Obat Tradisional

Rimba Pedalaman Nan Berkasiat

JK, (2009)
Gerimis yang turun pagi itu, tak menyurutkan langkah Jonson,35 dan ayahnya Atak,60 dua pria suku dayak yang berasal dari Loksado, pedalaman Kalimantan Selatan. Kedatangan keduanya ke Kota Banjarmasin, ibukota provinsi itu untuk menjajakan akar-akar pohon dan rempa yang dipercaya mempunyai khasiat sebagai obat.
Mengenakan pakaian sederhana dan ransel terbuat dari rotan (Butah), tempat menaruh barang dagangannya, mereka berangkat dari perkampungan suku dayak Loksado, balai adat Malaris dengan berjalan kaki sejak pagi-pagi sekali. Diperlukan waktu hampir satu jam untuk sampai ke perkampungan terluar tepi jalan raya.
Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menumpang angkutan desa untuk sampai ke pusat kota kabupaten, Hulu Sungai Selatan dan kemudian perjalanan dilanjutkan naik angkutan antar kabupaten. Ketika hari menjelang tengah hari, mereka baru tiba di Banjarmasin .
Tujuan pertama yang coba didatangi untuk memasarkan barang dagangan mereka adalah perkantoran pemerintah provinsi Kalsel. Dari pintu ke pintu Atak dan Jonson, menawarkan akar-akaran obat tradisional dan madu bawaannya.
Kebanyakan pegawai negeri yang ditemui hanya melambaikan tangan, tanda tidak berniat membeli. Meski begitu ayah dan anak ini tidak putus asa. Hingga akhirnya keduanya memasuki salah satu ruang dimana sebagian besar pegawai berseragam hijau-hijau itu sedang tidak sibuk bekerja.
Para pegawai hanya duduk-duduk membaca koran dan sebagaian lagi asik ngobrol. “Permisi ini saya mau jual akar kuning dan obat-obat suku dayak,” tawar Jonson menggunakan bahasa Banjar dengan logat suku dayaknya yang kental.

Ratusan jenis tanaman obat
Hutan Kalimantan Selatan diketahui memiliki sumber kekayaan alam berupa hasil hutan, termasuk tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Menurut data Dinas Kehutanan Kalsel diperkirakan lebih 900 spesies tanaman liar yang menghasilkan bahan untuk obat tradisonal.
Obat-obatan ini sejak dahulu kala sudah dimanfaatkan secara sederhana oleh Suku Dayak. Beberapa jenis tanaman obat dari rimba Meratus ini antara lain Akar Kuning (Arcangelisia flava), Pasak bumi (Euriycoma longifolia ) dan Tabat Barito (Ficus deltoidea).
“Kondisi hutan kalsel yang mengalami degradasi akibat penebangan liar, perambahan hutan dan pertambangan ikut mempengaruhi ketersediaan aneka jenis tanaman obat ini,” kata Suhardi Atmodirejo, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel.
Tanaman Akar Kuning misalnya, sejak turun temurun digunakan sebagai obat dan dipercaya dapat menambah daya tahan tubuh dari serangan berbagai penyakit seperti malaria. Akar Kuning dimanfaatkan dengan cara merebus batangnya, sampai air rebusannya berwarna kuning dan diminum.
Akar Kuning juga dipercaya sebagai penangkal santet serta akarnya yang banyak mengandung air dapat diminum. Sedangkan Pasak Bumi dipercaya mampu meningkatkan stamina dan kejantanan pria. Dan Tabat Barito, adalah tanaman obat untuk pengobatan anti kanker dan anti tumor.
Awalnya tidak ada yang tertarik, tetapi lama kelamaan beberapa pegawai mulai melihat-lihat akar-akaran tersebut dan akhirnya membeli. Tidak banyak memang yang bisa dijual Jonson dan Atak hari itu, tetapi uang sebesar Rp 85.000 diperoleh keduanya dirasakan cukup.
Dari uang hasil penjualan obat tradisional itu, dibelikan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti rokok, gula dan kopi. Selebihnya disisakan untuk ongkos pulang dan tidak ketinggalan sepasang sandal jepit pesanan isteri Atak.
Hari menjelang sore, Jonson dan Atak bergegas berjalan ke terminal induk Banjarmasin , mengejar angkutan antar kabupaten untuk pulang ke kampungnya. Pekan berikutnya keduanya merencanakan berjualan akar-akaran nan berkasiat dari rimba pegunungan Meratus ini di kabupaten lainnya. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 14, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: