Industri Kecil

Bertahan di Tengah Kesulitan Bahan Baku

BANJARMASIN, (JK):2007
Suku-suku di daratan Kalimantan (Borneo), sejak ribuan tahun silam secara turun temurun dikenal hidup bergantung dengan sungai, serta menggunakan perahu tradisional atau jukung sebagai alat transportasi. Eksploitasi sumber daya hutan berupa kayu secara besar-besaran di daratan Kalimantan ini, mengancam industri pembuatan jukung yang merupakan warisan adi luhung.
Puluhan pekerja, terlihat sibuk dengan aktifitas masing-masing dalam pembuatan perahu atau jukung di sepanjang pinggiran pulau di Pulau Swangi. Pulau Swangi merupakan satu desa di pulau Alalak yang terletak di tengah sungai Barito yang merupakan wilayah Kabupaten Barito Kuala.
Pulau Swangi berjarak sekitar 200 meter dari daratan Banjarmasin dan dapat ditempuh dengan menggunakan perahu, hanya beberapa menit saja. Sejak ratusan tahun silam, secara turun temurun warga desa Pulau Swangi yang mayoritas merupakan suku Banjar, mempunyai profesi sebagai pembuat perahu tradisional.
Jukung yang dibikin secara manual dan tradisional ini, adalah produksi terbesar perahu bagi keperluan tranportasi dan nelayan di Kalsel. Bahkan produksi jukung asal Pulau Swangi, banyak dipesan dari pengusaha dan nelayan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Tengah, Sulawesi dan Jawa Timur.
Warga di PUlau Swangi yang notabene berada di daerah terisolasi ini, sangat ramah dan senang apabila kedatangan tamu. Terlebih, wartawan yang datang mengambil gambar mereka, karena mereka merasa bangga apabila gambar dirinya ditayangkan di televise atau dimunculkan di Koran.
“Pak, pak dari Jakarta ya?,” kata Amat (45) salah seorang pengrajin perahu di Pulau Swangi kepada Media. Amat, lalu menceritakan tentang dirinya yang sudah beberapa kali diwawancarai wartawan dari Jakarta.
Menurut penuturan Amat, sedikitnya ada sekitar 300 kepala keluarga yang bergantung hidup dengan menjadi perajin jukung. Jika ditambah, para pekerja upahan (biasanya ramaja desa), maka jumlah perajin perahu tradisional ini, mencapai lebih dari enam ratusan orang.
Namun dalam beberapa tahun terakhir pasokan bahan baku kayu untuk pembuatan Jukung yang mengandalkan kayu kiriman dari Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah melalui jalur sungai Barito semakin sulit diperoleh. Hal ini disebabkan, semakin menipisnya cadangan kayu di kawasan hutan, serta maraknya operasi illegal logging yang dilakukan aparat kepolisian.
Kelangkaan bahan baku ini, memicu melonjaknya harga kayu, sehingga banyak perajin tidak mampu memenuhi bahan baku. Sementara di sisi lain, mereka harus bersaing harga dengan perahu terbuat dari fiber yang kini mulai banyak dijual.
Hal serupa dikemukakan Murhan (55) Pembekal atau Kepala Desa Pulau Swangi yang mengatakan, dulunya industri pembuatan perahu tradisional ini menggunakan bahan baku kualitas bagus seperti Kayu Ulin (Besi) dari wilayah Kalsel dan kalteng. Kini akibat kelangkaan bahan baku, pembuatan perahu terpaksa menggunakan kayu jenis lain dengan kualitas dan harga lebih murah seperti Meranti dan Madi Hirang.
Harga kayu Ulin per meter kubiknya mencapai Rp 1,5 Juta sedangkan harga kayu Meranti Rp 900.000 per kubik. Itupun sudah mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp 600.000. Kondisi kelangkaan bahan baku kayu ini, membuat perekonomian sekitar 300 KK warga pulau Swangi yang mengandalkan mata pencaharian dari membuat perahu ini, terpuruk.
Dulu, ketika bahan baku kayu melimpah dan pesanan banyak, setiap pengrajin mampu membuat sekitar lima sampai enam perahu perbulan yang dikerjakan sekitar enam orang pekerja. “Kini permintaan perahu menurun, ditambah sulitnya bahan baku, paling-paling kami hanya bisa mengerjakan satu, dua perahu perbulan,” katanya.
Dibuat Secara Tradisional
Nama jukung sebenarnya adalah sebutan bagi bagian dasar perahu. Jukung berbeda dengan perahu konvensional, karena jukung terbuat dari kayu gelondongan ukuran besar yang dibuat dengan ditabuk dan dibakar. Proses pembuatannya pun memakan waktu lama dan berhubungan dengan hal-hal gaib.
Industri tradisional pembuatan jukung bagian dasar perahu ini, terdapat di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah dan kemudian di kirim ke Pulau Swangi melalui jalur sungai. Sesampai di Pulau Swangi, bagian dasar Jukung ini, kemudian dibuat sesuai pesanan menjadi berbagai jenis jukung seperti Jukung Sudur, Rangkan, Patai, Hawaian, Alkon, Rombong, Halus, Feri, Klotok, Nalayan, Tiung, Raksasa dan Motor bot.
Proses pembuatan sebuah perahu, sesuai pesanan ini, diperlukan waktu satu hingga dua minggu sesuai bentuk dan ukuran. Biasanya satu perahu dikerjakan tiga sampai enam orang pekerja. Para pekerja ini, merupakan pekerja (tukang) yang keahliannya diperoleh secara turun temurun.
Di Pulau Swangi ini, sebuah jukung bagian dasar yang didatangkan dari Kalimantan Tengah, diolah oleh para perajin sehingga menjadi sebuah perahu lengkap dengan asesorisnya. Menurut Marhan, keuntungan dari membuat perahu ini setelah dipotong biaya operasional upah pekerja, sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 tiap perahu.
Tetapi, Marhan tidak tahu pasti sampai kapan industri pembuatan perahu ini dapat bertahan, akibat semakin sulitnya mendapatkan bahan baku kayu, jelas Marhan yang sudah mewarisi keahlian membuat perahu kepada tiga orang anaknya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: