Kebakaran Hutan

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Menjaga Belantara di Tengah Keterbatasan
JK, (Juli 2011):
Kalimantan Selatan ditetapkan dalam Siaga II ancaman kebakaran hutan dan lahan. Keterbatasan personil dan peralatan, menjadi kendala utama menjaga ratusan ribu hektar belantara di wilayah ini.
Raungan sirine membahana di tengah pekatnya malam belantara, kawasan Mandiangan, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar. Tiga buah mobil pemadam Fire Jeep, melaju kencang, walau harus melalui jalanan aspal menuju lokasi wisata alam yang sebagian besar dalam kondisi rusak.
Beberapa saat sebelumnya, brigade pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Manggala Agni) menerima laporan tentang adanya kebakaran hutan di kawasan Tahura Sultan Adam. Sayangnya informasi mengenai kebakaran hutan ini, diterima setelah tiga jam api berkobar melubat pepohonan dan semak belukar. Lanjutkan membaca ‘Kebakaran Hutan’

Sumber Pangan

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Teratai Sumber Pangan Pengganti Beras
JK, (Juli 2011):
Warga pedalaman rawa, Kalimantan Selatan menyebutnya Talepok jenis panganan yang terbuat dari biji bunga teratai (Nymphaea). Panganan tradisional sebagian besar warga Kabupaten Hulu Sungai Utara ini, dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber pangan pengganti beras.
Berbagai jenis panganan lokal seperti apam, bingka, bolu, donat (cincin), puding, gipang, hingga jus buah yang terbuat dari bunga teratai tersaji di meja panjang sebuah stan pameran milik Pusat Kajian Makanan Tradisional, Lembaga Penilitian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Aneka panganan tradisional ini, dipamerkan dalam kegiatan pekan pertanian rawa nasional I yang dipusatkan di Balai Penelitian Tanaman Rawa (balitra) Kalsel, Banjarbaru. Lanjutkan membaca ‘Sumber Pangan’

Barito Sign

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Barito Sign, Sebuah Identitas Budaya
JK, (Juli 2011):
Pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan Selatan, tahun ini disemarakkan dengan pameran lukisan hasil karya puluhan pelukis dari koleksi pilihan Galeri Nasional Indonesia (GNI), seperti Basuki Abdullah, Otto Djaya hingga Gusti Solihin.
Tarian hadrah, sebuah kesenian khas Banjar, menandai pembukaan kegiatan pekan kemilau budaya seribu sungai Kalimantan Selatan dan pameran lukisan dan seni rupa yang disebut Barito Sign. Lenggak lenggok serta gemulainya para penari remaja dan anak-anak dengan pakaian adat banjar, ditambah atraksi pemegang payung hadrah yang berputar-putar memukau para tamu undangan.
Bunyi gendang dan gamelan musik panting yang mengiringi tarian hadrah membuat suasana siang itu semakin meriah. Hampir bersamaan, lomba merangkai bunga rampai dan membuat tikar purun pun digelar. Lanjutkan membaca ‘Barito Sign’

Komunitas Fotografi

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Menikmati Seni Photografi

Photografi adalah perpaduan seni dan keindahan. Di Kalimantan Selatan, para penikmat seni photografi berkumpul dalam wadah Himpunan Pecinta Photografi Banjarmasin (HP2B).

Suasana di siring Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pagi diakhir pekan itu tampak ramai. Bukan hanya karena adanya kegiatan rutin masyarakat yang berolahraga dan bersantai (car free day), tetapi kehadiran puluhan photografer ikut menyedot perhatian warga.

Terlebih lenggak-lenggok model-model berparas cantik yang tengah melakukan sesi pemotretan membuat suasana pagi menjadi segar. Lensa-lensa kamera berbagai merk, saling beradu mencari moment dari obyek foto. Lanjutkan membaca ‘Komunitas Fotografi’

Ampih Miskin

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengentaskan Kemiskinan di Daerah Kaya
JK, (Juni 2011):
Hulu Sungai Selatan, menjadi salah satu kabupaten penyumbang angka kemiskinan tinggi di provinsi kaya sumber daya alam Kalimantan Selatan. Pemerintah Kabupaten setempat, membuat terobosan pengentasan kemiskinan yang disebut Program Ampih Miskin.
Siang itu, puluhan warga Desa Padang Batung, Kecamatan Angkinang, Hulu Sungai Selatan, berkumpul di salah satu rumah warga yang sehari sebelumnya, dirobohkan. Rumah milik keluarga Ismail,45 tersebut, merupakan rumah tidak layak huni karena hanya berupa bangunan gubuk tua berukuran 3×4 meter dan sudah reot.
Oleh pemerintah kabupaten setempat, rumah milik keluarga Ismail, akan direhabilitasi yang masuk dalam program pengentasan kemiskinan disebut, Program Ampih Miskin. Selain rumah keluarga Ismail, ada 20 rumah milik keluarga miskin lainnya yang akan direhabilitasi. Lanjutkan membaca ‘Ampih Miskin’

Beruang Madu

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Beruang Madu pun Jadi Musuh Utama Masyarakat
JK, (Juni 2011)
Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah satu satu hewan dilindungi yang hidup di kawasan hutan pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Namun dalam sebulan terakhir, beruang madu pun menjadi musuh utama masyarakat, sehingga dilakukan perburuan besar-besaran.
Pagi itu, belasan orang warga desa, berjalan pelan menyusuri jalan setapak meninggalkan permukiman mereka menuju kawasan hutan kaki pegunungan Meratus. Mereka adalah warga Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang sehari-harinya bekerja menyadap karet.
Namun tidak seperti hari-hari biasa, para petani karet ini tidak hanya membawa ember dan alat sadap (toreh), tetapi juga peralatan berburu seperti golok, tombak, bahkan senjata api rakitan (dum-dum). Warga bermaksud berburu beruang madu, sambil bekerja di kebun menyadap karet. Lanjutkan membaca ‘Beruang Madu’

Pendulangan Intan

•Juli 18, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Nasib Pendulang Intan Kian Terkubur
JK, (Juni 2011):

Dari waktu ke waktu produksi Intan dari tambang-tambang konvensional di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan terus menurun. Namun, ribuan warga tetap menggantungkan hidup dan peruntungan mencari intan yang sudah berlangsung turun temurun.
Anak-anak kecil dan para penjaja batu permata dan cincin, berlarian mendatangi bus wisata yang mengangkut puluhan wisatawan ke lokasi wisata pendulangan intan Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Mereka berharap para pengunjung yang datang ke lokasi pendulangan ini, membeli batu permata dan cincin untuk oleh-oleh.
“Murah bu, ini batu asli kecubung,” ucap Riswan,30 seorang penjaja batu permata dan cincin, merayu para wisatawan lokal yang sebagian adalah kelompok wartawan Komunits Jurnalis Pena Hijau Indonesia. Untuk satu cincin bermata kecubung misalnya ditawarkan dengan harga cukup murah Rp30.000, tetapi harga tersebut masih bisa ditawarkan hingga separuhnya. Lanjutkan membaca ‘Pendulangan Intan’