Industri Perkayuan

Kampung Subarjo Menjadi Kota Mati

BANJARMASIN, (JK):2006
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, suasana di kampung
Subarjo desa Jelapat Kecamatan Tamban Kabupaten Barito
Kuala, terlihat sepi. Padahal kampung di pinggiran
sungai Barito yang dihuni sekitar 8.000 jiwa,
merupakan perkampungan padat dimana mayoritas
penduduknya adalah para pekerja perusahaan perkayuan.
Dari kejauhan, sesaat sebelum tiba di pelabuhan
penyeberangan di desa Jelapat, aktifitas warga
pinggiran sungai yang sebelumnya sangat dinamis, kini
terlihat sepi. Deretan pertokoan dan warung-warung
makan, disepanjang jalan di kampung Subarjo juga
tampak lengang.
Hanya terlihat, sejumlah motoris kelotok duduk
dipinggir pelabuhan, menunggu penumpang. Beberapa
tukang ojek, aktif menawarkan jasa untuk mengantar
penumpang feri penyeberangan yang turun dari kapal ke
tempat tujuan. Sebagian dari tukang ojek tersebut,
adalah mantan pekerja perusahaan perkayuan yang
terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Terserah pak, asal pantas aja,” kata Mulyono (35),
ketika salah seorang calon penumpang ojek yang minta
diantarkan ke satu tempat di wilayah Kecamatan Tamban.
Para tukang ojek di pelabuhan Jelapat, kini tidak bisa
memberlakukan tariff ojek mutlak seperti sebelumnya.
Mereka kini terpaksa, fleksibel dalam penetapan tariff
ojek.
Jumlah penumpang yang memanfaatkan jasa antaran ojek
ini, jauh menurun seiring tutupnya sejumlah industri
perkayuan di wilayah ini. Biasanya para pengojek,
paling sedikit mendapatkan penghasil dari mengojek
antara Rp 50.000 hingga Rp 60.000 perhari. Kini,
akibat sepinya penumpang, para pengojek yang jumlahnya
justru bertambah karena sebagian pekerja korban PHK
beralih profesi menjadi pengojek, mengalami penurunan
drastic.
Rata-rata satu tukang ojek dari sekitar 20an orang
tukang ojek yang ada, hanya mampu mendapatkan hasil Rp
15.000 perhari. Uang sebesar ini, dinilai sangat tidak
memadai untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Perekonomian masyarakat di kampung Subarjo, mengalami
kelesuan sebagai imbas dari terpuruknya industri
perkayuan di sekitar yang sebelumnya menjadi penopang
utama perekonomian masyarakat di sana. Dalam beberapa
waktu terakhir, sumber penghasilan masyarakat, seperti
warung-warung makanan dan minuman, pasar dan toko-toko
kebutuhan pokok, hingga para pemilik rumah kos-kosan
ikut terhenti. Bahkan Kampung Subarjo yang dinamis,
kini terasa menjadi kota mati, terlebih pada malam
hari karena hampir sama sekali tidak ada kegiatan
masyarakat.
Suwarno (40), Ketua RT 4 Kampung Subarjo adalah
pemilik dua buah rumah kos-kosan di kampung Subarjo.
Rumah kos Suwarno yang disekat-sekat menjadi empat
kamar itu, tadinya dipenuhi para pekerja perusahaan
kayu asal Jawa. Kini rumah kos-kosan Suwarno, kosong
karena ditinggalkan penghuninya yang pulang ke kampung
asalnya karena terkena PHK.
Untuk tiap kamar kosnya, Suwarno dan keluarganya
mendapatkan uang sebesar Rp 75.000 per bulan. Dengan
tidak adanya, penghuni kos telah mempengaruhi
kehidupan warga setempat yang mengandalkan penghasilan
dari jasa kos-kosan ini. Terlebih Suwarno juga adalah
seorang pekerja sebuah perusahaan perkayuan, yang
mengalami nasib terPHK.
Hingga kini, dikatakan Suwarno dirinya masih bingung,
bagaimana mendapatkan mata pencaharian pengganti,
setelah tutupnya industri perkayuan ini. “Kebutuhan
sehari-hari kami, dicukupi dari sisa uang pesangon dan
uang sewa kos terakhir pekerja,” katanya.
Yang terpikirkan saat ini, menurut Suwarno adalah
pulang ke kampung halamannya di Hulu Sungai Tengah
untuk menjadi petani. Sedangkan, rumah-rumah kos
miliknya di kampung Subarjo, bukanlah hak mereka
karena dibangun di atas tanah milik perusahaan
perkayuan.
Nasib, dialami Suwarno ini, juga dirasakan ratusan
warga setempat yang selama ini, mengandalkan
penghasilan sebagai juragan kos. Lebih dari 6.000
orang penduduk Kampung Subarjo adalah para pekerja
sejumlah perusahaan perkayuan di sepanjang sungai
Barito, diantaranya PT Barito Pasifik, PT Daya Sakti
Unggul Coorportion dan Pt Tanjung Selatan Makmur Jaya.
Nasib serupa, juga dialami Rambi (30), pemuda asal
Amuntai-Hulu Sungai Utara ini, sejak tiga tahun
terakhir, membuka usaha jahit dengan nama Rambi
Tailor. Menurut Rambi, sebelumnya dirinya, banyak
mendapat order pesanan jahitan baju dan seragam dari
para pekerja kayu. Kini, hampir tidak ada sama sekali,
pesanan yang datang padanya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: