Raskin

Raskin Untuk Keluarga Tani

JK, (2009):
Wajah Hamsiah tampak sumringah ketika turun dari pelataran (teras) rumah pembekal (kepala desa). Dua tangannya yang sudah mulai keriput dimakan usia, memeluk erat bungkusan plastik berisi 7,5 liter beras.
Nenek tiga cucu yang sudah berusia lebih dari 70 tahun ini, terus mengumbar senyum sehingga sirih inangannya tersembul disudut mulut merahnya. “Lakasih nanti kehabisan,” candanya kepada warga lainnya yang sedang antri menunggu giliran dipanggil.
Di pelataran rumah pembekal, anak perempuannya sudah menanti dan kemudian mengambil bungkusan beras dari tangan Hamsiah. Keduanya pun bergegas pulang ke rumah, menanak nasi yang diperoleh dari bulog dengan harga murah.
Siang itu ratusan warga pesisir di Desa Bakambat, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan memperoleh jatah beras miskin.
Jadwal pembagian raskin ini, memang sudah ditunggu warga desa. Hasil panen padi yang buruk akibat banjir dan minimnya hasil tangkapan ikan karena cuaca buruk membuat warga setempat sangat mengharapkan raskin untuk keperluan makan sehari-hari.
Tidak seperti warga daerah lain yang banyak mengeluhkan kondisi beras bulog karena dinilai buruk dan tidak cocok dengan lidah orang banjar yang gemar memakan beras lokal jenis siam unus, warga Desa Bakambat menyambut antusias kedatangan raskin ditengah kondisi serba sulit seperti sekarang ini.
Desa Bakambat adalah satu dari 19 desa di Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar yang merupakan daerah terpencil. Desa ini berada di pesisir selatan Kalsel yang berhadapan langsung dengan laut Jawa.
Desa ini juga tergolong desa tertinggal karena minimnya pembangunan infrastruktur. Untuk menjangkau desa ini, diperlukan waktu dua jam dengan menggunakan perahu motor dari Banjarmasin menyusur sungai Barito atau tiga jam dari Kota Kecamatan Aluh-aluh.
Mayoritas warga bermukim di tepi muara sungai barito (teluk), dimana bangunan rumah terbuat dari kayu dan berpanggung. Demikian juga akses jalan desa yang menghubungkan rumah-rumah warga hingga batas desa dihubungkan jembatan kayu (titian).
Karena terletak di pesisir mayoritas warga Bakambat berprofesi sebagai nelayan. Namun untuk menopang kehidupannya, warga juga bertani di areal pasang surut. Banyak pula warga yang menjadi buruh upahan, saat musim melaut sulit.
Belakangan kehidupan warga pesisir ini semakin terpuruk karena minimnya hasil tangkapan ikan akibat cuaca buruk, demikian juga lahan pertanian pasang surut tergenang banjir.

Dibagi Rata
Sebagian besar warga Desa Bakambat tergolong keluarga miskin. Pihak desapun terpaksa membagi rata jatah raskin agar semua warga kebagian.
“Jatah raskin untuk desa kami terpaksa dibagi rata karena jumlah warga miskin cukup banyak,” ungkap Bahrani Karim, Kepala Desa (Pembakal) Aluh-aluh. Kebijakan bagi rata beras bantuan pemerintah ini menurut Bahrani sudah disepakati warga desanya.
Tercatat ada 435 keluarga penduduk desa, separuh diantaranya tergolong miskin. Sedangkan jatah raskin hanya diperuntukkan bagi 109 keluarga. Pihak desa terpaksa mengurangi jatah 15 kilogram beras menjadi separuhnya.
Raskin yang tiba dalam bentuk karungan dibagi-bagi dan dikemas dalam bungkusan plastic di rumah pembekal. Raskin pun dijual dengan harga sedikit lebih mahal dari harga ketetapan pemerintah Rp 1.600 perkilo, karena pertimbangan biaya angkut dari kecamatan, karena lokasi sangat jauh. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 22, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: