Lingkungan

Gunungpun Berubah Jadi Kawah Raksasa
TANJUNG, (JK): 2007
Debu-debu mengepul diudara mengiringi, laju sejumlah truk raksasa bermuatan tidak kurang dari 240 ton batubara di sebuah lokasi tambang Zona Tutupan, milik perusahaan tambang PT Adaro Indonesia. Dari atas bukit pada ketinggian 120 meter diatas permukaan laut, terlihat aktifitas penggalian dan pengangkutan batubara yang membongkar perut bumi mencapai minus 60 meter.
Puluhan alat berat, bulldozer maupun truk pengangkut batubara yang hilir mudik mengitari lereng-lereng tambang mengangkut batubara tersebut terlihat begitu kecil. Sesampai diatas, batubara dari dasar bumi itu ditumpuk di lokasi penumpukan (stockpile) dan kemudian baru diangkut menggunakan truk trailer besar menuju pelabuhan khusus.
“Dulu di sini ada tujuh gunung (bukit besar), dan kini sudah berubah menjadi kawah raksasa,” ungkap Khairul,40, warga setempat sambil menunjuk ke dasar lokasi tambang yang maasuk wilayah Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Pada sisi lain, terlihat pula puluhan kolam-kolam dan sungai, yang menampung limbah tambang berkategori bahan beracun dan berbahaya (B3).
Belasan tahun lalu, wilayah Tutupan merupakan daerah perbukitan berhutan lebat. Setelah masuknya perusahaan tambang skala besar, gunung-gunungpun dipangkas dan dikeruk, untuk mendapatkan emas-emas hitam yang menjadi sumber energi primadona devisa negara.
Kini bentang alampun berubah, gunung-gunung hijau berhutan lebat yang menjadi area penyangga air, menjadi kawah raksasa berukuran hampir seribu hektar, dikelilingi padang tandus. Khairul sendiri, merasa bersyukur bisa berkerja di perusahaan tambang, setelah kampung halamannya hilang menjadi areal tambang.
Demikian juga dengan kehidupan masyarakat sekitar tambang, tidak kunjung sejahtera, walau pihak perusahaan mengklaim terus menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendongkrak kehidupan warga. Sebagian besar warga sekitar tambang, masih tinggal digubuk-gubuk sederhana dan mengandalkan hidup dari bertani.
Agus Subandrio, Kepala Departemen Lingkungan Pt Adaro Indonesia, mengatakan sejak beroperasi pada 1992 silam, pekerjaan eksploitasi tambang sudah mencapai 1.200 hektar. Luas areal tambang ini, masih kecil dibandingkan luas lahan konsesi diberikan pemerintah kepada perusahaan yang mencapai 35.800 hektar.
Areal tambang, berada di tiga lokasi yaitu, tambang Paringin, Kabupaten Balangan dan tambang Wara dan Tutupan, Kabupaten Tabalong. “Kita memang harus melakukan pengerukan dengan membuat kawah besar, agar cadangan batubara yang berada hingga 300 meter di perut bumi dapat diambil,” katanya.
Setiap tahun, hasil tambang yang keruk mencapai lebih dari 30 juta ton dan terus bertambah seiring tingginya permintaan pasar dunia terhadap komoditas ini. PT Adaro Indonesia, hanya salah satu perusahaan tambang yang melakukan eksploitasi tambang, dengan cara membongkar perut bumi.
Masih ada 26 perusahaan tambang batubara skala besar atau pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B), dimana 13 diantaranya sudah mulai beroperasi seperti PT Arutmin Indonesia, dengan konsesi terbesar yaitu 76.000 hektar dan lainnya. Juga ada 256 perusahaan tambang dengan ijin kuasa pertambangan (KP) dari pemerintah daerah.
Meski dalam perkembangannya, sebagian KP-KP tersebut terhenti beroperasi akibat kegiatan penertiban pertambangan liar oleh kepolisian dan masalah tumpang tindih dengan kawasan hutan. Dari semua kegiatan pertambangan itu, memproduksi tidak kurang dari 70 juta ton pertahun. Itupun belum termasuk, taksiran produksi yang tidak dilaporkan ke pemerintah sebesar 18 juta ton.
Booming eksploitasi tambang batubara, pada awal 2000 menyebabkan hutan-hutan, termasuk perkebunan dibabat dan dijadikan areal tambang. Sisanya adalah hamparan lobang-lobang besar menganga dan tergenang air yang ditinggalkan begitu saja, tanpa ada upaya mereklamasi.
Selain aktifitas tambang batubara, ancaman lain kerusakan lingkungan di kalsel adalah mulai maraknya eksploitasi tambang biji besi, nikel serta pertambangan emas. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) kalsel, sendiri secara tegas mendesak pemerintah melakukan moratorium terhadap kegiatan pertambangan, mengingat kondisi kerusakan lingkungan yang sedimikian parah terjadi. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 13, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: