Potret Kemiskinan

Berburu Zakat di Bulan Penuh Berkah

Waktu subuh sudah hampir habis, ketika mentari pagi mulai muncul memancarkan sinarnya. Anang Fadilah, lelaki paruh baya yang bermukim di kawasan kumuh Alalak Utara, Kecamatan Alalak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan tampak bergegas.
Sarung kusam yang masih melilit ditubuhnya, ia turunkan dan menggantinya dengan celana panjang. “Lakasih (cepat-Red),” ucap Anang dengan nada meninggi kepada anak perempuannya yang baru berumur sembilan tahun.
Pagi itu Anang dan anak, akan berangkat ke Handil Bhakti, daerah perbatasan antara Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Hari itu, berdasarkan kabar yang disebarkan tetangganya adalah hari pembagian zakat dari seorang pengusaha kaya di wilayah tersebut.
Jarak antara rumah Anang dengan lokasi pembagian zakat, kurang lebih sepuluh kilometer. Anang sendiri, tergolong keluarga miskin dan untuk pergi ke tempat pembagian zakat, dirinya naik sepeda ontel dengan membonceng anak perempuannya.
Sementara, sang istri sudah terlebih dahulu berangkat dengan maksud mencari zakat di wilayah Banjarmasin. Hampir satu jam kemudian, Anang pun tiba di lokasi pembagian zakat di rumah seorang pengusaha pupuk kaya. Di situ sudah hadir ratusan warga lainnya.
Anang dan warga miskin lainnya, bahkan tidak tahu nama orang kaya yang dermawan tersebut. Saat hari menjelang siang, baru sang tuan rumah, dengan dibantu puluhan petugas, mulai membuka pagar rumahnya untuk mulai memberikan zakat.
Dua pekan menjelang lebaran, biasanya para orang kaya di Banjarmasin mulai obral membagikan zakat mereka secara langsung kepada warga miskin. Bagi warga sendiri, ritual pembagian zakat ini, menjadi berkah tersendiri di tengah kesulitan ekonomi yang terus menerus melanda.
Setiap harinya, ratusan bahkan ribuan warga miskin dengan berbagai latar belakang mulai dari pengangguran, tukang becak, tukang ojek, buruh, tua, muda hingga anak-anak memadati halaman kediaman para orang kaya yang membagikan zakat. Meski terbilang kecil, tetapi zakat dari si kaya yang diterima sangat berarti.
Warga pun rela, berjalan menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer dan kemudian berdesakan untuk mendapatkan zakat. Rata-rata tiap warga miskin menerima zakat antara Rp 20.000 sampai Rp 30.000 tiap orang. Untuk anak-anak biasanya mendapatkan Rp 10.000. Namun adapula, zakat yang diberikan dalam bentuk paket sembako.
Bagi sebagian warga miskin, perburuan zakat ini menjadi pekerjaan sampingan cukup menjanjikan. Jika dihitung-hitung, perolehan zakat selama dua pekan sebelum lebaran dari sejumlah pengusaha bisa mencapai lebih Rp 500.000,-. Apalagi bila berburu zakat dengan mengerahkan seluruh anggota keluarga, anak dan istri.
Peristiwa pembagian zakat maut seperti di Pasuruan yang menyebabkan puluhan nyawa melayang, tidak membuat para pemburu zakat kapok. “Dulu pernah juga ada orang yang tewas karena terinjak-injak, kalau yang pingsan sudah sering terjadi,” tutur Anang.
Gubernur Kalsel, Rudy Arifin, menghimbau agar para orang kaya dapat menyalurkan zakat, infaq dan sedekahnya melalui lembaga badan amil zakat (BAZ). “Tetapi jika teradisi memberi zakat secara langsung tidak bisa dihilangkan, maka hendaknya melibatkan petugas keamanan,” ungkap Rudy.
Selama ini, keberadaan BAZ tidak berfungsi dengan baik. Hal ini terlihat, dari jumlah zakat yang disalurkan warga setiap tahunnya tidak mencapai Rp 200 Juta, padahal potensi penerimaan zakat dari warga Kalsel diperkirakan lebih dari Rp 20 Miliar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: