Ekonomi Rakyat

Panen Ikan di Lautan Rawa

AMUNTAI (JK):2007
Tangan Aidah,46, begitu cekatan mengangkat jaring
(ancau) dari dasar rawa. Terlihat puluhan anakan ikan
rawa menggelepar terperangkap jaring yang kemudian
langsung diambilnya dengan menggunakan tangguk kecil
atau cerok.
Aidah tidak sendirian, ia dibantu ketiga anaknya yang
masih kecil. Anak tertuanya, Husin (12), terlihat
bekerja keras membantu ibunya menangkap ikan rawa atau
dalam bahasa banjarnya maancau.
Setiap beberapa menit, jaring berbentuk segi empat
yang diikatkan dengan bambu sebagai pegangan itu
diangkat kepermukaan. Dan saat itupula, puluhan anakan
ikan berukuran dua sampai delapan centimeter,
terperangkap dalam jaring dipindahkan ke ember-ember
besar yang sudah disediakan sebagai tempat menaruh
hasil tangkapan.
“Lumayanlah hasilnya, cukup untuk biaya hidup dan
sekolah anak-anak,” katanya Aidah sumringah. Pekerjaan
menangkap ikan rawa ini, sudah digeluti Aidah dan
keluarga sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Pekerjaan
sampingan menangkap ikan rawa ini, cukup memberi
tambahan penghasilan bagi keluarganya selain pekerjaan
pokoknya bertani.
Sang suami, Lukman,50, sehari-sehari juga menjadi
nelayan rawa dengan menangkap ikan rawa seperti Sepat,
Haruan, Saluang dan Papuyu. Bedanya LUkman, menangkap
ikan menggunakan sampan atau jukung kecil menjelajah
lautan rawa di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara
hingga Hulu Sungai Tengah.
Pekerjaan maancau yang awalnya coba-coba itu, kini
menjadi pekerjaan tetap keluarga Aidah, setiap musim
penghujan. Saat musim penghujan yang ditandai dengan
naiknya permukaan rawa, ikan-ikan kecil berenang agak
ke tepi dan naik kepermukaan sehingga mudah untuk
dijaring.
Kegiatan maancau ini, dilakukan puluhan keluarga Desa
Sungai Buluh, Kecamatan Sungai Buluh, Kabupaten Hulu
Sungai Tengah dan Desa Pinang Habang, Kecamatan Sungai
Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Puluhan kilometer
di pinggiran rawa jalan antar kabupaten ini, terlihat
puluhan pondokan tempat warga menangkap ikan.
Setiap hari, dari subuh hingga petang puluhan keluarga
menggantungkan hidupnya dengan menangkap ikan rawa.
Layaknya piknik keluarga di pantai rawa, para
penangkap ikan ini juga membawa kasur dan bantal serta
tidak ketinggalan berbekal beras, serta bumbu dapur
untuk dimasak saat makan siang dan sore.
Untuk lauknya, diambil dari sebagian ikan hasil
tangkapan. “Rasanya enak, gurih dan manis,” kata
Cicilia,8, anak pasangan Budi dan Mirnah yang sejak
dua bulan belakangan ini beralih profesi menjadi
penangkap ikan rawa, karena areal tanaman padi mereka
terendam banjir.
Rata-rata dalam sehari, para penangkap ikan rawa ini
mampu menangkap ikan sebanyak 50 sampai seratus
takaran, berukuran satu liter. Setiap satu takaran,
dibeli pedagang ikan dari kabupaten yang langsung
datang ke lokasi seharga Rp 1.500 sampai Rp 2.500,
tergantung jenis ikannya.
Untuk anakan ikan jenis Haruan dan Papuyu, dihargai
lebih mahal ketimbang anakan ikan jenis Sepat dan
Saluang, dengan pertimbangan rasa dan permintaan
masyarakat. Ikan lokal hasil tangkapan dari rawa itu,
kemudian dijual segar di sejumlah pasar tradisional di
Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara.
Bahkan, permintaan terhadap anakan ikan ini juga
banyak datang dari berbagai daerah termasuk
Banjarmasin. Di Banjarmasin, harga anakan ikan ini
berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 perkilonya.
Bagi masyarakat suku Banjar di Kalsel, anakan ikan ini
menjadi makanan kesukaan dengan dimasak pais (pepes),
basanga, basamu (dimasak dicampur beras), di goreng
serta pakasem (diawetkan). Sayangnya penangkapan
anakan ikan dari rawa ini, dinilai telah mengancam
kelestarian ikan local yang ditandai semakin langkanya
mendapatkan ikan local ukuran besar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 14, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: