Krisis Ekonomi

Bisnis Besi Tua Kini Semakin Renta
Sebuah truk kayu parkir tepat di depan sebuah gudang besi di Jalan Kuin Selatan, Kampung Kuin, Banjarmasin . Meski gerimis turun sejak pagi tidak menyurutkan langkah sejumlah buruh panggul memasukkan potongan besi-besi tua ke dalam truk.
Dua orang buruh lainnya berada di atas truk, menyusun potongan besi dan sebagian dalam bentuk karungan dengan rapi. Siang itu, M Taufik,47 salah seorang pengusaha besi tua di Kampung Kuin, menjadwalkan pengiriman besi tua ke sebuah perusahaan penampung di Surabaya , Jawa timur.
Besi-besi tua ini diangkut dengan truk dan kemudian dimasukkan kembali ke dalam container di pelabuhan Trisakti, baru kemudian dikirim ke Jawa. “Paling lambat besok pak, barang sudah dikirim,” kata Taufik berbicara melalui telpon genggamnya.
Wajah Taufik telihat tidak terlalu ceria, walau perusahaannya berhasil mengirimkan tidak kurang 20 ton besi ke Jawa. Bahkan pengiriman kali ini, dirinya harus menanggung kerugian menyusul anjloknya harga jual besi tua dalam beberapa bulan terakhir.
Harga besi tua yang dibeli perusahaan penampung dan perusahaan daur ulang di Surabaya dan Jakara merosot tajam dari Rp 6.000 menjadi Rp 2.000 perkilo untuk besi jenis premium seperti flat dan pipa. Demikian juga dengan besi bekas campuran seperti kawat dan perabotan rumah tangga turun dari Rp 3.000 jadi Rp 1.600.
Padahal sebagain besi dibeli pengusaha pengumpul di Banjarmasin masih menggunakan harga patokan lama yaitu Rp 4.500 untuk besi premium dan Rp 2.000 untuk besi campuran. “Bagi pengusaha bermodal kecil, menahan barang berarti mematikan usaha sehingga barang harus tetap dikirim meski harus merugi,” ungkapnya.
Para pengusaha dihadapkan pada kewajiban pembayaran upah pekerja maupun kewajiban hutang kepada perbankan atau pihak ketiga.
Zalfy,50, Ketua Persatuan Pengusaha Besi Tua, Banjarmasin, menyebutkan saat ini separuh dari sekitar 100 usaha besi tua di Banjarmasin berhenti operasi. “ Para pengusaha kini kehabisan modal dan sebagian memilih menghentikan sementara usahanya menunggu perkembangan,” paparnya.
Krisis financial global membuat usaha besi tua kini semakin renta. Selain sektor usaha, tidak kurang dari 5.000 warga yang mengandalkan penghasilan dari usaha besi tua ikut terpukul.
Banyak pekerja besi tua menganggur, akibat usaha pengumpulan besi tua tutup. Hal serupa juga dialami warga pencari kepingan besi tua dari rumah ke rumah, karena sebagian pengusaha tidak lagi membeli besi dan sebagian membeli dengan harga sangat murah.
Lebih jauh dikemukakan Zalfy, gejolak harga besi tua di pasaran sudah berulang kali terjadi, tetapi kali ini merupakan yang terparah. Hanya pengusaha bermodal kuat saja yang bisa bertahan.
Usaha besi tua di Banjarmasin sebelumnya, tergolong besar. Setiap bulannya, tercatat 6.000 ton atau 300 kontainer besi berbagai jenis dikirim ke pulau Jawa. Usaha ini, selain membeli besi campuran dari warga juga “mengeksekusi” besi dari kapal-kapal hingga banyaknya perusahaan perkayuan di Kalsel yang ambruk. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: