Adat Perkawinan Banjar

Proses Perkawinan Adat Banjar

Ribuan bahkan puluhan ribu warga dari berbagai penjuru daerah di Kalimantan Selatan, menghadiri acara resepsi perwakinan putera mahkota “Raja Banjar” begitu warga menyebut status seorang Gubernur di wilayah ini. Selama dua hari berturut-turut, Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin menggelar hajatan akbar pesta perkawinan anaknya Aditya Mufti Ariffin, anggota DPRD RI dengan Filzah Mar’I Isa Azzubaidi asal Medan.
Mulai dari rakyat jelata hingga para pejabat petinggi negeri ini, datang menghadiri pesta perkawinan yang dikemas dalam tata cara perkawinan adat banjar modern. Sebagian warga datang dari lokasi tempat tinggal mereka yang sangat jauh (kabupaten), meski hanya mendapatkan undangan dari mulut ke mulut (saruan).
Perkawinan adat suku Banjar kental dipengaruhi oleh unsur agama Islam, dimana dalam proses perkawinan mempelai wanita mendapat penghormatan begitu besar.
Semua itu tidak lepas dari ajaran Islam tentang ungkapan “surga dibawah telapak kaki ibu” serta “wanita adalah tiang negara”. Prosesi perkawinan dipusatkan di tempat atau di kediaman pihak calon mempelai wanita.
Di masa kerajaan kesultanan banjar, tahapan mulai dari “perjodohan” hingga perkawinan dilalui secara detil oleh masing-masing pihak keluarga calon besan. Namun seiring perkembangan jaman, berbagai tahapan yang terkesan kuno tersebut mulai ditinggalkan sebagian warga.
Tahapan perkawinan adat suku banjar melalui proses cukup panjang, dimulai dari Basusuluh yaitu mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Dilanjutkan dengan Batatakun atau mencari informasi secara definitif melalui kedua pihak keluarga.
Tahapan selanjutnya adalah pinangan (Badatang). Biasanya tahapan ini disertai Maatar Patalian berupa pemberian barang-barang antaran untuk pihak mempelai wanita, meliputi aneka barang kebutuhan sehari-hari dan isi kamar. Di sini kedua belah pihak yang diwakili tetuha keluarga menetapkan hari baik untuk pernikahan menurut tradisi dan agama Islam.
Nikah atau proses pencatatan pernikahan menurut agama, umumnya dilakukan terpisah dari kegiatan pesta perkawinan yang disebut Batatai.

Raja Sahari
Perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup. Karena itu dalam proses perkawinan adat suku banjar, keluarga kedua mempelai semaksimal mungkin memberikan kesan keistimewaan kepada mempelai. Mereka dilayani ibarat seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari).
Sebelum sampai fase ini, kedua calon mempelai terlebih dahulu harus melakukan ritual mandi-mandi dengan tujuan pemberkatan dan pembersihan diri. Pada jaman dulu kegiatan mandi-mandi pengantin (Badudus) merupakan acara yang dilakukan keluarga kerajaan.
Sebagai kelengkapan disajikan makanan khas suku banjar, kue (wadai) 41 macam seperti bubur habang bubur putih, kopi pahit, cingkaruk batu, rokok jagung dan minyak likat buburih. Rangkaian mandi diiringi tetabuhan musik tradisional dan alunan lagu-lagu yang berisi undangan roh para raja.
Tak jarang mereka yang hadir dalam upacara mandi-mandi, termasuk mempelai mengalami kesurupan, karena ritual ini mengandung unsur mistis. Ritual lain yang harus dijalani mempelai sebelum batatai menjadi raja sahari adalah proses mengantar pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita atau tempat resepsi pernikahan. Kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan pengantin laki-laki.
“Pada tahapan ini terlihat mudah, tetapi sering kali pada acara inilah terjadi hal-hal aneh yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan,” tutur Syamsiar Seman, Budayawan Kalsel. Hal ini biasanya terkait persaingan dalam memperebutkan hati wanita, dimana pria yang kalah berusaha menggagalkan pernikahan dengan cara halus (Gaib).
Saat rombongan tiba di lokasi perkawinan, maka digelar bermacam kesenian mulai dari pantun dan tari-tarian Sinoman Hadrah, Kuda Gipang, juga musik tradisional disebut Bamban. Mempelai laki-laki yang melewati barisan Sinoman Hadrah akan dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur, payung ini akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju lokasi batatai.
Hingga sampailah pada tahapan akhir proses perkawinan adat suku banjar yaitu Batatai Pengantin. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan dan mendapat ucapan selamat dari para undangan yang hadir. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: