Ekonomi Rakyat

Taksi Air Sungai Barito Mati Suri

BANJARMASIN, (JK):2007
Terpuruknya industri perkayuan di Kalimantan Selatan
yang mengharuskan perusahaan memberhentikan para
pekerja, juga berdampak pada lesuhnya usaha angkutan
penyeberangan atau taksi air. Ratusan buah taksi air
(perahu motor/klotok) yang biasa mengantar jemput
pekerja kayu kini sepi penumpang.
Seiring, terpuruknya industri perkayuan dalam
beberapa waktu terakhir, usaha angkutan penyeberangan
sungai bagi ribuan pekerja perusahaan perkayuan di
sepanjang sungai Barito ikut terpuruk. Ratusan motoris
dan pemilik, perahu kini mengeluhkan terjadi penurunan
tajam, penghasilan mereka.
Kondisi lesuhnya usaha jasa angkutan sungai ini,
sangat dirasakan sekitar dua puluh motoris klotok yang
biasa sandar di pelabuhan Jelapat Kecamatan Tamban
Kabupaten Barito Kuala. “Belakangan ini, penumpang
hampir-hampir tidak ada sama sekali,” kata Badrun (55)
motoris taksi air di pelabuhan Jelapat hampir sepuluh
tahun.
Menurutnya, usaha angkutan sungai sangat terpukul
dengan terPHKnya ribuan pekerja kayu, selain masalah
kenaikan BBM sebelumnya yang membuat pendapatan mereka
mengalami penurunan tajam. Biasanya perahu motor di
pelabuhan Jelapat ini, mengangkut para pekerja kayu
yang tidak terangkut kapal ferri perusahaan serta
masyarakat sekitar pulang pergi ke Banjarmasin.
Dengan tariff angkutan penyeberangan sebesar Rp 3.000
per orang, para motoris mampu memperoleh hasil setiap
harinya Rp 60.000 hingga Rp 70.000. Kini, akibat
sepinya penumpang, Badrun mengaku penghasilan sebagai
motoris taksi air ini, menjadi tidak pasti.
Demikian juga dikemukakan Suherman (38), salah
seorang motoris taksi air di pelabuhan klotok
Kuin-Banjarmasin,
mengatakan sejak sebagian perusahaan perkayuan
berhenti beroperasi dan disusul kebijakan memPHk serta
merumahkan pekerja, usaha angkutan penyeberangan
mengalami kelesuhan. “Dalam sebulan terakhir, usaha
kami sangat terpukul akibat banyak tutupnya perusahaan
kayu,” katanya.
Menurut Suherman, jika biasanya rata-rata satu perahu
dapat beroperasi lima hingga tujuh kali pulang pergi,
mengangkut penumpang para pekerja kayu, kini dalam
sehari paling banyak dua kali. Bahkan, ratusan perahu
motor di sejumlah pelabuhan penyeberangan, terpaksa
menjalankan system antrian untuk memenuhi setoran.
Dengan demikian, penghasilan para motoris taksi air
ini, juga ikut mengalami penurunan tajam. Pada saat
normal, rata-rata uang yang bisa dibawa pulang,
setelah dikurangi setoran kepada pemilik perahu dan
biaya BBM, motoris dapat mengantongi uang sebanyak Rp
70.000-Rp 80.000 sehari. Tapi kini, penghasilan para
motoris menurun, hanya Rp 40.000 perhari dan tak
jarang kurang dari itu.
Ditambahkan Suherman, jika kondisi terpuruknya
industri perkayuan tersebut, tidak dapat diselamatkan
maka nasib ratusan motoris taksi air juga ikut
terpuruk. “Kini kami tidak dapat lagi mengandalkan
penumpang para pekerja kayu, terlebih penumpang
wisatawan pasar Terapung yang sangat jarang ada,”
katanya.
Keluhan serupa yang merupakan imbas dari terpuruknya
industri perkayuan di sepanjang sungai Barito, juga
datang dari para pemilik kapal-kapal ferri penumpang
yang selama ini, menjadi mitra perusahaan perkayuan.
Sedikitnya ada delapan kapal ferri penyeberangan yang
dikontrak perusahaan perkayuan besar untuk melayani
antar jemput pekerja kayu ke tempat kerja mereka.
Kapal-kapal ferri yang sehari-hari mengangkut ratusan
pekerja kayu sekali jalan ini, saat ini harus
menjalani peninjauan ulang perjanjian kontrak dari
perusahaan dan sebagian telah diputus kontraknya.
Akibatnya, para motoris dan pengusaha jasa angkutan
sungai ini, harus banting setir mencari alternatif
usaha angkutan lain untuk bertahan.
Masih gelapnya masa depan industri perkayuan ini,
membuat masa depan ratusan motoris taksi air di sungai
barito semakin tidak jelas. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: