Lingkungan

DAS Barito Terancam Akibat Kerusakan Lingkungan

BANJARMASIN, (JK):2006
Deretan kapal-kapal tongkang bermuatan ribuan potong
kayu gelondongan, maupun bermuatan hasil tambang
batubara yang ditarik kapal tunda (tug boat) hingga
kini masih mewarnai arus pelayaran di sepanjang sungai
Barito. Hasil hutan dan tambang ini, diangkut dari
bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) Barito yang
berada di wilayah Kalimantan Tengah.
Bahkan, angkutan hasil tambang batubara mendominasi
hingga 80 persen frekwensi arus transportasi di sungai
Barito. Setiap dulu puluh menit akan terlihat armada
tongkang mengangkut gunungan kecil emas hitam
berkapasitas sekitar 8.000 metric ton melintas.
Eksploitasi sumber daya alam hutan dan tambang, di
wilayah hulu yang sudah berlangsung sejak puluhan
tahun ini, dinilai menjadi penyebab utama kerusakan
lingkungan. Degradasi kawasan hutan serta hilangnya
catchment area, berimbas pada menurunnya kearifan
lingkungan sepanjang DAS Barito.
“Kerusakan lingkungan yang begitu luar biasa di
wilayah hulu DAS Barito, menjadi penyebab timbulnya
bencana banjir saat penghujan dan pendangkalan sungai
saat kemarau,” kata Rachmadi Kurdi Kepala Badan
Pengendalian dan Dampak Lingkungan (Bapedalda) Kalsel.
Kerusakan lingkungan ini, telah mengancam kehidupan
masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS Barito.
Sungai barito tercatat mengalami pencemaran hingga ke
taraf berbahaya. Pencemaran ini, disebabkan limbah
industri di sepanjang sungai, sampah rumah tangga
serta maraknya kegiatan pertambangan emas di bagian
hulu di Kalteng yang mempergunakan logam berat air
raksa. Tercatat tingkat kekeruhan air sungai mencapai
jauh diambang batas, termasuk pencemaran logam berat.
Sungai Barito yang membelah wilayah provinsi
Kalimantan Selatan dan berhulu di provinsi tentangga
Kalimantan Tengah, sepanjang lebih kurang 400
Kilometer sejak dulu selalu mengalami pendangkalan.
Bahkan, sungai yang menjadi sarana vital transportasi
dan perekonomian di dua provinsi ini, disebut-sebut
sebagai salah satu sungai dengan tingkat sendimentasi
tertinggi di dunia, setelah sungai Kuning (Han) di
China.
Selain masalah karakteristik sungai yang memiliki
tingkat sendimentasi tinggi, masalah kerusakan
lingkungan telah memicu laju pendangkalan sungai
barito dari hulu ke hilir. Menurut data Dinas
Perhubungan Kalsel dalam sebulan tercatat tidak kurang
dari 15 kali peristiwa kecelakaan kapal berupa
kandasnya kapal akibat terjebak lumpur sungai.
Kondisi pendangkalan sungai Barito, telah menjadi
masalah tersendiri bagi kelancaran arus transportasi
laut di wilayah ini. Sejak puluhan tahun silam,
transportasi di wilayah sungai barito hanya
mengandalkan pasang surut sungai. Artinya, kapal-kapal
berbadan besar seperti kapal penumpang dan barang
hanya dapat melintas saat air pasang selama enam jam.
Selebihnya kapal-kapal harus bertahan menunggu air
pasang, baik di dermaga pelabuhan Trisakti maupun di
muara sungai berjarak 13,5 mil ke laut luar.
Pemerintah pusat, sejak tahun 1970-an telah melakukan
kegiatan pemeliharaan alur Barito dengan pengerukan
yang dilakukan PT Rukindo. Biaya yang dikeluarkan
dalam upaya mengatasi masalah pendangkalan ini,
mencapai delapan miliar setiap tahunnya.
Hingga tahun 1998/1999 pendanaan kegiatan
pemeliharaan alur barito mengalami kendala dan
kemudian kewenangan pemeliharaan alur diambil alih
pemerintah provinsi Kalsel. Namun upaya pengerukan
(capital dreging) yang dilakukan dengan mendatangkan
berbagai investor bidang pengerukan juga mengalami
kegagalan dan hingga kini masalah pendangkalan sungai
barito belum teratasi. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: