />
     “Meski kita titipkan ke penangkaran swasta, tetapi buaya-buaya ini statusnya milik negara dan dilindungi,” ungkap Sonny Partono, Direktur Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Kementerian Kehutanan. Buaya-buaya ini akan dijadikan induk untuk budidaya buaya untuk keperluan bisnis.<br />
     Selain 40 ekor buaya tua milik PT AWU, Banjarbaru yang dikirim ke penangkaran PT Jhonlin, Batulicin, 45 ekor buaya lain tersisa direncanakan akan dikirim ke penangkaran buaya di Tangerang. Pemeliharaan buaya menjadi tanggung jawab perusahaan, dengan kesepakatan hasil pembiakan menjadi hak perusahaan penangkaran.<br />
     Bisnis peternakan buaya ini, sebenarnya cukup menjanjikan. Mulai dari kulit buaya yang berharga tinggi, hingga daging serta tangkur buaya memiliki pangsa pasar sangat bagus. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/579/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=579&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/penangkaran-buaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arsip Daerah</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/arsip-daerah/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/arsip-daerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Meretas Sejarah Melalui Arsip Catatan sejarah dapat terekam dari kumpulan arsip. Potret Kalimantan Selatan tempo dulu, tersimpan rapih di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Deretan panjang foto-foto menghiasi koridor di depan ruang serbaguna sebuah Hotel di Banjarmasin. Puluhan foto hitam putih berukuran 35&#215;25 Cm yang dipajang, menunjukkan bahwa peristiwa atau obyek foto berasal dari masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=577&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meretas Sejarah Melalui Arsip</p>
<p>Catatan sejarah dapat terekam dari kumpulan arsip. Potret Kalimantan Selatan tempo dulu, tersimpan rapih di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).</p>
<p>     Deretan panjang foto-foto menghiasi koridor di depan ruang serbaguna sebuah Hotel di Banjarmasin. Puluhan foto hitam putih berukuran 35&#215;25 Cm yang dipajang, menunjukkan bahwa peristiwa atau obyek foto berasal dari masa lalu.</p>
<p>     Penyajian foto-foto ini merupakan rangkaian kegiatan pameran arsip, bersamaan dengan digelarnya Seminar Nasional Aktualisasi Fungsi Arsip Sebagai Simpul Integrasi Nasional dalam Pembangunan Karakter Bangsa di Banjarmasin, 8-9 Juni 2011.<span id="more-577"></span></p>
<p>     Para pengunjung hotel dan peserta seminar pun, terlihat sangat antusias menyaksikan pameran yang menyajikan potret Kalsel tempo dulu ini. “Pameran ini cukup bagus, saya jadi tahu bagaimana kondisi Banjarmasin dan Kalsel masa lalu,” tutur Eny Sulistiowaty, salah seorang pengunjung pameran.</p>
<p>     Berbagai foto yang dipamerkan mulai dari foto Tumenggung Suria Kesumo Renggo, seorang penguasa atau kepala daerah pada era 1930. Ada pula foto bersama para penguasa daerah pribumi (muspida) yang ada pada jaman kemerdekaan.</p>
<p>     Foto pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta di lapangan Merdeka, Banjarmasin pada 1950. Lapangan ini kini dikenal dengan lapangan 17 Mei dan berubah menjadi sebuah stadion sepakbola.</p>
<p>     Tak ketinggalan foto kegiatan rapat raksasa, persiapan kunjungan Presiden RI pertama, Soekarno ke Banjarmasin pada 1950. Adapula kunjungan Komandan Keamanan RIS, Sultan Hamengkubuwono IX yang diabadikan pada 11 September 1952. Hingga kunjungan Presiden Soekarno ke Banjarmasin.</p>
<p>     Foto-foto yang disajikan kualitasnya masih bagus, walau hanya dalam gambar hitam putih. Selain foto peristiwa adapula foto-foto dengan obyek diam dan landscape, seperti bangunan Mesjid pertama di Kalsel dan suasana penambangan (pendulangan) emas dan intan konvensional di kawasan Cempaka, Kota Banjarbaru pada 1950 silam.</p>
<p>     Sampai sekarang aktifitas pendulangan intan ini masih terus berlangsung, bahkan menjadi obyek wisata yang unik, meski dari sisi lingkungan aktifitas ini sangatlah merusak.</p>
<p>Pada bagian lain, suasana pasar terapung jaman dulu, terlihat sangat ramai. Namun akibat pembangunan dan bermunculannya pasar-pasar modern, membuat keberadaan pasar terapung semakin berkurang dan terancam hilang.</p>
<p>     Beberapa foto juga menampilkan sesuatu yang kini sudah hilang akibat perkembangan jaman. Seperti keberadaan Universitas Bung Karno, Banjarmasin 1965, aktifitas angkutan batubara menggunakan rel kereta api di Pulau Laut, Kotabaru 1930.</p>
<p>     Pendaratan pertama pesawat di landasan Ulin KM 27, kini berubah menjadi Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Hingga bangunan Bioskop pertama bernama Orion, 1940.</p>
<p>Saat ini di Banjarmasin hanya ada satu bioskop 21 yang baru beberapa tahun dibangun. Beberapa bangunan bioskop hangus terbakar akibat kerusuhan dan sebagian tergusur akibat pengaruh modernisasi.</p>
<p>      Prof Dr Singgih Tri Sulistyono dalam makalahnya tentang kearsipan, menyebutkan arsip adalah sekumpulan catatan sejarah dan tempat penyimpanan yang berisi dokumen-dokumen. Dari sisi esensi kegunaannya, arsip dipandang sebagai memori aktif bagi sebuah komunitas dan organisasi.</p>
<p>     “Secara singkat arsip merupakan rekaman peristiwa masa lampau yang tidak hanya dalam bentuk tertulis, tetapi berbagai bentuk media sesuai dengan perkembangan teknologi,” tuturnya. Dan arsip berhubungan erat dengan sejarah.</p>
<p>     “Arsip ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan arsip kita akan mengetahui sejarah perjalanan kita,” ungkap Muhammad Hawari, Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalsel. Sejumlah arsip sejarah kalsel justru berada di Negara luar seperti Belanda. (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/577/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=577&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/arsip-daerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festival Budaya</title>
		<link>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/festival-budaya/</link>
		<comments>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/festival-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dennymedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dennymedia.wordpress.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Festival Budaya Pasar Terapung JK, (Mei 2011): Mengunjungi seluruh obyek wisata dalam waktu singkat adalah suatu hal yang sulit bagi pelancong. Pemerintah daerah di Kalimantan Selatan menyiasatinya dengan mengumpulkan aneka pesona daerah dalam Festival Budaya dan Pasar Terapung. Walau belum ada jadwal yang jelas, namun penyelenggaraan even tahunan Festival Budaya Pasar Terapung di Kalsel, setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=575&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Festival Budaya Pasar Terapung<br />
 JK, (Mei 2011):<br />
Mengunjungi seluruh obyek wisata dalam waktu singkat adalah suatu hal yang sulit bagi pelancong. Pemerintah daerah di Kalimantan Selatan menyiasatinya dengan mengumpulkan aneka pesona daerah dalam Festival Budaya dan Pasar Terapung.<br />
     Walau belum ada jadwal yang jelas, namun penyelenggaraan even tahunan Festival Budaya Pasar Terapung di Kalsel, setiap tahunnya selalu diadakan pada penghujung tahun. Tepian Sungai Martapura yang membelah pusat Kota Banjarmasin, merupakan pusat penyelenggaraan kegiatan.<br />
     Sungai yang menjadi etalase utama wajah ibukota provinsi, dengan bangunan talut (siring) di kedua belah sisi sungai, menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ditambah, megahnya bangunan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, mesjid terbesar di Kalsel.<span id="more-575"></span><br />
     “Festival budaya pasar terapung, memang merupakan even tahunan dalam rangka mensukseskan kepariwisataan di Kalsel,” tutur Mohandas, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel.<br />
     Dalam gelaran festival yang menampilkan aneka budaya dan eksotisme pasar terapung mampu menyedot, puluhan ribu warga dari berbagai penjuru kota, termasuk wisatawan luar daerah dan mancanegara datang menyaksikan. Saat malam menjelang jalan-jalan di pusat Kota Banjarmasin mengalami kemacetan karena serbuan warga untuk menyaksikan keindahan perahu hias dan tanglong malam hari.<br />
     Puluhan jukung, dihias dan bagian atasnya “disulap” menjadi berbagai bentuk replika binatang seperti naga, buaya serta bentuk lain berupa rumah adat banjar, mesjid, beduk, orang-orangan dan sebagainya. Lampu-lampu tanglong ikut menghiasi jukung peserta festival, sehingga suasana Sungai Martapura yang gelap berubah menjadi gemerlap.<br />
     Tak ketinggalan beberapa atraksi seperti tari-tarian daerah yang ditampil di atas perahu hias. Hingga tengah malam, warga tidak bergeser dari tepi siring Sungai Martapura menyaksikan tontotan gratis ini.<br />
     Pada siang hari, jukung-jukung hias itu hilir mudik di sungai sambil memamerkan keindahan masing-masing. Dan pada malam hari jukung-jukung itu akan menjadi lebih indah dengan lampu hias (tanglong)  berwarna warni.<br />
     Tidak itu saja, disiang hari panitia festival juga menyuguhkan keunikan pasar terapung yang cukup terkenal di tanah air, bahkan mancanegara. Puluhan pedagang menggunakan jukung ambil bagian di pasar terapung buatan di Sungai Martapura dimana puluhan pedagang pasar terapung yang biasa berdagang di lokasi pasar terapung Kuin, Banjarmasin dan Lokbaintan, Banjar ikut meramaikan festival budaya.<br />
     Pasar terapung di Kalsel ini, disebut-sebut lebih eksotik dibanding pasar terapung di negara tetangga Thailand. Di sini, para pengunjung festival dapat membeli aneka buah-buah dan hasil kebun warga dari pedalaman, termasuk menyantap kuliner khas Banjar di atas perahu.<br />
     Di darat, tepatnya di sepanjang tepi sungai, aneka kuliner khas banjar juga disajikan. Ada Soto Banjar, Ketupat Kandangan, aneka Ikan Panggang (pais), Nasi Kuning dan Lontong, dan puluhan  jenis kue (wadai) khas banjar. Beberapa jenis panganan, tergolong langka.<br />
     Tak ketinggalan, anjungan pameran produk unggulan dari 13 kabupaten/kota yang disebut “Kampong Banjar”. Atraksi budaya dan kesenian, seperti Madihin, tari-tarian, budaya suku banjar dan dayak, permainan tradisional, lagu-lagu khas banjar hingga parade busana khas kain sasirangan.<br />
      Diakui atau tidak, meski memiliki potensi wisata yang menarik seperti pasar terapung di Banjarmasin , pendulangan intan, Banjarbaru dan wisata alam arung jeram di Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalsel bukanlah daerah andalan wisata tanah air.<br />
Pariwisata Kalsel masih kalah jauh dibandingkan Bali dan Jogyakarta, akibat minimnya pengembangan infrastruktur kepariwisataan daerah.  (Denny Susanto)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dennymedia.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dennymedia.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dennymedia.wordpress.com&amp;blog=6404575&amp;post=575&amp;subd=dennymedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dennymedia.wordpress.com/2011/07/18/festival-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0476ae231e533f0e9b54f8a7a3e5056c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dennymedia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
