Suku Banjar

Badapatan di Kampung Gusti

Usai shalat Idul Fitri, pagi itu ratusan orang tampak memadati makam Sultan Suriansyah di tepi sungai Barito kampung Kuin, Banjarmasin , Kalimantan Selatan. Sebagian besar dari pengunjung adalah keturunan raja banjar yang bergelar Gusti.
Nyekar di makam raja banjar pada saat lebaran, sudah menjadi tradisi berumur lebih dari seratus tahun. Secara bergantian mereka memadati komplek pemakaman sultan suriansyah, raja kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam sembari berdoa dan diakhiri dengan taburan bunga di pusara makam dan makam keluarga (Zuriat) lainnya.
Tradisi nyekar para keturunan raja banjar ini, berlanjut ke makam raja lainnya seperti Pangeran Antasari di komplek pemakaman Mesjid Jami, Banjarmasin . Hingga makam ulama besar yang tergolong keturunan raja, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Syekh Seman.
“Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan keluarga kami menyebutnya jarahan,” kata Gusti Fauzi,35 keturunan Pangeran Antasari generasi ke empat. Jarahan atau badapatan dalam bahasa banjar yang dalam bahasa Indonesia berarti bertemu, bersilaturahmi.
Ritual tahunan yang dipegang teguh, para keturunan raja-raja banjar ini, dilanjutkan dengan kegiatan badapatan sesama keluarga Gusti. Kegiatan ini mengambil tempat di Kampung Gusti, Banjarmasin Utara. Disebut kampung Gusti karena hampir seluruh penduduk kampung yang berjumlah lebih dari 200 keluarga itu adalah keturunan raja banjar dan bergelar Gusti.
Badapatan di kampung gusti juga merupakan tradisi yang sudah berjalan lebih dari satu abad. Badapatan ditandai dengan berkumpulnya ratusan anggota keluarga Gusti di rumah anggota keluarga tertua yang saat ini masih hidup, Gusti Hamsah berumur 85 tahun.
Selain berhalal bihalal, dilakukan pembacaan ayat-ayat Alquran dan Surat Yasin, serta doa bagi raja-raja banjar dan keturunannya. Karena dalam suasana lebaran, makanan khas lebaran seperti ketupat, soto banjar, opor ayam dan kue (wadai) lebaran menjadi santapan penutup.
Badapatan dilakukan dari tiap rumah ke rumah keluarga secara bergantian. Karena banyaknya anggota keluarga, ritual badapatan berlangsung dari pagi hingga petang.
Jika pada hari pertama lebaran, badapatan hanya dikhususkan untuk keluarga keturunan langsung raja yang bergelar Gusti, maka di hari kedua acara badapatan juga dilakukan antara keluarga gusti dengan keluarga bukan dari keturunan raja. Mereka ini adalah keluarga gusti yang sudah membaur dengan masyarakat umum, karena perkawinan termasuk entis lain, Jawa, Madura dan sebagainya.
Menurut sejarah, kerajaan banjar pertama berada di Negara Dipa (Margasari-Tapin) dengan raja pertama Pangeran Surianata yang masih beragama Hindu pada 1438-1460. Hingga muncullah kerajaan islam Banjar pertama, seiring penyebaran agama Islam dari Jawa dengan raja Pangeran Samudera bergelar sultan Suriansyah hingga tahun 1550. Kesultanan Banjar ini, berpusat di pinggiran sungai Barito tepatnya di desa Kuin-Banjarmasin.
Kesultanan banjar juga mengalami masa keemasan pada pemerintahan Sultan Adam (1825-1857). Pada masa ini, dimulainya perang masyarakat banjar melawan belanda yang disebut perang Barito. Puncak perang banjar terjadi pada tahun 1859-1862 dipimpin Pengeran Antasari yang kini dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Pangeran Antasari merupakan pemimpin kerajaan banjar terakhir yang diangkat oleh rakyat dan ulama Banjar dengan gelar Amiruddin Chalifatul Mukminin atau pemimpin Islam.
Para keturunan raja-raja banjar ini, bertekad akan mempertahankan tradisi badapatan. Bahkan, keluarga pegustian seperti Gusti Fauzi berkeinginan mempersatukan keluarga besar Gusti yang sebagian masih tinggal di pengasingan sejak masa penjajahan dan tersebar di pulau Jawa, Sulawesi dan Irian. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: