Apar-apar

Apar-apar Upaya Bertahan dari Bencana

BANJARMASIN, (MI):
Mayoritas masyarakat Kalimantan Selatan, secara turun temurun bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito dan sub DAS lainnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat banjar ini menjadi sumber bencana.
Dinas Kesejahteraan Sosial Kalsel mencatat setiap tahunnya bencana banjir akibat meluapnya sungai-sungai wilayah ini lebih dari 50 kali, dengan angka kerugian fisik dialami warga mencapai miliaran rupiah. Banjir yang selalu mengancam seluruh wilayah dari 13 kabupaten/kota di Kalsel juga menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi, berupa rusaknya lahan pertanian,serta terpuruknya kehidupan masyarakat.
Meski intensitas bencana banjir terus meningkat dan semakin parah, namun warga menganggapnya hal biasa. Hal ini tercermin dari gagalnya upaya relokasi yang ditawarkan sejumlah pemerintah daerah seperti Pemkab Tanah Laut terhadap ratusan permukiman warga di daerah rawan banjir, sejak beberapa tahun lalu.
Warga memilih tetap bertahan meski setiap tahun rumahnya kebanjiran akibat luapan sungai. Sikap warga ini terkait keberadaan sungai mata pencaharian, perikanan, transportasi dan areal pertanian warga berada di sepanjang daerah aliran sungai.
Rohana,41 warga Desa Kelumpang, Kandangan, mengungkapkan bagi warga setempat banjir sudah menjadi hal biasa. “Biasanya banjir hanya berlangsung beberapa hari saja dan kemudian air turun,” tuturnya.
Di samping itu, faktor kemiskinan membuat warga tidak mampu membangun permukiman yang lebih baik di daerah perkotaan atau daerah aman dari banjir. Warga yang selama ini hidup dengan profesi bertani dan pencari ikan sungai, sulit untuk mencari mata pencaharian lain.
Untuk menghindari banjir, umumnya warga membangun lantai lebih tinggi (apar-apar), sehingga pada saat banjir terjadi warga bisa bertahan di rumah mereka. Apar-apar atau lantai darurat dibangun satu hingga dua meter dari lantai rumah sebenarnya.
Warga juga memiliki lumbung atau gudang penyimpanan hasil panen di tiap-tiap rumah, sebagai cadangan apabila datang masa paceklik dan bencana. “Karena mereka hidup di tepi sungai, warga juga memiliki perahu (jukung), sehingga saat terjadi banjir aktifitas warga tidak terlalu berpengaruh,” ungkap Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, Akhmad Ariffin.
Di satu sisi banjir menyebabkan petani merugi, tetapi di sisi lain mendatangkan berkah karena warga di sepanjang daerah aliran sungai dan rawa-rawa mengalami musim panen ikan.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kalsel, Rahmadi Kurdi, mengatakan rusaknya kawasan hutan dibagian hulu (pegunungan meratus) akibat aktifitas penebangan, pembukaan areal untuk perkebunan dan pertambangan membuat sungai-sungai besar mengalami pendangkalan dan pencemaran. Kondisi ini berdampak pada terjadinya banjir saat musim penghujan, karena hilangnya catch area dan menurunnya daya tampung sungai. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: