Liku-liku Distribusi Batubara

Preman Berseragam Marak di Jalur Angkutan Batubara
 
Beberapa waktu terakhir, pihak kepolisian gencar memburu para preman yang mangkal di lokasi terminal, pasar hingga di sepanjang jalur angkutan batubara di Kalimantan Selatan. Sayangnya polisi hanya menjamah preman kelas teri, namun oknum-oknum preman berseragam yang keberadaannya cukup meresahkan seolah tidak tersentuh.
     Iring-iringan armada pengangkut hasil tambang batubara, terpaksa mengurangi kecepatannya ketika memasuki ruas Jalan Soebardjo, Lingkar Selatan menuju kawasan pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Malam itu, sekitar pukul 22.00 Wita merupakan jam-jam padat antrian angkutan emas hitam menuju pelabuhan khusus batubara.
     Ruas jalan dengan lebar delapan meter itu, menjadi sesak dijejali truk batubara hingga empat lapis dan hanya menyisakan sedikit bahu jalan bagi truk kosong berlawanan arah. Kondisi ini menciptakan kemacetan yang luar biasa sejak sore hingga pagi hari.
     Tidak lama berselang, sebuah sepeda motor yang tumpangi dua orang berseragam polisi bersenjata lengkap muncul dari sebuah pos pantau di perempatan arah pelabuhan Trisakti. Sembari mengacungkan pentungan (hand light), dua oknum polisi ini menghampiri para sopir batubara karena dianggap menyerobot jalan dan melanggar aturan.
     Tiba-tiba, “ Lima ribu,” bentak oknum tersebut dengan pentungan mengarah ke wajah sopir. Sang sopir tidak lagi kaget, karena “ritual” ini dialaminya setiap kali melintas di wilayah tersebut selama bertahun-tahun.
     Uang lima ribu rupiah yang diserahkan sopir, langsung dimasukkan dalam sebuah tas kecil. Dua oknum petugas yang melakukan praktek premanisme inipun kemudian beralih ke truk lain di iringan belakang, demikian seterusnya.
     Aksi “polisi lima ribu” begitu para sopir menyebutnya ini sudah berlangsung lama. Meski sangat meresahkan, namun para sopir tidak dapat berbuat banyak. Terkadang muncul juga sejumlah oknum petugas menggunakan kendaraan unit reaksi cepat (URC), juga mobil patroli satuan lalu lintas melakukan praktek serupa, dengan alasan ingin menilang para sopir.
     “Mau bagaimana lagi mas, kami terpaksa memberi uang kepada oknum tersebut,” ungkap Hendarto salah seorang sopir yang mengangkut batubara dari lokasi tambang di Kabupaten Tapin. Ironisnya, praktek premanisme berupa pungli ini oleh oknum petugas ini, seolah tidak tersentuh.
     Para sopir batubara menjadi sasaran empuk pemerasan. Menurut pengakuan sejumlah sopir, mereka harus menyediakan uang pecahan seribu sampai lima puluh ribu rupiah, dengan total mencapai Rp 300.000 sebagai uang taktis sekali jalan. Mulai dari mulut tambang (stockpile) dari wilayah banua enam, sampai ke pelsus di Banjarmasin ada puluhan pos pungutan dilewati.
     Mulai dari pungutan sukarela bagi pembangunan tempat ibadah, pos resmi yang dijaga aparat hingga pungutan liar oleh warga maupun oknum petugas. Dengan upah angkut sebesar Rp 50.000 perton dan uang jalan sebesar Rp 600.000, hanya tersisa Rp 100.000-Rp 150.000 yang bisa dibawa pulang sopir ke rumah.
     Sekarang ini, sekali jalan (satu rit) memerlukan waktu dua sampai tiga hari, akibat banyaknya truk pengangkut batubara yang mencapai 1.500 buah per hari.
 
Penertiban setengah hati
Beberapa waktu lalu, pihak kepolisian kota besar banjarmasin , melakukan razia para preman portal di sepanjang jalur angkutan batubara ini. Namun, razia tersebut dinilai setengah hati, karena yang ditangkap hanya preman kelas teri.
     Para preman yang merupakan warga permukiman di sepanjang lintas angkutan batubara, mengambil jatah Rp 1.000 dari para sopir untuk jasa pengaturan antrian. “Yang dilakukan polisi justru merampas dan setengah memaksa sopir,” kata Utuh, salah seorang preman portal di sekitar pelsus Pelambuhan, Banjarmasin Barat.
     Terlebih hasil pungutan resmi dari pos terpadu “4000” Basirih, pihak Polsek Banjarmasin Selatan dan Barat setiap malamnya telah mendapatkan jatah Rp 200.000, ditambah jatah petugas Rp 80.000. Bagi-bagi uang debu dan uang keamanan bisnis batubara ini, juga merambah warga RT dan kelurahan di sekitar pelsus.
     Malam mulai berganti fajar, aksi premanisme belum berakhir, ratusan truk yang kesiangan dan tidak diperbolehkan masuk pelsus harus membayar Rp 20.000 lagi untuk biaya parker menunggu antrian masuk ke pelsus. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 6, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: