Keragaman Hayati

Anggrek Borneo Terus Diburu

BANJARMASIN, (JK)2009
Seperti pekan-pekan sebelumnya, sejak setahun terakhir kawasan jalan Akhmad Yani Kilometer 7 di depan pasar Kertak Hanyar batas Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan selalu ramai dikunjungi warga. Setiap Minggu pagi, dua sisi tepi jalan sepanjang ratusan meter, dipadati para pedagang penjual tanaman hias.

Aneka tanaman hias diperdagangkan dengan harga relative terjangkau, seperti mawar, anggrek, Aglaonema, Adenium hingga tanaman hias yang sedang digandrungi pecinta tanaman Anthurium. Tak terkecuali berbagai jenis tanaman anggrek species langka khas pedalaman Kalsel.
Tanaman anggrek ini, diambil dari hutan pedalaman di Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Selatan, Tanah Laut dan Kotabaru. Anggrek Borneo yang banyak tumbuh di pegunungan Meratus, dijual dalam jumlah besar dengan harga murah, belasan ribu hingga seratusan ribu rupiah.
Setiap akhir pekan, beberapa lokasi di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru misalnya, menjadi tempat penjualan anggrek liar. Selain anggrek, biasanya pedagang juga membawa aneka satwa langka, seperti Kukang dan aneka jenis burung.
Di tempat asalnya, tanaman anggrek yang tumbuh liar di dalam hutan, diburu secara membabi buta oleh warga setempat menyusul tingginya tingkat permintaan anggrek hutan di kota. Namun, lambat laun keberadaan anggrek borneo semakin berkurang.
“Saat ini sudah sangat jarang, pedagang yang menjual anggrek liar (species), karena keberadaannya hampir punah,” ungkap Sanah, salah seorang pengurus Perhimpunan Anggrek Indonesia Kalsel, kepada Media di rumah penangkaran anggrek miliknya di Belitung Darat, Banjarmasin.
Menurut perkiraannya, dalam dua tahun terakhir aksi perburuan anggrek di kawasan hutan Pegunungan Meratus terus berlangsung. Jika dibiarkan, kekayaan flora khas Kalsel ini semakin terancam.
Karena itu, PAI Kalsel yang beranggotakan kurang lebih 70 pengusaha dan penghobi tanaman anggrek berupaya melestarikan berbagai species anggrek khas kalsel ini. “Anggrek Kalsel baik jenis budidaya (hybrid), terlebih jenis langka banyak dicari para kolektor hingga ke manca negara,” tambahnya.
Harga satu tanaman anggrek langka bisa mencapai puluhan juta rupiah. Selain langka, sulitnya pemeliharaan menjadi penyebab mahalnya harga tanaman yang banyak dikoleksi kaum perempuan ini. Beberapa jenis tanaman anggrek yang banyak diburu antara lain, anggrek tebu, anggrek bulan dan anggrek Vanda.
Aksi perburuan anggrek liar ini, juga mendapat perhatian serius dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel. Amir Hamzah, Kepala BKSDA, perburuan anggrek liar dapat dianggap melanggar Undang-Undang nomor 05/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Dalam undang-undang ini, mengatur dan melarang dengan tegas penangkapan, atau kegiatan melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa dan tumbuhan yang dilindungi undang-undang dalam keadaan hidup maupun mati. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 17, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: