Tambang Rakyat

Batubara Digali Dengan Cangkul

BANJARMASIN, (JK):2006
Sekelompok pria terlihat asyik bermain bilyar di ruang
VIP pusat permainan bilyar Bolamas di Banjarmasin.
Lima orang pria muda ini, adalah para pengusaha
batubara yang terbilang sukses di Kalimantan Selatan.
Tapi siapa sangka, sebelum sukses mereka memulai karir
usaha dari penambangan batubara liar dan hanya
bermodalkan cangkul saja.
TH, nama salah seorang pengusaha batubara tersebut.
Kepada Media, ia meminta namanya dirahasiakan karena
takut akan ada tekanan dari banyak pihak terutama
aparat keamanan. TH, pria asal Jawa ini sudah memulai
karir dalam bisnis batubara sejak tahun 1998.
Waktu itu, menurutnya tidak banyak kegiatan
penambangan batubara seperti sekarang ini dan uniknya
untuk memulai menambang tidak diperlukan mengantongi
ijin kuasa pertambangan, cukup melapor kepada aparat
keamanan setempat sembari memberikan uang pelicin,
maka kegiatan penambangan sudah dapat dimulai.
“Saat itu untuk ijin Kp ke pusat diperlukan biaya
hingga lima miliar rupiah dan tidak mungkin kami bisa
membuat ijin,” kata TH yang kini sudah punya empat
ijin KP dari pemerintah daerah Kabupaten Tanah Laut
dan Tanah Bumbu. Sementara, informasi yang diperoleh
dari perusahaan pertambangan skala besar diketahui
bahwa harga batubara sangat tinggi dan banyak
permintaan dari luar.
TH menuturkan, dirinya menjalani karir sebagai
pengusaha batubara tidak secara disengaja. Kala itu,
seorang petani bernama Rusdi yang tinggal di Tanah
Bumbu (waktu itu masih wilayah Kotabaru), bercerita
tentang penemuan deposit batubara di lahan
pertaniannya saat sedang mencangkul.
Bersama pemilik lahan ini, TH kemudian mejajagi
seberapa banyak kandungan batubara di lahan seluas 600
hektar tersebut. Tanah pertanian yang subur itu, cukup
digali dengan cangkul sedalam satu meter dan sudah
ditemukan singkapan batubara tebal memanjang.
Mulai dari sinilah, TH menjalani bisnis batubaranya.
Bermodalkan uang seratus juta rupiah, TH menyewa alat
berat (escavator) senilai Rp 50 Juta per bulan dan
sisanya untuk sewa truk pengangkut batubara ke
stokfile atau lokasi penampungan, dengan biaya Rp
15.000 satu rit. Batubara yang dikeruk di lahan
pertanian itu, dijual ke perusahaan besar dengan harga
Rp 45.000 per ton di stokfile.
Setelah penambangan berlangsung satu bulan, dan
menerima hasil dari bisnis batubaranya, TH diwajibkan
membayar ganti rugi lahan kepada pemilik lahan sesuai
perjanjian sebesar Rp 3.000 per ton batubara yang
terjual. Selain itu, fee (sumbangan wajib) kepada desa
Rp 1.000 per ton, fee LKMD sebsar Rp 3.000 per ton dan
Fee pemanfaatan jalan masyarakat Rp 5.000 per ton.
Sementara untuk memperlancar usahanya, TH juga
diwajibkan menyetor kepada pihak kepolisian Rp 15 Juta
perbulan, ditambah setoran keamanan kepada Kodim dan
Koramil. Dengan harga jual dilokasi penumpukan sebesar
Rp 45.000 per ton, TH masih mampu meraup untung
sebesar Rp 20.000 per ton, suatu jumlah sangat besar.
Penambangan batubara secara liar, selain tanpa
dibekali perijinan juga tidak memandang dilahan milik
siapa (konsesi) yang penting setiap lahan ada
batubara, ada persetujuan masyarakat setempat dan
aparat maka proses penambangan dapat dilakukan.
Penambangan liar ini, juga marak terjadi di wilayah
Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Tapin, Banjar dan Hulu
Sungai Selatan.
Hancurnya kegiatan penambangan liar ini, ketika pihak
kepolisian mulai gencar melakukan penertiban tambang
liar sekitar tahun 2000. TH, mengaku saat penertiban
dilakukan Polda Kalsel pada tahun 2000 lalu, dua alat
berat dan anak buahnya (operator) sempat ditahan
polisi.
Namun dengan membayar jaminan sebesar Rp 50 Juta,
alat berat dan anam buahnya dapat dikeluarkan. Di era
bebasnya penambangan tanpa ijin ini, TH berhasil
mengeruk batubara mencapai 100.000 ton. Dari bisnis
ini, TH sontak berubah menjadi pengusaha muda yang
sukses, memiliki sejumlah rumah dan mobil mewah.
Dari hasil tambang illegal inilah, TH bisa
mendapatkan empat ijin KP dari pemerintah kabupaten
Tanah Bumbu dan Tanah Laut, dengan proses singkat dan
mudah. “Untuk mendapatkan ijin KP ekplorasi cukup
membayar Rp 300 Juta dan saat ditingkat menjadi
eksploitasi menjadi Rp 600 Juta,” katanya.
Berbeda saat TH masih menjadi pelangsir batubara,
kini TH sudah mempunyai 50 orang anak buah di lokasi
tambang dan mempunyai jaringan bisnis batubara untuk
eksport. Sayangnya tiga dari ijin KP yang
dikantonginya dari pemerintah daerah ternyata
bermasalah karena terjadi tumpang tindih lahan dengan
lahan konsesi perusahaan pemegang PKP2B.
Kini TH hanya mengandalkan satu Kpnya yang kebetulan
tidak bermasalah. Tetapi untuk KP-KP miliknya yang
bermasalah, masih bisa dimanfaatkan dengan melakukan
kegiatan penambangan ala Spanyol atau separuh nyolong,
yaitu melakukan penambangan di lahan konsesi yang
memiliki deposit batubara besar. Sejauh ini, TH
mengaku kegiatan penambangan liar yang dilakukannya,
belum menemui kendala berarti karena adanya konspirasi
dengan aparat keamanan terkait melalui sumbangan wajib
setiap bulan untuk memperlancar usahanya. (Denny
Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 14, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: