Premanisme Tambang

Puluhan Pos Pungli Sepanjang Trans Kalimantan

BANJARMASIN, (JK):2006
Dampak lain dari terjadinya kerusakan ruas jalan Trans
Kalimantan akibat aktifitas angkutan hasil tambang
batubara di Kalimantan Selatan adalah bermunculannya
pos-pos pungutan liar yang dilakukan masyarakat dengan
alas an perbaikan jalan dan uang pencemaran debu
batubara. Tidak hanya kepada angkutan batubara,
pungutan dengan besaran Rp 500 hingga Rp 1.000 ini
juga diberlakukan bagi angkutan barang lainnya.
Hal inilah yang kerap memberatkan para sopir truk
saat melintas di ruas jalan trans kalimantan. Husaini
(35) warga Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang
berprofesi sebagai sopir angkutan barang tujuan
Kalimantan Timur, mengatakan keberadaan pos-pos
pungutan yang menarik uang dari para sopir sangat
memberatkan para sopir.
“Kami terpaksa memberikan uang yang mereka minta,
karena jika tidak memberi mereka dapat berlaku kasar
bahkan sampai pemukulan,” katanya. Besar retribusi
yang harus dibayar berkisar Rp 500 hingga Rp 1.000.
Tetapi jumlah pos pungutan ini mencapai puluhan buah
dan masing-masing desa membuat pos tersendiri.
Pos ini dibangun dengan menaruh drum atau kayu
ditengah jalan. Pos ini dijaga beberapa orang warga
sepanjang hari dengan tujuan utama menarik pungutan
sebagai pengganti uang perbaikan jalan rusak dan uang
kompensasi pencemaran debu dari angkutan batubara dan
angkutan barang lainnya.
Belum lagi maraknya kegiatan permintaan sumbangan
bagi pembangunan tempat ibadah dengan modus serupa,
menaruh kayu atau drum di tengah jalan. Saat melewati
pos-pos ini, para sopir terpaksa memelankan laju
kendaraannya karena tidak ingin terjadi hal-hal tidak
diinginkan.
Selain menghadapi puluhan pos pungutan, Husaini yang
sudah menjadi sopir hampir enam tahun mengatakan
kerusakan jalan membuat waktu tempuh dari Banjarmasin
ke perbatasan Kalimantan Timur menjadi lebih lama.
Rata-rata waktu tempuh normal Banjarmasin-Tabalong
adalah delapan jam. Kini karena kerusakan jalan yang
mengharuskan truk antri, semakin lama menjadi dua
belas jam.
“Kerap terjadi kemacetan karena kecelakaan di jalan,
sehingga kami terpaksa menunggu hingga berjam-jam
lamanya,” katanya. Kecelakaan yang kerap terjadi
adalah tabrakan armada batubara maupun armada batubara
yang terguling, saat melintas di jalan yang rusak.
Kondisi ini menurut Husaini sudah berlangsung
bertahun-tahun sehingga para pengguna jalan hanya bisa
pasrah dengan keadaan tersebut. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 14, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: