Tambang Rakyat

Kemilau Intan Cempaka Yang Menggoda
JK, (2009):

Kota intan menjadi nama lain Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang kesohor hingga mancanegara. Namun untuk menyajikan kilauan intan yang begitu menggoda, tidak jarang membutuhkan pengorbanan besar, bahkan pengorbanan jiwa.

Beberapa orang terlihat asyik berendam di aliran sungai yang berair keruh, tak kala sinar matahari begitu terik membakar kulit tubuh, siang itu. Tetapi mereka tidak sedang mandi, melainkan meraup pasir sungai untuk mencoba peruntungan mendapatkan intan dan batu permata.

Kurnain,40 adalah salah seorang pencari intan atau pendulang di aliran sungai pumpung, Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka yang merupakan wilayah Kota Banjabaru. Dirinya merupakan generasi keempat dari keluarganya yang turun termurun berprofesi sebagai pencari intan.

Dengan bertelanjang dada, tangan-tangan Kurnain, meraup pasir dari dasar sungai Pumpung dan dimasukkan ke dalam lenggangan, sebuah alat untuk mendulang berbentuk kerucut terbuat dari kayu. Pasir yang terkumpul kemudian dilenggang (goyang) di permukaan sungai untuk memisahkan batuan koral dengan pasir.

“Dari waktu ke waktu, intan semakin sulit didapat,” celetuk Kurnain, sembari beranjak ke tepi sungai guna mengumpulkan pasir sungai. Di dalam pasir sungai ini, para pendulang berharap ada terselip intan dan batu permata.

Setiap hari Kurnain dan puluhan warga desa lainnya, menghabiskan waktu berendam di sungai dari pagi hingga petang. Mencari intan di dasar sungai pumpung, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, karena aliran sungai ini adalah tempat pembuangan limbah dari aktifitas pendulangan yang menggunakan mesin di bagian hulu sungai.

Mendulang intan di aliran sungai, biasanya dilakukan warga desa yang tidak mempunyai modal. Saking sulitnya mendapatkan intan, kini warga lebih mengandalkan mencari pasir dan batu koral yang mudah diperoleh dan sudah pasti ada pembelinya.

Selain mendulang secara tradisional, proses mencari intan juga dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin pompa, kerap disebut tambang rakyat konvensional. Pekerjaan mendulang dimulai dari menembak lobang galian dengan cara menyemprotkan air lewat pipa.

Materi tanah, pasir bercampur bebatuan yang terkikis di dasar lobang, kemudian disedot menggunakan mesin pompa. Selanjutnya dilakukan penyaringan di sebuah anjungan berbentuk menara yang diletakkan di bibir lobang galian. Material hasil saringan itulah, dikumpulkan dalam sebuah kolam dan kemudian dimulailah kegiatan mendulang.
Para pendulang intan umumnya bekerja secara berkelompok. Setiap lobang galian dengan kedalaman antara 10-20 meter dikerjakan oleh satu atau dua kelompok yang terdiri dari lima sampai 10 orang.

Biasanya pendulang menganut sistem bagi hasil atau disebut abian. Sistem ini cenderung lebih menguntungkan para pemilik lahan dan pemilik mesin sedot. Sementara pendulang penghasilannya lebih banyak habis untuk membayar hutangnya kepada pemilik modal.

Intan Trisakti

Kawasan pendulangan intan di Kecamatan Cempaka sangat terkenal dan kini menjadi tempat wisata, berkat penemuan intan sebesar telur ayam atau 166,7 karat yang disebut intan Trisakti pada 1960an. Lokasi pendulangan intan ini berada di sisi tenggara kota Banjarbaru berjarak 40 Km dari Banjarmasin .

Terakhir, para pendulang juga menemukan intan sebesar bola pimpong yang disebut intan Putri Malu. Intan ini ditemukan di kawasan pendulangan di Kabupaten Banjar. Belakangan intan semakin sulit didapat dan hanya sekadar peruntungan semata.

Aktifitas pendulangan intan tradisional sebenarnya sudah ada ratusan tahun silam, hingga masuknya perusahaan tambang intan PT Galuh Cempaka, dengan produksi pertahunnya mencapai 46.000 karat. Perusahaan modal asing ini sempat ditutup karena dinilai melakukan pencemaran lingkungan.

Camat Cempaka, Akhmad Subeli, mengungkapkan aktifitas pertambangan intan di wilayahnya merupakan yang terbesar di Kalsel, dimana jumlah warga berprofesi sebagai pendulang mencapai 1.000 orang lebih. Tercatat ada 200 kelompok pendulang yang beroperasi di empat wilayah yaitu Kelurahan Cempaka, Sunngai Tiung, Bangkal dan Palam.

Diakuinya aktifitas pendulangan intan di Kecamatan Cempaka dilakukan warga tanpa dibekali perijinan. Bahkan tambang konvensional ini, kerap menimbulkan korban jiwa karena peristiwa tanah longsor.

Setiap tahunnya, jumlah pendulang yang tewas tertimbun tanah galian mencapai belasan orang. Tetapi warga tidak pernah kapok, karena profesi mencari intan merupakan mata pencarian utama warga untuk tetap bertahan hidup. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Mei 26, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: