Industri Perkayuan

Industri Kayu Kalsel “Bagaikan Telur Diujung Tanduk”

BANJARMASIN, (JK):2006
Dalam beberapa waktu terakhir, sebagian besar
perusahaan perkayuan di Kalimantan Selatan ambruk dan
sebagian diantaranya terpaksa gulung tikar. Masalah
kelangkaan bahan baku, biaya operasional yang
membubung tinggi, persaingan usaha di pasar
internasional dan regulasi berbelit-belit menyebabkan
nasib industri perkayuan bagaikan telur di ujung
tanduk.
Pintu pagar masuk sebuah perusahaan kayu skala besar
di kawasan sepanjang pinggiran sungai Barito, tertutup
rapat dan terkunci. Hampir tidak ada lagi aktifitas
kerja di dalam lingkungan perusahaan yang pernah jaya
pada era 1970-an hingga akhir 1990-an tersebut.
Dua orang petugas satpam dan dua orang polisi, tampak
duduk-duduk di ruangan pos penjagaan pabrik. Begitulah
pemandangan terakhir perusahaan kayu skala besar PT
Barito Pasifik yang berlokasi di desa Jelapat
Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala. Sejak akhir
Maret lalu, perusahaan ini telah memPHK sebanyak 1.800
sisa pekerjanya dan hanya menyisakan segelintir
petugas pengamanan serta mekanik, untuk mengamankan
asset perusahaan.
Akhmad (bukan nama sebenarnya), salah seorang mantan
Manager PT Barito Pasifik, mengatakan keterpurukan
perusahaan kayu yang merupakan salah satu perusahaan
perkayuan terbesar di tanah air ini, mulai terjadi
pada awal tahun 2000 dan terus semakin buruk, hingga
mencapai puncaknya pada awal 2006. Penyebab utamanya
adalah semakin menipisnya pasokan bahan baku kayu,
disamping adanya kebijakan pembatasan kuota tebang
dari pemerintah.
Sebenarnya perusahaan kayu yang memiliki sejumlah
divisi produksi mulai dari lem, moulding, blok board
hingga plywood dengan ditunjang kepemilikan hak
pengusahaan hutan (HPH), telah berupaya melakukan
berbagai strategi untuk tetap bertahan. Terbukti,
mesin-mesin produksi dalam beberapa tahun belakang
tidak lagi mengandalkan kayu hutan alam, tetapi
kayu-kayu berdiameter kecil seperti kayu dari hutan
rakyat hingga pohon-pohon kelapa.
Namun kondisi perusahaan, tidak kunjung membaik.
Membengkaknya biaya produksi, dan diperparah semakin
buruknya keuangan perusahaan dialami perusahaan
perkayuan lain PT Karunia Wana Ika Wood di wilayah
Kabupaten Barito Kuala. Cukup tragis memang,
perusahaan dengan ratusan pekerja ini, terpaksa
merumahkan sebagian dan memPHK pekerjanya namun tidak
mampu memenuhi kewajiban membayar gaji maupun pesangon
pekerjanya.
Karenanya, ratusan pekerja yang merasa hak-haknya
tidak dipenuhi perusahaan melakukan aksi unjuk rasa.
Hingga kini proses pencairan pesangon dari perusahaan
kepada pekerjanya, tidak kunjung beres. Hal serupa
juga dialami ribuan pekerja lain, pada sejumlah
perusahaan perkayuan lainnya.

Sebagian Besar Terancam Bangkrut
Dampak terbesar dari terpuruknya industri perkayuan
ini, adalah nasib ribuan pekerja dan masyarakat yang
terlibat dalam mata rantai industri, ikut terpuruk.
Sebagian besar perusahaan kayu di Kalsel, bermasalah
dan terancam bangkrut.
Menurut data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kalsel, hampir seluruh perusahaan perkayuan yang masih
tersisa, dalam keadaan sakit. Seperti menimpa
sejumlah perusahaan kayu skala besar di Kalsel yang
kini sudah tidak dapat lagi beroperasi diantaranya PT
Barito Pasifik dengan 3.000 tenaga kerja, Pt Karunia
Wana Ika Wood (sinarindo) dengan 743 pekerja, PT Katan
Prima Permai dengan 712 pekerja.
Kemudian PT Gucci dengan 146 pekerja, PT Ratu Miri
dengan 108 pekerja dan PT Kodeco Plywood di Tanah
Bumbu dengan 810 pekerja. Sedangkan perusahaan
perkayuan lainnya, mengambil langkah dengan melakukan
rasionalisasi pekerja melalui berbagai tahapan seperti
pengurangan jam kerja, merumahkan pekerja dan memPHK
sebagian pekerjanya.
Perusahaan perkayuan skala besar yang tengah mengalami
kesulitan ini, diantaranya Pt Daya Sakti Unggul, PT
Tanjung Selatan Makmur Raya, PT Tanjung Raya Plywood,
Pt Royindo Karya Lestari, PT Gunung Meranti, PT
Austrabina, PT Hendratna, PT Basirih, PT Surya Satria,
PT Wijaya Tri Utama serta PT Menara Hutan Buana.
Krisnadi Priyana, Direktur PT Hendratna
Plywood-Banjarmasin, mengatakan masa-masa sulit dunia
usaha perkayuan di Kalsel, mulai terjadi pada awal
tahun 2000. Menurutnya banyak factor yang memicu,
kondisi keterpurukan ini, diantaranya adalah kebijakan
pemerintah mengenai jatah tebang dan tidak adanya
solusi jelas dari pemerintah untuk mengatasi serta
menyelamatkan industri perkayuan.
Kebijakan pemerintah dibidang perkayuan, justru
merugikan iklim usaha bidang perkayuan. Regulasi
berbelit-belit, menyebabkan sector perkayuan dan
kehutanan merupakan sector yang mengalami kondisi
beban ekonomi biaya tinggi.
“Kebijakan soft landing, cenderung menjadi hard
landing, karena tidak diimbangi dengan kebijakan dan
komitmen pemerintah untuk menyelamatkan industri
perkayuan dan sector kehutanan,” katanya. Efisiensi
besar-besaran disegala bidang, menjadi satu-satu cara
pengusaha untuk bertahan dan menyelamatkan usahanya.
Itupun, hanya upaya untuk menunda tibanya masa
kebangkrutan usaha. Sekarang ini, bukan saatnya untuk
saling menyalahkan dan mencari kambing hitam dari
masalah ini, karena semua pihak berperan dalam memicu
keterpurukan sector perkayuan tersebut. Mulai dari
pemerintah, pengusaha maupun aparat penegak hukum yang
tidak mampu menjalankan tugas dan fungsi masing-masing
secara benar.
Pemerintah kita tidak mampu, membina dan melindungi
dunia usaha, seperti yang dilakukan negara lain
seperti China dan Malaysia. Aparat penegak hukum juga
kerap menjadikan, usaha sector perkayuan menjadi
peluang terjadinya penyimpangan hukum dan harus pula
diakui masih banyaknya pengusaha nakal.

Hutan Tanaman
Pengembangan hutan tanaman dinilai menjadi solusi
jangka panjang yang tepat untuk menyelamatkan,
industri perkayuan di Kalsel sekarang ini. Sementara
untuk solusi jangka pendek, pemerintah hendaknya
merevisi regulasi dengan mempermudah tata usaha kayu
(TUK), terutama kayu-kayu yang berasal dari hutan
tanaman dan hutan rakyat.
Saat ini, hutan kalsel hanya mampu menyuplai tidak
lebih dari 10 persen dari tingkat kebutuhan bahan baku
kayu industri perkayuan yang mencapai lebih dari tiga
juta meter kubik pertahun. Namun potensi kawasan hutan
dan non hutan di Kalsel yang mampu, dimanfaatkan
menjadi kawasan cadangan bahan baku kayu, terutama
kayu jenis hutan tanaman sangatlah besar dan
diperkirakan cukup untuk menopang tingkat kebutuhan
bahan baku industri perkayuan.
Pt Hendratna Plywood, merupakan salah satu perusahaan
yang sejak tiga tahun terakhir, giat mengembangkan
hutan tanaman, sebagai cadangan bahan baku perusahaan
di masa datang. Hampir sejuta pohon kayu jenis Jabon
yang cocok untuk bahan baku plywood, dikembangkan tiga
sejumlah kabupaten seperti Tanah Laut, Tapin dan
Tabalong. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: