Industri Perkayuan

Tidak Ada Alternatif Pekerjaan Lain

BANJARMASIN, (JK):2006
Seorang bocah lelaki, dengan tertatih-tatih berusaha
mengangkat sebuah kursi di depan rumahnya menuju,
sebuah truk fuso yang parkir di tepi jalan. Beberapa
orang dewasa lainnya, juga sibuk mengangkat perabotan
rumah tangga lain, ke atas truk.
Puluhan orang warga kampung Subarjo, hari itu
terlihat sibuk membereskan dan mengosongkan rumahnya.
Mereka adalah para pendatang asal pulau Jawa, yang
sebelumnya merupakan pekerja perusahaan kayu, tetapi
mengalami nasib buruk harus diberhentikan (PHK) akibat
terpuruknya industri perkayuan belakangan ini.
Raharjo (35), warga Jember-Jawa Timur adalah satu
dari ribuan pekerja yang terpaksa menelan pil pahit
dari hancurnya industri perkayuan di Kalimantan
Selatan. Bersama Siti dan dua anaknya, keluarga ini
mengambil keputusan untuk pulang ke kampung halaman,
setelah tidak ada lagi yang bisa diharapkan di tanah
rantau.
Dengan masa kerja kurang dari sepuluh tahun, Raharjo
hanya berhak menerima uang pesangon kurang dari
sepuluh juta rupiah. Itupun setelah ditambah, hak
mereka dari dana jamianan social tenaga kerja
(Jamsostek). “Ya, mau bagaimana lagi mas, sudah tidak
apa-apa lagi di sini,” kata Raharjo, sembari
memasukkan sebuah kipas angin kecil miliknya ke dalam
truk Fuso.
Sebetulnya, menurut Raharjo dirinya sangat berharap
agar perusahaan tempatnya bekerja tidak,
memberhentikan dirinya karena baik Raharjo dan
sebagian pekerja lainnya, tidak punya pekerjaan
alternatif lain selain menjadi buruh pabrik. Diakui
Raharjo, sangat sulit bagi dirinya untuk mendapatkan
pekerjaan baru, di jaman serba sulit seperti sekarang
ini.
Pernyataan Raharjo ini, memang ada benarnya, terlebih
dirinya tidak mempunyai keahlian lain dan hanya
berlatar belakang sekolah tamatan SMP. Sementara di
kampung halamannyapun, Raharjo sudah tidak memiliki
apa-apa lagi. Dari uang pesangon yang tidak seberapa
itu, sekarang jumlahnya tinggal separuh karena
dipotong pelunasan sewa rumah, hutang kebutuhan pokok
di warung tetangga dan pembayaran sewa truk fuso serta
pembelian tiket kapal pulang.
Satu truk fuso disewa untuk mengangkut perabotan
rumah tangga tujuan Jawa Timur, seharga Rp 6 Juta.
Penyewaan truk berukuran besar ini, merupakan hasil
patungan lima hingga enam orang pekerja yang
memutuskan pulang kampung.
Berbeda dengan Raharjo, Sudarmadi (35) yang juga
mengalami nasib harus terPHK dari perusahaan kayu
tempatnya bekerja, memilih mencari alternatif
pekerjaan menjadi pedagang dompet dan ikat pinggang di
pasar Subarjo. Keputusan tetap bertahan di kampung
pekerja kayu yang kini mulai sepi ini, dikarenakan
Sudarmadi harus menunggu anaknya menamatkan sekolah
dasar di SD Barito Pasifik.
Menjadi pedagang dompet dikatakan Sudarmadi, hasilnya
sangat tidak dapat diharapkan, karena omset penjualan
sangat minim. “Kalau mengandalkan hasil dari berjualan
saat ini, tidak mencukupi untuk biaya hidup
sehari-hari,” katanya.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,
isterinya ikut membantu dengan berjualan nasi kuning.
Sedangkan modal berdagang ini, diambil dari sebagian
uang pesangon yang ia dapatkan dari perusahaan.
Alas an lain, mengapa Sudarmadi memilih tetap
bertahan adalah adanya kabar, perusahaan tempatnya
bekerja akan kembali beroperasi setelah masalah
tersendatnya pasokan bahan baku kayu akibat, operasi
hutan lestari I 2006 yang dijalankan Polda Kalsel
berakhir. Sudarmadi dan sebagian pekerja lainnya,
sangat berharap perusahaan segera kembali beroperasi.
“Di kampungpun, sudah tidak ada apa-apa lagi. Mau
tidak mau, saya harus tetap bertahan sambil mencari
peluang pekerjaan lainnya,” terang Sudarmadi yang juga
diamini rekannya Tohirin.
Tohirin (30), adalah mantan pekerja di sebuah
perusahaan kayu di desa Jelapat. Pria asal
Jombang-Jawa Timur ini, sudah berhenti dari perusahaan
tempatnya bekerja sejak setahun terakhir. Waktu itu,
uang pesangon dari kebijakan permintaan pengunduran
diri dari perusahaan hanya sebesar satu juta rupiah.
Kini, tulang punggung penghasilan keluarga dipikul
isterinya yang bekerja di kantin perusahaan kayu.
Tohirin yang mengaku hanya tamatan SD ini, terpaksa
beralih profesi menjadi pedagang pentol di sekitar
pelabuhan Jelapat. Dari berdagang pentol ini, Tohirin
mampu membawa pulang uang perhari rata-rata Rp 20.000.
(Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: