Batubara Karungan

Bisnis Potensial Dari Batubara Limbah

JK, (2009):
Lima perahu motor (klotok) melaju kencang membelah derasnya arus sungai Barito. Haluan perahu berpenumpang empat orang di tiap klotok itu sesekali terangkat dari permukaan sungai akibat membentur gelombang yang dihasil kapal-kapal besar di sekitar pelabuhan Trisakti, Banjarmasin .
Tujuan rombongan warga yang bermukim di pinggiran sungai Kelurahan Basirih itu adalah Pulau Kembang, sebuah pulau kecil berada di tengah-tengah sungai barito. Dengan bertelanjang dada Rusmadi,38 menunjuk ke arah pulau.
“Itu tongkangnya sudah ada,” ucapnya kepada teman-temannya. Rusmadi dan 19 rekannya ini adalah para pencari batubara sisa dari kapal-kapal tongkang yang pulang seusai mengirim batubara di muara sungai Tabunio dan beristirahat di kawasan Pulau Kembang.
Tidak lama berselang, lima perahu motor itupun merapat di samping kapal tongkang besar berbobot 12.000 ton milik sebuah perusahaan jasa pelayaran. Para pekerja kapal membiarkan dan hanya melihat dari kapal tug boat yang letaknya tidak jauh dari kapal tongkang, ketika para pencari batubara sisa berloncatan ke atas tongkang.
Karena sudah terbiasa, dengan cekatan mereka mengambil batubara sisa-sisa pengiriman yang ada di dasar tongkang dan memasukkannya ke dalam karung. Dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk mengambil batubara sisa dari tongkang.
Batubara sisa yang terkumpul cukup banyak mencapai 80 karung atau sekitar empat ton. Setelah batubara habis diambil, rombongan pencari batubara ikut membantu membersihkan tongkang, sebagai tanda terima kasih.
Bagi perusahaan pemilik tongkang, keberadaan para pencari batubara ini justru membantu. Biasanya perusahaan harus membayar dua juta rupiah kepada pekerja pembersih tongkang. Di sisi lain, batubara kategori limbah ini dibuang begitu saja ke sungai, sehingga dikhawatirkan mencemari sungai.
Mencari batubara sisa dari kapal-kapal tongkang, merupakan pekerjaan utama bagi Rusmadi dan sekitar 2.000 warga pesisir tepi sungai barito di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan Kota Banjarmasin. Sebagian besar dari mereka adalah mantan pekerja perusahaan kayu yang terPHK serta para preman kampung.
Selanjutnya batubara karungan ini, dijual ke penampung batubara di Banjarmasin . Dari profesi mencari batubara sisa ini warga mampu mendapatkan hasil Rp 50.000 sampai Rp 100.000 perhari.

Bisnis Ilegal
Batubara karungan merupakan bisnis batubara yang potensial. Namun bisnis ini kerap dicap sebagai bisnis illegal dan tidak jarang para pencari batubara sisa menjadi sasaran tangkapan petugas kepolisian.
Subhan Noor, General Manager Koperasi Korps Cacad Veteran RI, sebuah koperasi yang bergerak dalam bisnis batubara karungan mengatakan bisnis batubara karungan cukup menjanjikan. Usaha batubara karungan yang dijalan koperasi cacad veteran ini, merupakan perusahaan perintis dan pertama kali ada di Indonesia sejak 2006 lalu.
Belakangan persaingan dalam bisnis ini sangat ketat. Tercatat ada empat perusahaan batubara karungan yang mengandalkan batubara sisa dari kapal tongkang, termasuk koperasi milik kepolisian Puskopolda dan TNI. Tidak termasuk perusahaan lain yang menjual batubara karungan langsung dari lokasi tambang.
Setiap hari ada sekitar 20 kapal tongkang mengangkut batubara melintasi sungai barito. Jika setiap tongkang, menghasilkan empat ton batubara sisa, maka setiap hari dihasilkan 80 ton batubara dengan harga rata-rata pertonnya mencapai Rp 400.000.
“Dari sisi bisnis batubara karungan lebih mudah karena tidak perlu biaya tambahan seperti sewa tongkang dan biaya lainnya tetapi langsung dijual ke perusahaan,” katanya. Koperasi ini memasok untuk keperluan pembangkit sejumlah perusahaan perkayuan seperti PT Daya Shakti Timber dan PT Barito Pasific.
Di lapangan selain pencari batubara yang dikoordinir pihak koperasi dan bekerjasama dengan perusahaan pelayaran (Insa), banyak pula pencari batubara illegal. “Mereka ini, menjarah batubara dari atas kapal tongkang yang sedang melaju,” tutur Ajun Komisaris Besar (AKB) Puguh Raharjo, Kepala Bagian Humas Polda Kalsel.
Sejak akhir 2008 hingga awal 2009 sudah 60 orang warga ditangkap karena berusaha mencuri batubara dari atas kapal tongkang di sungai barito. Menurut Puguh maraknya, peristiwa penjarahan batubara ini tidak lepas dari sulitnya warga mencari pekerjaan akibat ambruknya industri di Kalsel. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Mei 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: