Trans Kalimantan

Stress di Jalur Trans Kalimantan

Laju sebuah mobil mewah jenis sport utility vehicle (SUV) warna hitam mendadak terhenti, saat melintas di jalur trans Kalimantan , kilometer 51 Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sore itu, terjadi kemacetan total hingga dua jam.
Penyebab kemacetan yang hampir setiap hari terjadi itu akibat sebuah truk pengangkut hasil tambang batubara, mengalami patah as roda belakang dan nyaris terguling tepat di badan jalan. Tak ayal lagi jalur utama penghubung antar kabupaten dan provinsi di Kalsel, mengalami macet total.
David,42 sang pemilik mobil mewah tampak gelisah. Pengusaha warga keturunan asal Jakarta ini, berusaha mengejar waktu untuk tiba di bandara Syamsuddin Noor secepatnya. Pasalnya pada malam harinya, dirinya akan menghadiri pertemuan penting terkait bisnis batubara di Jakarta.

Sesekali ia mengusap keningnya dengan tisu, sembari berucap “Waduh, stress aku kalau begini,”. Matanya tidak lepas melirik jam tangan, meski pada dashboard mobil tertampang jelas waktu menunjukkan pukul 17.35 Wita.
Untuk menenangkan diri, ia pun memutar-mutar tuning radio mencari lagu. Sang sopir yang duduk di sebelahnya tidak dapat berbuat banyak. Beberapa kali keduanya, membuka kaca mobil mencoba melihat kondisi kemacetan di luar.
Saat itu jalan dengan lebar enam meter tersebut, dipadati iring-iringan truk pengangkut batubara di sisi kiri jalan. Sedangkan, di bagian kanan badan jalan juga dipadati mobil pengangkut barang, mini bus, mobil pribadi dan sepeda motor yang sebelumnya, mencoba menerobos jalan tetapi terjebak macet.
Kemacetan ini, menimbulkan antrian kendaraan hingga dua kilometer dari dua arah berlawanan. Waktu terus bergulir, jam digital menunjukkan pukul 19.25 Wita, artinya pesawat terakhir tujuan Jakata telah berangkat beberapa saat lalu.
David yang belum lama berbisnis batubara dan tidak mengetahui kondisi jalan trans Kalimantan, akhirnya memutuskan menunda rencana pertemuannya di Jakarta hingga esok hari. Kemacetan yang membuat stress di jalan trans Kalimantan , sudah menjadi biasa bagi para pengguna jalan.
Setiap hari, ada saja penyebab yang membuat jalur tersebut macet. Umumnya disebabkan terjadnya, kecelakaan lalu lintas maupun kerusakan armada truk batubara. Jalur poros tengah dari banua enam, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menuju Kota Banjarmasin sepanjang 125 Kilometer, merupakan daerah rawan kemacetan.
Pernah suatu saat, rombongan Gubernur Kalsel dengan pengawalan lengkap harus tertahan dan tidak dapat berbuat banyak karena kemacetan ini. Jam-jam kemacetan terjadi pada sore hingga malam hari, bersamaan dengan beroperasinya ribuan truk pengangkut batubara dari lokasi tambang menuju stok pile pelabuhan khusus di banjarmasin .
Kondisi serupa juga terjadi di jalur poros selatan trans Kalimantan pada ruas jalan Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu sepanjang ratusan kilometer. Selain aktifitas ribuan truk batubara, biji besi dan armada pengangkut hasil perkebunan, kondisi kerusakan jalan yang luar biasa menjadi penyebab kemacetan.
Angka kecelakaan yang menimbulkan korban tewas, juga cukup tinggi. Setiap tahunnya ratusan kali terjadi kecelakaan dengan korban tewas puluhan orang. Masalah lainnya adalah waktu tempuh perjalanan menjadi semakin lama.
Belakangan pemerintah provinsi Kalsel, mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan jalan negara bagi armada pengangkut hasil tambang dan perkebunan pada pertengahan 2009 mendatang. Sebagai penggantinya, para pengusaha pertambangan diwajibkan membangun jalan khusus.
Meski sebelumnya mendapat pertentangan dari para pengusaha, tetapi akhirnya disepakati rencana pembangunan 13 buah jalan khusus. Tiga jalur dibangun, untuk mengakomodir pengangkutan batubara dari kabupaten banua enam, Hulu Sungai Selatan, Tapin dan Banjar.
Dan sepuluh jalur lainnya dibangun untuk mengakomodir angkutan hasil tambang dan perkebunan dari wilayah Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Banyak pihak menyangsikan kebijakan pelarangan penggunaan jalan negara bagi angkutan batubara dan perkebunan ini dapat efektif.
Pasalnya dengan waktu deadline yang sempit, proses pekerjaan pembangunan jalan masih jalan di tempat. Terlebih mulai muncul gejolak dari ribuan sopir dan pemilik truk pengangkut batubara yang terancam kehilangan mata pencaharian apabilan kebijakan ini diberlakukan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: