Industri Kayu

Masa Depan Suram Buruh Kayu Kalsel

BANJARMASIN, (JK):
Di teras sebuah rumah kayu di kawasan padat penduduk, Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Junaidi,39 terlihat sedang asyik mengamati halaman koran harian lokal pada rubrik lowongan pekerjaan. Pagi itu, seperti hari-hari biasanya sejak tiga bulan terakhir, Junaidi hanya menghabiskan waktu pagi hingga menjelang siang, dengan membaca koran sembari menyantap beberapa potong kue.
Kini Junaidi, menjadi pengangguran setelah sejak Juni 2008 lalu, perusahaan kayu tempat ia bekerja PT Hendratna Plywood, Banjarmasin berhenti beroperasi. Salah satu perusahaan perkayuan terbesar di Kalimantan Selatan itu, terpuruk akibat berbagai masalah keuangan dan keterbatasan pasokan bahan baku kayu.
Bagi Junaidi yang sudah bekerja di perusahaan itu selama empat tahun sebagai karyawan bagian pergudangan, berhenti beroperasinya perusahaan membuat ia dan keluarganya terpukul. Betapa tidak Junaidi, merupakan tulang punggung penopang perekonomian keluarga yang harus menghidupi isteri, dua orang anaknya juga ibu mertuanya.
Anak sulungnya, kini berusia 6 tahun dan harus masuk sekolah dengan konsekuensi biaya cukup besar harus dikeluarkan. Meski terpaksa bersekolah di SDN kelas bawah, tapi Junaidi juga harus mengeluarkan biaya masuk dan pembelian seragam sekolah hingga empat ratusan ribu rupiah.
Sedangkan ibu mertuanya yang sudah berumur 65 tahun, kini sering sakit-sakitan. Sedangkan Ruwaidah, sang isteri yang sebelumnya hanya bertindak sebagai ibu rumah tangga mengurus anak-anak, mau tidak mau turun tangan untuk menyelamatkan perekonomian keluarga.
Ruwaidah,30 rela setiap bagi mengambil upahan menjajakan kue (wadai) keliling. “Sekarang tidak ada penghasilan lagi, kecuali dari berjualan kue dengan penghasilan sekitar Rp 20.000,” kata Junaidi lirih.
Sebagai seorang kepala rumah tangga, menurut Junaidi dirinya sangat ingin dapat kembali bekerja. Sayangnya, sekarang ini mencari lowongan pekerjaan dengan mengandalkan ijazah SMA yang dimilikinya sangat sulit. Bahkan sebuah sepeda motor miliknya hasil jerih payah bekerja di perusahaan kayu, sudah dijual dengan harga Rp 6 Juta untuk mencukupi keperluan sehari-hari.
Rasa keputusasaan menghadapi masa depan yang suram, menggelayuti diri Junaidi. Tidak hanya Junaidi, ada 2.100 orang pekerja PT Hendratna Plywood kini tidak bekerja, karena perusahaan tersebut sudah tutup. Para pekerjapun kini menuntut agar pihak perusahaan membayar tunggakan gaji mereka selama tiga bulan sejak Juni lalu.
Berdasarkan hitungan para pekerja, besarnya tunggakan gaji pekerja selama tiga bulan itu mencapai sembilan miliar rupiah. Salman, Ketua DPC Federasi SPSI Kota Banjarmasin, mengatakan dari beberapa kali pertemuan antara pihak perusahaan, Dinas Tenaga Kerja dan pekerja, disepakati masalah pembayaran tunggakan gaji pekerja, setelah perusahaan menjual asset perusahaan berupa besi tua, mesin pabrik dan lainnya.
Sayangnya, gaji yang ditunggu-tunggu pekerja hingga kini tidak kunjung turun, meski beberapa kali para pekerja berunjuk rasa. “ Para pekerja sangat kecewa dengan manajemen perusahaan, terlebih sekarang menjelang ramadhan dan lebaran, pekerja sangat membutuhkan uang,” ungkapnya.
Permasalahan pekerja PT Hendratna Plywood ini menjadi pelik, setelah adanya anjuran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar perusahaan memPHK para pekerjanya. Belakangan pihak perusahaan yang orang-orangnya berada di Jakarta dan hanya mengutuskan kuasa hukum untuk menyelesaikan perselisihan perburuhan ini, menawarkan status PHK dengan pemberian pesangon hanya 60 persen dari pesangon murni.
Tidak hanya itu, perusahaan juga menawarkan pengambilan dana Jamsostek bagi pekerja, dimana salah satu syaratnya adalah status pekerja sudah tidak terikat lagi dengan perusahaan. “Karena pekerja sangat membutuhkan uang, maka mereka terpaksa mengambil dana jamsostek, ini merupakan kelemahan kami,” kata Salman.
Celakanya, sejak setahun lalu iuran Jamsostek sudah tidak lagi disetorkan perusahaan, sehingga uang Jamsostek diterima pekerja menjadi kecil. Dikemukakan Salman, para pekerja sebenarnya tidak menginginkan adanya PHK, meski gaji kecil asal masih ada pekerjaan, tentunya pekerja akan menerima, karena saat ini mencari pekerjaan pengganti sangat sulit.
PT Hendratna Plywood, satu dari sejumlah perusahaan perkayuan di Kalsel yang terpuruk dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya perusahaan besar lain seperti PT Barito Pasifik dan PT Daya Sakti juga terpaksa melakukan PHK massal pekerjanya.
Menurut data Asosiasi Pengusaha Indonesia Kalsel, masa kejayaan industri perkayuan hanya berlangsung hingga 2003. Sejak itu, satu persatu perusahaan perkayuan sekala besar dan kecil tutup. Kini dari 15 perusahaan perkayuan skala besar, tinggal delapan perusahaan masih beroperasi.
Perusahaan itu pun, terpaksa harus melakukan berbagai upaya efisiensi berupa pengurangan jam kerja, angka produksi, PHK pekerja hingga merubah system rekruitmen pekerja dari pekerja tetap menjadi buruh lepas (out shourcing). Diperkirakan dalam masa lima tahun terakhir, jumlah pekerja sektor perkayuan yang terPHK mencapai 50 persen dari total pekerja industri perkayuan sebanyak 40.000 orang. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: