Feature

Pasar Terapung Nasib Mu Kian Mengapung
BANJARMASIN, (MI):
Rukayah, berusaha kuat mempertahankan jukung (perahu) yang dinaikinya agar tidak terbalik ketika sebuah perahu motor (klotok) melintas di dekatnya. Klotok yang membawa sejumlah wisatawan domestik itu melaju cukup kencang sehingga menciptakan gelombang besar di permukaan sungai Barito.
Agar tidak terbalik, perempuan setengah baya itu terpaksa merapatkan jukungnya dan berpegangan ke jukung lain yang ada di sekitar. Suasana pasar terapung di Muara Kuin, Banjarmasin , Kalimantan Selatan pagi itu, terlihat sepi.
Meski hari masih pagi, jumlah perahu yang memadati lokasi “ikon wisata” daerah ini tidak sebanyak hari-hari biasa. Hasil panenan jeruk dan pisang yang dibawanya dari kebun rakyat di Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala belum laku terjual.
Musim penghujan yang masih berlangsung sejak beberapa waktu terakhir, membuat jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi pasar terapung ikut menurun. Kebanyakan wisatawan yang datang hanya untuk melihat-lihat sisa-sisa keeksotisan pasar terapung.
“Sekarang ini jarang pembeli yang datang. Biasanya dagangan kami jual kepada pedagang lain yang kemudian dijual kembali,” tutur Rukayah, perempuan asli suku Banjar yang tidak terlalu pasih berbahasa Indonesia ini.
Pasar terapung, nasib mu kian mengapung. Sejak beberapa tahun belakangan ini, keberadaan pasar terapung yang menjadi asset wisata andalan Kalsel semakin terkikis. Transaksi perdagangan di atas permukaan sungai yang menjadi budaya lokal itu, tidak lagi ramai.
Bihman Mulyansyah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, menyebutkan sebelumnya jumlah pedagang berperahu di pasar terapung mencapai 300 pedagang. Tetapi kini jumlah pedagang di pasar Terapung, tersisa puluhan pedagang saja. Pesona pasar terapung yang digembar gemborkan lebih menarik dari floating market di negara tetangga Thailand ini, berangsur punah.
Modernisasi, dinilai menjadi penyebab pudarnya pesona pasar terapung. “Dulu, ketika jalur transportasi darat belum ada, sungai merupakan sarana transportasi utama masyarakat Kalsel. Kala itu, pasar terapung ikut berkembang pesat,” kata Bihman.
Aneka hasil pertanian dan perkebunan diangkut melalui jalur sungai serta diperdagangkan, juga di atas sungai. Bahkan transaksi dalam perdagangan suku banjar dikenal system barter (pertukaran). Namun, karena perkembangan jaman lambat laun keberadaan sungai semakin terpinggirkan.
Seiring dengan itu, keberadaan pasar terapungpun ikut terimbas akibat bencana banjir yang merusakkan areal pertanian warga. Selain Banjarmasin, lokasi lain pasar terapung di Kalsel ada di Lokbaintan, Kabupaten Banjar.
Pasar terapung Lokbaintan ini masih cukup alami dan sesungguhnya cukup memberikan daya tarik pariwisata. Karena lokasinya yang jauh dan sulit dijangkau, pasar terapung Lokbaintan, kurang dikenal.
Saat ini, pemerintah daerah Kalsel tengah berupaya menghidupkan kembali dunia kepariwisataan di wilayah tersebut. Salah satunya adalah melakukan pembenahan terhadap aset wisata sungai, pasar terapung yang merupakan ikon pariwisata Kalsel.
Seiring dengan pencanangan tahun kunjungan wisata Kalsel 2009, pemerintah daerah setempat mulai melakukan berbagai upaya pembenahan aset-aset wisata layak jual di daerah itu. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 4, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: