Pemilu Meratus

Mencontreng di Belantara Meratus

JK, (2009)
Sinar keemasan matahari pagi membias di sudut kawasan puncak pegunungan Meratus pedalaman Kalimantan Selatan. Kokok ayam jantan baru beberapa saat berhenti, ketika Karmin,40 membuka pintu rumah panggungnya.
Sang isteri sudah sejak beberapa saat lalu terbangun dan sedang disibukkan memasak nasi dan membuat kopi untuk sarapan pagi. Tak berapa lama, Karmin pun turun dari rumahnya dan bergegas menuju sungai yang berada di bawah bukit untuk mandi.
Hal serupa juga dilakukan puluhan warga lain di Dusun Wayuanin. Hari itu warga suku dayak Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel, menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatife.
Warga sepakat untuk menggunakan hak pilihnya dan meliburkan diri dari aktifitas berladang dan berburu di hutan. “Walau selama ini, hampir tidak ada perhatian dari pemerintah dan wakil rakyat, tetapi kami tetap menyalurkan hak pilih kami,” ungkap Karmin.
Warga suku dayak berharap pemilu kali ini akan memberi perubahan kearah lebih baik. Mereka berharap produk hasil pemilu mampu memenuhi aspirasi di bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang mereka dambakan.
Namun pada pemilu kali ini, warga dayak merasa kebingungan memilih menyusul banyaknya partai peserta pemilu dan perubahan tata cara memilih dari mencoblos menjadi mencontreng.
Dusun Wayuanin adalah perkampungan terjauh suku dayak yang berada di puncak pegunungan Meratus. Mayoritas warga hidup dari berladang dan berburu. Warga suku dayak yang bermukim di lokasi sangat terpencil ini sebanyak 500 jiwa.
Dusun Wayuanin dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki menuju puncak Meratus selama lebih kurang 14 jam dari Desa Urin, desa terdekat. Sedangkan jarak dari Desa Urin ke ibukota kabupaten, Paringin mencapai 55 Kilometer.
Pihak KPUD setempat terpaksa membangun TPS di daerah pedalaman Meratus dengan melintasi hutan dan ngarai, agar warga pedalaman dapat menggunakan hak pilihnya. Petugas KPPS pun terpaksa bermalam di lokasi TPS beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu.
Pelaksanaan pencontrengan di TPS sendiri baru bisa dilaksanakan menjelang siang hari, menyusul keterlambatan warga datang ke lokasi TPS. Maklum, permukiman warga suku dayak terpencar di belantara Meratus. Ketidak mengertian warga juga terlihat dari adanya sejumlah warga datang ke TPS menggunakan baju kaos pemberian caleg partai.
Banyaknya warga suku dayak yang belum mengerti tata cara memilih, mengharuskan petugas membantu mereka dalam mencontreng. Tak pelak lagi, proses pencontrengan hingga penghitungan suara berlangsung hingga malam hari dengan diterangi lampu petromak.
Kondisi geografis warga suku dayak yang bermukim di pedalaman Meratus diakui menjadi kendala tersendiri bagi KPUD Balangan. “Inilah tantangan terberat yang kami hadapi,” tutur Aidi Noor, anggota KPUD Balangan.
Di Kabupaten Balangan, tercatat ada dua kecamatan yang berada di daerah pedalaman sulit dijangkau, Kecamatan Tebing Tinggi dan Halong. Di daerah terpencil ini dibangun 10 TPS dengan jumlah pemilih 1.100 orang.
Di beberapa daerah bahkan, belum ada jaringan telekomunikasi. Dengan kondisi geografis seperti itu, membuat hasil perolehan suara pemilu dari wilayah pedalaman sulit diketahui dalam waktu singkat. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 10, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: