Lingkungan

Merubah Limbah Tambang Menjadi Air Minum

Sirine panjang berbunyi, saat terik matahari berada di atas kepala. Beberapa orang pekerja tambang PT Adaro Indonesia di lokasi tambang Tutupan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan mencoba beristirahat, setelah tiga jam terakhir menyiapkan rencana peledakan (blasting).
Blasting dilakukan untuk memudahkan pengambilan cadangan batubara di area bukaan yang sebelumnya sudah dipersiapkan, dengan mengupas lapisan atas (top soil) tanah. Salah seorang pekerja tampak kelelahan, akibat cuaca panas saat itu.
Dengan bergegas ia pun mengambil, sebotol air minum tanpa merk dari dalam mobil operasional tambang yang parkir di dekat situ. Tegukan demi tegukan air dari botol diminumnya karena dahaga, sehingga airpun nyaris habis. Hal serupa juga dilakukan, para pekerja blasting lainnya.
Sekilas air yang diminum para pekerja tambang itu, persis sama dengan air mineral bermerk seperti aqua. Tetapi sejak dua bulan terakhir, ratusan pekerja tambang PT Adaro Indonesia dan lebih 1.000 pekerja sub kontraktor pertambangan maupun 22 divisi penunjang operasional tambang mengkonsumsi air yang awalnya adalah air limbah tambang.
“Memang sulit membayangkan, jika yang kita minum ini tadinya adalah air limbah tambang,” ungkap Ahmad Helmi, Waste Water Supervisor PT Adaro Indonesia , Tutupan. Perusahaan tambang dengan ijin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) terbesar di Kalsel itu, sejak beberapa tahun terakhir telah merintis teknologi pengolahan air limbah tambang menjadi air minum.
Ratusan ribu meter kubik air limbah bercampur lumpur dari danau seluas 453 hektar pada blok tambang itu, disedot dengan menggunakan mesin pompa ke puluhan kolam pengendapan di atasnya. Air yang memiliki tingkat kekeruhan tinggi, serta kandungan logam seperti Mangan, Besi dan logam lainnya itu terus dialirkan ke kolam limbah disebut sediment pond, berbentuk spiral.
Tahapan ini berfungsi untuk mengendapkan dan menyaring partikel ke permukaan tanah. Proses selanjutnya adalah mud pond, dimana penjernihan air menggunakan tawas dalam jumlah besar. Melalui perlakuan pengolahan air sesuai standard dihasilkan air bersih.
Air bersih tersebut, sebagian dilepas ke sungai dan dimanfaatkan warga sekitar. Sebagian lagi diproses lebih lanjut dalam water treatment pump (WTP). Air bersih yang berasal dari air limbah itu, masih harus melalui sejumlah tahapan lainnya, hingga dihasilkan air bersih, higienis dan siap minum.
Saat ini produksi air mineral perusaah ini setiap harinya 20 liter perdetik, baru cukup melayani 1.000 lebih pekerja. Ditargetkan pada awal 2009, air siap minum tersebut sudah dapat disalurkan kepada 1.500 warga sekitar tambang, dengan system pipanisasi.

Apa salahnya dengan lobang
PT Adaro Indonesia , beroperasi dengan system tambang terbuka di lokasi tambang Paringin, Kabupaten Balangan dan Tutupan, Tabalong. Luas areal konsesi perusahaan ini mencapai 34.500 hektar atau 335 Kilometer persegi.
Dari luasan areal tambang itu, luas areal eksploitasi seluas 1.751 hektar. Sedangkan luas areal reklamasi baik di dalam tambang seluas 155 hektar dan di lokasi penumpukan tanah sekitar tambang (disposal) mencapai 1.771 hektar. Reklamasi melalui kegiatan penanaman, menggunakan tanaman jenis akasia, sengon, bambu hingga kelapa sawit.
Perusahaan PMA padat modal yang mulai beroperasi secara komersil di kalsel pada 1992 ini, menciptakan sejumlah danau berukuran ratusan hektar sebagai galian pasca tambang. Kawasan hutan berbukit, kini berubah menjadi kolam-kolam raksasa dengan kedalaman hingga 200 meter.
Perdebatan mengenai reklamasi, royalty dan manfaat lain dari keberadaan perusahaan tambang bagi masyarakat hingga kini tidak kunjung usai. “Apa salahnya dengan lobang,” celetuk Priyadi, General Manager Operasional PT Adaro Indonesia .
Menurutnya, berdasarkan terminology pertambangan reklamasi tidak harus melakukan penutupan kembali bekas galian tambang, karena memang tidak memungkinkan. Tetapi adalah pemanfaatan lahan bekas galian tambang agar dapat berdaya guna sesuai peruntukannya.
Dengan kapasitas produksi mencapai 35 Juta ton pada 2008, tak dapat dipungkiri di satu sisi akan terjadi eksploitasi batubara secara besar-besaran. Artinya kawah-kawah galian tambang akan semakin membesar.
“Karena itu kami mulai merancang pembangunan dan penataan kawasan pasca tambang menjadi kawasan yang memberikan manfaat kepada masyarakat dan daerah,” lanjut Priyadi. Ia pun berangan-angan menyulap kawasan tambang perusahaannya menjadi kawasan Mine Resort di Kuala Lumpur , Malaysia . (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: