Ilegal Logging

Ditengah Himpitan Ekonomi

BANJARMASIN, (JK):2006
Gencarnya operasi pemberantasan illegal logging yang
dilakukan jajaran Kepolisian Daerah (polda) Kalimantan
Selatan di perairan sungai Barito dalam beberapa waktu
terakhir, berhasil menangkap belasan kapal kayu
(tiung) dengan barang bukti ratusan meter kubik kayu
illegal. Maraknya distribusi kayu secara illegal,
tersebut dilakukan karena factor himpitan ekonomi.
Wajah Syahril (22), warga Desa Sungai Saluang
Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala, tampak
kusut saat ditemui Media di ruang tahanan markas
Polisi Air POlda Kalsel, kemarin. Sejak (23/8) lalu,
Syahril resmi menjadi penghuni kamar berjeruji besi
markas Polisi Air Polda Kalsel, karena tertangkap
basah sedang mengangkut kayu tanpa dokumen di perairan
sungai Barito.
Syahril tidak sendiri, bersamanya ada 15 tahanan
lain, sembilan diantaranya terkait kasus illegal
logging. Dan sisanya para tahanan yang terlibat
penyimpangan bahan bakar minyak (BBM). Sejak
ultimatum, pemberantasan illegal logging oleh Presiden
dan dilanjutkan instruksi Kepala Polri, para pelaku
illegal logging kini tidak dapat lagi bermain-main
dengan proses hukum yang dijalankan pihak kepolisian.
Karena itulah, upaya pihak keluarga Syahril untuk
mengeluarkannya dari tahanan dengan berbagai alasan,
secara tegas ditolak pihak POlair Polda Kalsel. Kini,
para tahanan kasus illegal logging ini, masih menunggu
proses pelimpahan berkas perkara mereka yang hampir
rampung.
Syahril, sempat menolak diwawancarai, apalagi difoto
karena malu. Namun saat wawancara dengan didampingi
petugas, Syahril mengaku berdagang kayu merupakan
usaha sampingannya selain bertani. “Semua ini
dilakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.
Syahril dan lima rekannya yang kini ikut menjadi
tahanan, yaitu Nanang, Yusran, Ali, Rohman dan Basuni
tertangkap basah petugas saat sedang membawa
masing-masing empat kubik kayu jenis Meranti dari
wilayah Kabupaten Jenamas Kalimantan Tengah, dengan
tujuan desa Alalak Banjarmasin. Mereka sebenarnya
sudah terbiasa berdagang (bernisnis) kayu yang oleh
pemerintah dinyatakan illegal.
Kayu-kayu tersebut dibeli di kawasan penggergajian
kayu di Kabupaten Jenamas Kalteng yang menempuh
perjalanan enam jam dari Banjarmasin dengan perahu
motor, seharga Rp 200.000 per kubik. Di Banjarmasin,
kayu-kayu dalam bentuk kepingan/papan itu laku dijual,
seharga Rp 350.000 per kubiknya.
Tidak banyak keuntungan yang diperoleh dari bisnis
angkutan kayu illegal ini, terlebih setelah dipotong
ongkos pembelian solar dan lainnya.
Berdagang, kayu “illegal” karena tanpa disertai
dokumen ini, merupakan pekerjaan sampingan Syahril,
disamping pekerjaan utamanya sebagai petani. Menurut
pengakuannya, disaat musim tanam sudah selesai, banyak
petani yang mencoba menambah penghasilan dengan
berdagang kayu, karena kayu saat ini banyak dicari dan
harganyapun lumayan.
Terlebih usaha pertanian, akhir-akhir ini seringkali
gagal akibat bencana banjir. Hal ini, membuat para
petani terpaksa banting setir mencari usaha lain, dan
salah satu usaha yang mudah mendapatkan keuntungan
adalah berdagang kayu.
Syahril yang memiliki dua orang anak masih
kecil-kecil itu, merupakan tulang punggung
keluarganya. Kini sejak Syahril mendekam dibalik
jeruji besi, kehidupan keluarganyapun terpuruk.
Istrinya, Ati (20), sempat datang menjenguknya dan
meminta kepada pihak kepolisian agar membebaskan
suaminya. Walau sambil menangis namun usaha Ati, untuk
membebaskan suaminya tidak berhasil.
Kini Syahril, hanya bisa menunggu proses hukum
terhadap dirinya. Para tersangka pelaku illegal
logging ini, terancam terjerat UU Kehutanan pasal 50
ayat 3 UU nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan.
Direktur Polisi Air Polda Kalsel, Ajun Komisaris
Besar (AKB), Thomas Alfret Hombing, mengatakan dari
sisi kemanusiaan, aparat sebenarnya menaruh rasa
kasihan kepada tersangka pelaku yang tertangkap
mengangkut kayu tanpa dokumen ini, karena sebagian
besar dari mereka adalah masyarakat kecil dan hidup
pas-pasan.
“Banyak dari mereka adalah masyarakat miskin yang
hanya mencari keuntungan sedikit,” katanya. Namun
apapun itu, komitmen pemberantasan praktek illegal
logging harus ditegakkan sesuai instruksi Kepala
Polri.
Gencarnya operasi illegal logging di perairan sungai
Barito tidak hanya, memurukkan ekonomi sebagian
masyarakat pinggiran, tetapi juga membuat sector lain
seperti industri penggergajian dan perdagangan kayu
untuk berbagai keperluan di Banjarmasin, semakin sulit
mendapatkan kayu. Dan imbasnya, semakin melambung
harga kayu di pasaran.
(Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: