Sumber Daya Alam

Wisata Baru di Kampung Bali

MARABAHAN, (JK):2006
Munculnya semburan lumpur bercampur gas methan di desa
Kolam Kanan Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala
Kalimantan Selatan, sejak beberapa pekan terakhir tak
urung membuat desa transmigrasi yang lokasinya
terpencil ini menjadi terkenal. Berkat semburan lumpur
ini, desa Kolam Kanan yang dihuni warga transmigran
asal Bali menjadi obyek tujuan wisata baru.
Sejak peristiwa semburan lumpur dari sumur bor milik
Kadek Kundri (32) dan orang tuanya Ketut Tegal (65) di
desa Kolam Kanan, pada 24 November 2006 lalu, wilayah
ini menjadi ramai dikunjungi warga luar desa. Hampir
setiap hari, ratusan orang dari berbagai penjuru
wilayah di Kalimantan Selatan, bahkan sejumlah tim
peneliti dari Jakarta dan luar negeri datang untuk
mengamati fenomena alam semburan lumpur tersebut.
Desa Kolam Kanan berjarak sekitar sepuluh kilometer
dari ibukota Kabupaten Barito Kuala. Desa ini, dihuni
sekitar 400 KK warga transmigran tahun 1971 asal Bali.
Keunikan kehidupan warga yang masih memegang teguh
tradisi, agama dan adat istiadatnya menjadi daya tarik
tersendiri bagi warga luar untuk datang ke kampung
bali ini.
Masyarakat yang sebagian besar datang dari luar desa
itu, rela berdesakan di bawah terik matahari, sekadar
untuk menyaksikan dari kejauhan seperti apa semburan
lumpur menghebohkan tersebut. Aparat keamanan,
terpaksa membuat garis dan pagar pembatas, agar warga
tidak mendekati lokasi semburan dengan pertimbangan
ancaman bahaya semburan lumpur bercampur gas.
?Peristiwa semburan lumpur ini, membuat desa ini
menjadi terkenal dan kami berharap, akan ada perhatian
pemerintah daerah untuk membangun desa kami,? kata
Nyoman Warte tokoh agama (Parisade) desa Kolam Kanan.
Walau warga setempat sempat mengkhawatirkan semburan
lumpur akan menjadi bencana seperti semburan lumpur di
Sidoarjo-Jawa Timur, namun lambat laun warga mulai
terbiasa, setelah mendapatkan sosialisasi dari dinas
terkait mengenai kondisi semburan yang dikatakan
berbeda dengan semburan lumpur Sidoarjo.
Oleh warga setempat, fenomena alam yang muncul di
desanya dimanfaatkan dengan menarik sumbangan bagi
pengunjung serta pengelolaan parkir. Setiap harinya,
tidak kurang dari satu setengah juta rupiah dapat
dikumpulkan warga yang kemudian diperuntukkan bagi
kebutuhan warga setempat, terutama korban semburan.
Tidak terkecuali, bagi pedagang kecil dan pemilik
warung di desa Kolam Kanan, ikut mengeruk keuntungan.
Desa Kolam Kanan, yang sebelumnya sepi dan terpencil
kini menjadi ramai.
Kesulitan Air Bersih
Sejak dijadikan daerah transmigrasi tahun 1971 silam,
desa Kolam Kanan yang merupakan daerah rawa gambut
cenderung tidak subur. Hingga kini warga setempat,
hanya mengandalkan pertanian padi diselingi kebun
nenas di lahan pasang surut dengan penghasilan
pas-pasan.
?Tanah disini tidak subur dan warga juga sulit
mendapatkan air bersih,? kata Reban Widodo, kepala
desa Kolam Kanan. Karena wilayah desanya merupakan
daerah rawa gambut yang tidak subur, maka sebagian
besar warga desa Kolam Kanan, terutama kaum laki-laki
memilih mencari pekerjaan di luar desa menjadi buruh
tani atau buruh pertukangan.
Untuk keperluan hidup sehari-hari, warga terpaksa
mengkonsumsi air dari sumur yang berwarna kehitaman,
karena bercampur gambut. Dan baru beberapa tahun
terakhir, pemerintah daerah, memberikan bantuan air
bersih melalui tandon-tandon air. Itupun kerap tidak
mencukupi, karena air bersih datang dua atau tiga hari
sekali.
Masalah air bersih inilah, terlebih saat musim
kemarau seperi ini membuat warga mencoba membangun
sumur bor, untuk mendapatkan air bersih. Inisiatif
untuk membangun sumur bor ini, dilakukan keluarga
Kadek Kundri yang menyewa pekerja pembuat sumur bor
dari desa tetangga Belawang dengan biaya Rp 5,5 Juta.
Sedianya, air bersih yang diharapkan keluar dari
sumur bor ini akan dimanfaatkan bagi 20 KK RT 10 desa
Kolam Kanan. Bagai pepatah untung tak dapat diraih,
malang tak dapat ditolak, pembuatan sumur bor di
kedalaman 135 meter menerobos perut bumi melalui 36
sambungan pipa itu, berbuah bencana semburan lumpur
bercampur gas methan.
Semburan lumpur pertama ini, cukup mengagetkan warga
sekitar karena semburan mengeluarkan suara gemuruh dan
getaran seperti gempa. Lumpur yang keluar dari sumur
bor bercampur pasir kuarsa itu, mencapai ketinggian
puluhan meter dan merusak dua rumah milik Kadek
Kundri.
Walau mulai menyusut, namun semburan lumpur dari
sumur bor yang kini melebar hingga lima meter
tersebut, masih terus berlangsung. Serangkaian
penelitian yang dilakukan tim ahli geologi dari dalam
dan luar negeri, telah menemukan adanya kandungan gas
methane cukup besar dari semburan lumpur ini.
Dinas Pertambangan ESDM Kalsel, saat ini sedang
melakukan penelitian bersama pihak terkait dalam
rangka penjajakan pemanfaatan kandungan gas methane
menjadi sumber energi baru. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: