Perkotaan

Rusunawa, Hunian Nyaman Kaum Pinggiran
JK,2009
Banjarmasin, merupakan satu dari lima kota di Indonesia yang ditetapkan menjadi pilot project pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dari pemerintah. Hunian nyaman pusat kota yang diperuntukkan bagi kaum pinggiran ini, diharapkan mampu mengatasi masalah laju pertumbuhan penduduk dan kekumuhan kota.
Gedung berlantai empat, berdiri kokoh di kawasan permukiman padat penduduk di Kecamatan Banjarmasin Selatan, pinggiran Kota Banjarmasin. Sejak sebulan terakhir, sebanyak 31 keluarga berpenghasilan rendah berlatar belakang berbagai profesi seperti tukang becak, tukang ojek, pedagang keliling dan lainnya mulai menempati rusunawa yang disediakan pemerintah daerah setempat.
Jemuran yang digantung di pagar-pagar pembatas tiap lantai menjadi ciri khas tersendiri rumah susun. Ada puluhan keluarga lainnya, kini masuk daftar tunggu dan proses seleksi untuk menempati 96 petak rumah susun bertype 21 ini.
Bagi warga berpenghasilan rendah, seperti Syamsiwal,30 ijin menempatkan rumah susun adalah berkah. Penghasilannya yang pas-pasan sebagai seorang buruh pasar, membuat kemampuannya menyediakan hunian bagi isteri dan bayinya sangat sulit.
Tarif sewa Rp 140.000 perbulan, jauh lebih rendah dari tarif rata-rata permukiman sederhana di Kota Banjarmasin. “Saya memimpikan suatu saat dapat memiliki rumah sendiri walau sederhana,” tutur pria asal Sulawesi ini.
Konsep pembangunan rumah susun sederhana sewa oleh pemerintah pusat dengan anggaran Rp 8,3 Miliar tersebut, sejatinya dapat menjadi sebuah kawasan hunian nyaman bagi kelompok masyarakat pinggiran.
“Di sana sini, memang masih banyak kekurangan seperti dinding rusun belum diplester atau tidak ada sekat ruangan,” ungkap Kepala Dinas Tata Kota Banjarmasin, Hamdi saat meninjau proyek pembangunan rusunawa tahap dua tidak jauh dari lokasi pertama yang sudah jadi. Tetapi berbagai fasilitas dasar berupa listrik, air bersih, keamanan dan sarana penunjang lainnya tersedia di rusunawa.
Pembangunan rumah susun di kota seribu sungai, Banjarmasin tidak lepas dari kondisi perkembangan kota yang semakin hari semakin padat. Laju pertumbuhan penduduk di Banjarmasin cukup tinggi, tidak sebanding dengan luas lahan tersedia.
Luas wilayah Kota Banjarmasin sebesar 7.200 hektar, lebih dari 70 persen merupakan kawasan permukiman dan perkantoran, serta hanya sedikit menyisakan lahan terbuka. Pada 1980 jumlah penduduk di ibukota Kalsel tersebut, tercatat sebanyak 381.286 jiwa dan terus bertambah hingga hampir 800.000 jiwa seperti sekarang ini.
Keterbatasan lahan, membuat penyebaran permukiman penduduk memadati pusat kota serta tepi-tepi sungai. Kawasan kumuh dan padat penduduk banyak bermunculan. Menurut data Dinas Tata Kota Banjarmasin, ada 15 kelurahan dari 50 kelurahan di wilayah itu adalah kawasan permukiman kumuh. Masalah ini menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah kota untuk melakukan penataan.
Rumah susun, dinilai mampu menjadi solusi mengatasi masalah kekumuhan dan keterbatasan penyediaan lahan permukiman terutama warga berpenghasilan rendah. Selain rusunawa yang mulai dihuni puluhan keluarga, Banjarmasin sejak 1990an sudah memiliki rumah susun untuk pegawai negeri sipil di Banjarmasin Timur.
Adapula rumah susun untuk kalangan mahasiswa, serta rencana pembangunan rumah susun sederhana milik (Rusunami) dengan konsep apartemen murah bagi kelompok masyarakat kelas menengah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Maret 23, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: