Ikan Lokal

Panen Sepat di Sungai dan Rawa Kalimantan

JK, (2009):
Tiga perahu motor (klotok) merapat di tepi sungai, tepat di belakang rumah warga Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Di bagian tepi sungai sudah menunggu sekelompok kaum ibu dan anak-anak mereka.
“Banyak kah kolehan,” teriak Rogayah,30 yang disahut, “Lumayan lah,” kata Iqbal,33 suaminya, sembari mengikat tali klotok ke sebuah tonggak. Selanjutnya kaum ibu-ibu ini membantu mengangkat ember-ember berisi ikan sungai hasil panenan kaum pria desa.
Sudah seminggu terakhir, ratusan warga desa setempat panen ikan lokal yang berasal dari sungai dan rawa-rawa sekitar. Pada musim-musim kemarau saat permukaan air sungai surut berbagai jenis ikan sungai seperti Sepat (Trichogaster pectoralis), Papuyu (Anabas Testudeneus), Seluang (Rasbora) serta Haruan (Ophiocephalus) sangat mudah didapat.
Setiap tahunnya, musim panen ikan sungai ini terjadi dua kali. Mencari ikan menjadi sumber mata pencaharian utama warga setempat, disamping bertani.
Ikan sungai ini merupakan hasil tangkapan warga dengan menggunakan alat tangkap tradisional berupa jaring (rengge) dan jenis perangkap (bubu). Ikan-ikan hasil tangkapan menggelepar ketika dituang dari ember ke tempat menjemur dengan alas tikar purun di halaman rumah warga.
Pekerjaan menjemur ikan ini adalah bagian pekerjaan kaum ibu, setelah kaum pria sejak dini hari bertugas menangkap ikan di sungai. Saat kaum pria beristirahat sambil menikmati aneka hidangan buatan isteri mereka, kaum ibu mulai bekerja menjemur ikan.
Di bawah terik matahari, ikan-ikan yang sudah mati kemudian dipindahkan ke alas penjemur terbuat dari bambu berukuran lebar satu meter dan panjang empat meter (apar-apar). Semakin terik sinar matahari, maka akan didapat ikan kering yang sempurna.
Rogayah dan kaum ibu lainnya, harus menggunakan topi (tanggui) dan melulur mukanya untuk menghindari sengatan panas matahari. Satu persatu ikan sepat dan haruan ditaruh di atas apar-apar, dan setiap beberapa waktu dibalik agar cepat kering.
Hamparan ikan-ikan sungai yang dijemur warga di sepanjang tepi jalan depan desa ini, menjadi pemandangan unik. Banyak warga dari berbagai penjuru kabupaten hingga Banjarmasin sengaja datang ke Desa Sungai Batang untuk membeli ikan kering sepat dan haruan ini.
Tak ketinggalan para pengumpul (tengkulak) datang menggunakan mobil, memborong ikan dalam jumlah besar. “Selain warga, biasanya sudah ada pengumpul yang datang memborong ikan,” ungkap Rogayah. Untuk satu kilo ikan kering sepat dijual warga seharga Rp 25.000, sepat siam Rp 30.000 dan haruan mencapai Rp 50.000.
Melalui tangan pengumpul ikan kering Desa Sungai Batang dipasok ke sejumlah sentra perdagangan di Kalsel, provinsi tetangga Kalteng, hingga Pulau Jawa dengan harga lebih tinggi tentunya.

Semakin Langka
Dibanding ikan laut, ikan sungai lebih digemari dan merupakan makanan rakyat, baik dalam bentuk ikan segar maupun ikan kering. Banyak pula warga menggemari memakan anak-anak ikan yang masih kecil (anakan).
“Hal ini memicu terjadinya perburuan ikan besar-besaran, termasuk anak-anak ikan sehingga beberapa jenis ikan lokal sulit dicari saat ini,” ungkap Isra, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel. Menurutnya, dibeberapa daerah tradisi mencari ikan dengan cara menyetrum ikut mempengaruhi populasi ikan lokal.
Karenanya di Kalsel ikan sungai jauh lebih mahal dari ikan laut. Ikan sungai seperti seluang, sepat dan haruan kering juga menjadi salah satu buah tangan yang banyak diburu para pelancong dari luar daerah.
Menurut catatan Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, setiap tahunnya produksi ikan lokal dari hasil tangkapan warga mencapai 55.639 ton, ditambah 4.538 ton dari keramba dan 286 ton dari areal persawahan. Selain Kabupaten Banjar, mencari ikan lokal juga menjadi mata pencaharian warga di daerah rawa-rawa dan sungai di sejumlah daerah seperti Barito Kuala, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 25, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: