Ekonomi Rakyat

Menyelam Kayu di Kedalaman Sungai Barito

BANJARMASIN, (JK):2006
Perairan sungai Barito di Kalimantan Selatan merupakan
jalur utama angkutan kayu bagi bahan baku industri
perkayuan yang berasal dari kawasan hutan Kalsel dan
provinsi tetangga Kalimantan Tengah dan Kalimantan
Timur. Dalam proses pengangkutan kayu ke perusahaan
perkayuan tersebut tak jarang, kayu-kayu gelondongan
berukuran raksasa itu tercecer dan tenggelam di
kedalaman sungai Barito.
Sore itu, tiga buah perahu bermesin temple (klotok)
terlihat melintas di pinggiran sungai Barito menuju
muara sungai Barito. Dari dekat terlihat klotok-klotok
ini melaju perlahan beriringan, sembari menarik tali
yang ujung berada di dasar sungai.
Tungku (40) panggilan Abdul Hadi, salah seorang dari
tiga orang penumpang perahu berusaha menemukan
bongkahan kayu yang tenggelam di dasar sungai. “Ada!,”
teriak Tungku lantang serentak ketiga perahu tersebut,
berhenti.
Menurut perkiraan Tungku, mereka hari itu berhasil
menemukan kayu-kayu milik perusahaan perkayuan besar
yang hilang. Tak lama berselang, enam orang dari
mereka langsung terjun ke sungai untuk menyelam
memastikan tentang apa yang mereka temukan.
Para penyelam ini menyelam tanpa dibekali peralatan
selam kecuali golok dan tali. Mereka mencoba memeriksa
temuan mereka apakah kayu tersebut layak diangkut atau
tidak. Umumnya kayu-kayu itu sudah tenggelam di dasar
sungai barito sekian tahun, bahkan sudah tertutup
lumpur dan ditumbuhi tritip (biota sungai).
Oleh para penyelam kayu berukuran lebih dari 70
centimeter dengan panjang mencapai belasan meter itu,
diikat ujungnya dan kemudian ditarik dari atas perahu
dengan menggunakan alat takal sederhana buatan
sendiri. Kayu temuan para penyelam ini, cukup berharga
terlebih kondisi kelangkaan kayu yang terjadi
akhir-akhir ini.
“Kayu yang kami temukan, pasti ada yang membeli baik
galangan (penggergajian) maupun perusahaan kayu
terdekat,” katanya. Dengan ukuran 70 cmX12 meter, kayu
sungai itu dibeli dengan harga mencapai Rp 1,5 Juta
tergantung jenis dan kualitas kayu.
Tungku dan delapan orang temannya, adalah para
penyelam atau dalam bahasa banjarnya Paundungan yang
memang berprofesi sebagai pencari kayu di dasar sungai
Barito. Sebenarnya tidak hanya kelompok Tungku, masih
ada sekitar tiga atau empat kelompok lain para
penyelam kayu, yang sehari-hari mencari kayu di dasar
sungai.
Para penyelam kayu ini, kebanyakan bermukim di desa
Alalak Selatan Kecamatan Kuin Utara Banjarmasin.
Sehingga desa mereka kerap disebut, kampung
Paundungan. Desa Alalak sendiri merupakan lokasi
industri penggergajian (band saw) di pinggiran sungai
Barito terbesar di banjarmasin.
“Profesi ini sudah saya geluti sejak saya remaja
sekitar tahun 1980-an,” katanya. Selain mencari kayu
sendiri, tak jarang kelompok penyelam kayu ini, di
sewa oleh perusahaan perkayuan untuk mencari kayu-kayu
milik perusahaan yang hilang atau tercecer di sungai.
Terkadang mereka disewa untuk mencari kapal-kapal yang
tenggelam.
Menurut Tungku, oleh perusahaan kayu mereka di upah
Rp 150.000 untuk setiap kayu yang ditemukan. Mencari
kayu milik perusahaan, lebih menguntungkan karena,
kayu yang hilang milik perusahaan biasanya banyak.
Berbeda dengan mencari kayu sendiri, dimana
akhir-akhir ini, sudah jarang kayu ditemukan. Jika
beberapa tahun lalu, kayu banyak ditemukan di dasar
sungai sekitar Banjarmasin, kini pencarian kayu harus
ke lokasi yang jauh hingga Kabupaten Barito Kuala dan
terkadang hingga ke sungai Kahayan di wilayah Kapuas.
Kegiatan penyelaman kayu di dasar sungai ini, kerap
menjadi sasaran operasi petugas Direktorat Polisi Air
karena dianggap kegiatan illegal. Tak jarang untuk
melancarkan kegiatannya, para penyelam memberikan
sejumlah uang dengan istilah “uang rokok” kepada
petugas agar tidak menangkap mereka.
Demikian juga kayu-kayu dasar sungai yang kemudian
sudah di potong di lokasi penggergajian, kerap
ditangkap petugas karena tidak dibekali surat menyurat
saat akan dijual ke konsumen. Semakin sedikitnya
kayu-kayu didasar sungai barito, serta semakin
gencarnya operasi illegal logging di perairan ini,
kini para penyelam sebagian menghentikan pekerjaannya.
Yusran (50) salah seorang penyelam lainnya mengatakan
akhir-akhir ini, banyak penyelam yang menganggur
karena tidak ada berani lagi menyelam. Kondisi ini,
membuat kehidupan para Paundungan semakin terpuruk.
Dikatakan Yusran profesi yang sudah digeluti puluhan
tahun ini, tidak dapat mereka tinggalkan karena mereka
tidak punya keahlian lain selain menyelam.
Ciri khas para penyelam ini, dituturkan Yusran adalah
kebanyakan dari mereka gendang telinganya sudah pecah
karena hantaman tekanan dasar sungai. Para penyelam
dengan gendang telinga yang sudah pecahnya ini, justru
bertambah kemampuan selamnya, karena tidak terpengaruh
tekanan dasar sungai dan dapat menyelam di kedalaman
lebih dari sepuluh meter dengan waktu hampir setengah
jam. Senioritas penyelam ini, terlihat dari gendang
telinganya, jika belum mengalami pecah gendang telinga
mereka bukanlah penyelam handal. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: