Kaki Gajah

Filaria Buat Beban Hidupku Seberat Gajah

JK, (2009)
Wanita muda itu menengadah dengan tatapan mata kosong ke langit-langit rumahnya yang sempit. Di kedua belah pipih tirusnya terlihat bekas air mata yang mulai mengering.

Sesekali ia seperti berbicara sendiri, seolah meratapi nasib dan beban penderitaannya. Pagi itu, Nursafinah,24 mengawali hari tanpa daya, sama seperti hari-hari sebelumnya yang sudah dijalaninya sejak sepuluh tahun terakhir.

Dirinya hampir kehilangan fungsi sebagai ibu rumah tangga. Segala pekerjaan rumah terpaksa diambil alih, Ardani,28 suaminya mulai dari mengurus rumah, memasak hingga repotnya merawat anaknya Rosida,7 yang kini mulai bersekolah.

Belakangan kedua orang tuanya yang sebelumnya tinggal di luar kota , ikut tinggal di rumah bedakan sederhana tersebut untuk membantu mengurusi rumah.

Keluarga Nursafinah tinggal di kawasan pingiran permukiman padat penduduk, Kelurahan Teluk Tiram Darat, Kota Banjarmasin. Ekonomi keluarga yang hanya mengandalkan penghasilan sebagai penarik becak, sangat sulit bagi keluarga ini untuk beranjak dari kemiskinan.

Penyakit kaki gajah (filaril) dideritanya membuat beban hidupnya semakin berat bahkan seberat gajah. Ketiadaan dana untuk berobat mengharuskan Nursafinah pasrah dengan kondisi penyakitnya yang dari waktu ke waktu semakin parah.

Awalnya penyakit ini muncul berupa benjolan kecil di atas mata kakinya, ketika dirinya masih remaja. Baru beberapa tahun belakangan ini, penyakitnya semakin bertambah parah.

Filarial yang menggerogoti tubuhnya dari dalam membuat sekujur kaki kirinya membengkak hingga sebesar bantal guling. Kondisi inilah membuat Nursafinah sama sekali tidak dapat bergerak dan beraktifitas sebagaimana mestinya.

“Dulu saya pernah berobat ke puskesmas dan rumah sakit, tetapi penyakit saya tidak kunjung sembuh bahkan semakin parah,” ungkapnya lirih. Ada perasaan malu menghinggapi diri Nursafinah, karena penyakit yang dideritanya ini. Kini dirinya hanya dapat berharap adanya dermawan yang berbaik hati membantu mengobati penyakitnya sehingga kembali sembuh.

Momok masyarakat

Penyakit menular akibat gigitan nyamuk yang membawa virus cacing filarial ini, masih menjadi momok bagi masyarakat Kalimantan Selatan, terutama kelompok masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah. Penyakit ini lebih banyak dipengaruhi buruknya kondisi sanitasi permukiman warga.

“Kaki gajah masih menjadi momok masyarakat,” ungkap Rosihan Adhani, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel. Serangan penyakit kaki gajah mengancam warga di 13 kabupaten/kota Kalimantan Selatan. Tercatat sebanyak 144 warga di sejumlah daerah mengidap penyakit yang berasal dari cacing filarial tersebut.

Sebaran penyakit kaki gajah meliputi, Kabupaten Banjar sebanyak 34 orang, Kotabaru 29 orang, Tapin 23 orang, serta kabupaten lain seperti Hulu Sungai Tengah, Balangan, Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Kota Banjarmasin dan Tanah Bumbu.

Umumnya warga penderita penyakit kaki gajah malu untuk berobat, bahkan sebagian warga beranggapan penyakit ini merupakan penyakit kutukan. Berbagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran kaki gajah, dilakukan melalui kegiatan pengobatan massal.

Pada 2008, sebanyak 226.858 warga yang bermukim di daerah endemis Kabupaten Kotabaru, Hulu Sungai Utara dan Tabalong, mendapatkan pengobatan dan pencegahan penularan kaki gajah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 22, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: