Kerajinan

Merubah Gunung Menjadi Batu Aji

JK, (2009)
Aneka souvenir khas Kalimantan Selatan dipamerkan secara indah di etalase sejumlah toko pada komplek pasar batu permata Cahaya Bumi Selamat (CBS), Kota Martapura, Kabupaten Banjar. Salah satu souvenir yang banyak mendapat perhatian para pelancong adalah Batu Aji, kerajinan hasil pahatan dari batu gunung.

Sayup-sayup terdengar suara mesin gerinda dari belakang permukiman warga di sepanjang kampung Keraton, Kota Martapura. Suara mesin gerinda ini, berasal dari aktifitas warga setempat yang sedang mengolah kerajinan batu aji.

Beberapa orang warga terlihat, sedang memecah bongkahan batu gunung yang berserakan di halaman belakang rumah. “Beginilah awalnya, batu aji yang mengkilap itu berasal dari bongkahan batu gunung,” ungkap Mushadad,45 salah seroang perajin batu aji.

Pecahan batu gunung ini kemudian dipisah-pisah untuk dibuat menjadi kerajinan pahatan batu aji berbagai ukuran dan bentuk. Menurut Mushadad, karena bahannya dari batu alam maka tidak ada hasil kerajinan bisa dibuat sama persis.

Langkah selanjutnya dalam pembuatan kerajinan batu aji adalah memotong-motong batu gunung dengan gerinda. Pada tahap ini, diperlukan keterampilan dan insting perajin, mau dijadikan apa batu gunung tersebut.

Hingga pada proses selanjutnya adalah pemberian amplas. Setelah diamplas barulah hasil kerajinan ini bisa disebut batu aji yang terlihat mengkilap. Tahapan akhir atau finishing dari pembuatan batu aji yaitu memahat badan batu, untuk diberi ukiran seperti nama dan sebagainya.

Bongkahan batu gunung itu, kini sudah berubah menjadi aneka bentuk souvenir berupa rumah adat banjar, pulau Kalimantan, hiasan telur, meriam, jam dinding, binatang, tempat inang, tasbih, gantungan kunci hingga papan nama. Satu untaian tasbih yang memerlukan waktu pembuatan dua hari, dijual seharga Rp 10.000-15.000, dan tempat inangan dijual dengan harga penawaran Rp 150.000 meski proses pembuatannya memerlukan waktu berminggu-minggu.

Pembuatan kerajinan batu aji membutuhkan waktu dan proses panjang, dan terkadang tidak sebanding dengan harga jual dari sebuah karya tangan-tangan perajin. “Pembuatannya sangat sulit, tetapi harganya sangat murah karena pembeli menawar dengan harga rendah,” ungkap Muhammad Fathoni, pemilik pusat penjualan batu aji Tuntung Pandang, Keraton, Martapura.

Terlebih bahan baku batu aji diambil dari lokasi jauh di Gunung Belanda, Kabupaten Tanah Laut. Selain untuk material pembuatan jalan dan pondasi rumah, batu gunung di wilayah ini, mempunyai karakteristik warna kehijau-hijauan dan lebih mudah diukir.

Kian Terpuruk

Ungkapan, nasib perajin batu aji tidak semengkilap hasil pahatannya memang ada benarnya. Dari waktu ke waktu, satu persatu usaha pembuatan kerajinan batu aji kian terpuruk dan berguguran.

Usaha kerajinan batu aji yang mulai ada sejak 1960-an dan sempat menjadi primadona ekpor kerajinan daerah hingga ke mancanegara, kini jalan di tempat akibat sepi order. Krisis moneter menjelang abad millennium, berpengaruh besar terhadap terpuruknya usaha kerajinan batu aji.

Dulu ada ratusan usaha bengkel kerajinan dengan ribuan perajin, tetapi kini hanya tersisa puluhan usaha dengan tidak lebih 200 orang perajin saja. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, sebenarnya potensi kerajinan batu aji cukup menggiurkan.

Meski nilai produksi batu aji masih di bawah batu permata dan emas. Sedangkan kerajinan batu permata terus bertahan dengan jumlah 630 unit usaha didukung lebih dari seribu tenaga kerja, dan nilai produksinya Rp 4,3 miliar.

Bupati Banjar, Gusti Khairul Saleh, mengatakan Kabupaten Banjar, selama ini memang lebih dikenal sebagai pusat kerajinan batu permata saja. “Semua orang mengenal Martapura, sebagai ikon jaminan mutu intan dan batu permata, walau Martapura sebenarnya bukan daerah penghasil intan,” katanya.

Kerajinan batu aji seperti terabaikan. Ribuan perajin yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Desa Keraton, Teluk Selong, Pekauman dan Dalam Pagar, Kabupaten Banjar dihadapkan pada pilihan beralih profesi atau tetap bertahan.

Banyak perajin berusaha bertahan untuk sekadar menyelamatkan tradisi keluarga sebagai perajin. Dan banyak pula karena tidak ada pilihan profesi lainnya.

Menurut Khairul, pemerintah daerah terus berupaya untuk mengembalikan kejayaan industri kerajinan batu aji melalui terobosan jalur pemasaran dan koperasi bagi perajin. “Kita berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan dan mengikutsertakan kerajinan batu aji dalam berbagai kegiatan pameran,” tuturnya.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, pemerintah daerah memang diharapkan segera turun tangan untuk menyamatkan industri kerajinan batu aji yang menopang hidup ribuan warga di Kabupaten Banjar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Mei 19, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: