Kapal Tradisional

Industri Kapal Tradisional Kesulitan Bahan Baku

BANJARMASIN, (JK):2005

Era tahun 1980-an merupakan era keemasan bagi industri
kapal tradisional di Kalimantan Selatan. Pada masa itu
industri kapal tradisional yang banyak terdapat di
wilayah Kabupaten Tanah Bumbu (dulu Kotabaru) ini
berkembang pesat hingga ratusan buah. Namun kini,
akibat kesulitan bahan baku, industri kapal yang
mayoritas memproduksi kapal kayu jenis Pinisi dan
Lambo tersebut, banyak gulung tikar.

Jika kita memasuki wilayah Kabupaten Tanah Bumbu
yang terletak di Tenggara Kalsel dan berjarak tempuh
tujuh jam dari Banjarmasin, tepatnya di desa
Batulicin Kecamatan Batulicin kita akan menjumpai
beberapa buah kapal kayu tradisional ukuran besar
sandar di galangan kapal di perairan Batulicin, tak
jauh dari pelabuhan Batulicin.

Kapal-kapal tersebut sudah beberapa tahun ini,
tertahan di sana karena belum selesai dikerjakan.
Masalah utama yang dihadapi para pengusaha kapal
tersebut, adalah semakin langkahnya mendapatkan bahan
baku utama pembuatan kapal yaitu kayu jenis Ulin (kayu
besi).

Seperti dituturkan Haji Wahab, salah seorang
pengusaha kapal yang masih bertahan dulu sekitar tahun
1980-an hingga memasuki tahun 2000, bahan baku
pembuatan kapal dari kayu jenis Ulin ini, sangat mudah
diperoleh. Waktu itu masyarakat dapat dengan mudah
mengambil kayu di sekitar kawasan hutan Kotabaru.

Kayu-kayu setengah illegal tersebut, dapat
diambil secara mudah, karena saat itu memang masih
banyak tersedia kayu. Kayu hasil tebangan masyarakat
di sekitar kawasan pegunungan Meratus ini, setelah
melewati beberapa pos pungutan aparat akan dijual
kepada para pengusaha kapal.

Tak tanggung-tanggung bahan baku pembuatan kapal
dari kayu ulin ini, adalah kayu Ulin super atau
pilihan dengan diameter 40 centimeter dengan panjang
15 meter hingga 25 meter. Kayu ini menurut Haji Wahab
digunakan untuk pembuatan lunas kapal.

Demikian juga dengan pembuatan dinding kapal dan
tiang kapal, semua menggunakan bahan baku pilihan. Tak
jarang, kayu hasil tebangan yang sudah tiba di
galangan kapal di tolak oleh tukang kapal, karena
dinilai tidak layak. Intinya pembuatan kapal kayu
tradisional ini, memerlukan bahan baku berkualitas
tinggi, sementara dari tahun ketahun ketersediaan
bahan baku kayu jenis ini semakin langkah seiring
semakin menipisnya kawasan hutan.

Dulu, kapal-kapal kayu Pinisi (kapal khas Bugis,
bentuknya ramping bertiang banyak) dan kapal Lambo
(bentuknya besar bertiang satu), berukuran besar atau
diatas 25 meter, banyak diproduksi dari Kalsel
berdasarkan pesanan berbagai daerah bahkan
mancanegara. Pembuatan kapal tradisional ini, memakan
waktu hingga tiga tahun, tergantung ketersediaan bahan
baku dengan ongkos pembuatan kapal mencapai tiga
miliar rupiah.

Para ahli pembuat kapal ini merupakan orang-orang
keturunan Ara Bulu Kumba yaitu masyarakat keturunan
pembuat kapal khas Sulawesi di Sulawesi Selatan.
Mereka ini tidak hanya ahli pertukangan , tetapi juga
mahir soal “magis” dalam pembuatan kapal tersebut.
Tiap batang kayu yang akan dijadikan bahan baku kapal,
harus melalui proses ritual untuk mengetahun layak
tidaknya kayu tersebut digunakan. Hebatnya para tukang
kapal ini, merancang kapal tidak pernah menggunakan
denah atau gambar.

Haji Wahab sendiri merupakan salah satu keturunan
masyarakat Ara Bulu Kumba. Menurut Wahab di jaman
keemasannya kapal tradisional produksi Tanah Bumbu
ini, terkenal hingga ke manca negara. Namun seiring,
semakin sulitnya mendapatkan bahan baku kayu jenis
Ulin industri pembuatan kapal tradisional yang
merupakan satu-satunya di wilayah Kalsel ini semakin
pudar.

Kini hanya tersisa tak lebih dari dua tiga orang
pengusaha saja masih bertahan. Itupun hanya
menyelesaikan pesanan sejak beberapa tahun silam.
Diakui Wahab, kini mereka terpaksa mendatangkan bahan
baku dari luar Kalsel, secara sembunyi-sembunyi,
dengan resiko besar dan harga mahal.

Penjabat Bupati Tanah Bumbu Zairullah, mengatakan
keberadaan industri pembuatan kapal di wilayahnya,
menjadi perhatian utama Pemkab Tanah Bumbu. Saat ini,
sedang diupayakan kebijakan untuk mempermudah
masyarakat mendapatkan bahan baku kayu jenis Ulin yang
mulai langkah tersebut.

Selain itu, sedang dicanangkan penanaman bibit
pohon ulin yang diharapkan akan dapat menjadi cadangan
bahan baku pembuatan kapal di masa datang. Penanaman
bibit pohon ulin ini, dipusatkan dibekas areal
tambang, dan tahun 2004 sudah mulai ditanam di lahan
seluas 100 hektar.

Lebih jauh dikatakan Zairullah, pihaknya bertekad
untuk mempertahankan dan menghidupkan kembali
keberadaan industri pembuatan kapal yang merupakan
asset daerah. Dimasa datang, pembuatan kapal ini,
tidak hanya mengandalkan bahan baku dari alam tetapi
menggunakan bahan baku modern seperti fiber glass dan
dengan peralatan modern pula. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: