Aruh Danau

Sesaji Untuk Penguasa Danau Rawa

Belasan perahu tradisional (klotok) berjalan pelan mengarungi “lautan” rawa di Desa Danau Bangkau, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Para tokoh adat yang memimpin puluhan warga desa ini, berhajat melakukan aruh (pemberian sejaji) untuk penguasa danau.
Warga menghiasi perahu-perahu ini dengan pohon pisang berbuah dan pohon beringin dalam pot yang menjadi salah satu syarat ritual aruh danau. Sepanjang perjalanan para tokoh adat memercikkan air kembang sebagai symbol untuk mensucikan (babarasih).
Pada titik-titik tertentu, para tokoh adat meletakkan sesaji. Sesaji berupa kelapa yang dibelah batoknya dan diisi telur serta gula merah. Dalam proses ini, salah seorang warga harus terjun ke air dan menyelam ke dasar rawa sedalam lima meter untuk meletakkan sesaji.
Sesaji umumnya terdiri dari beragam penganan terdiri atas 41 macam kue, kambing putih dan ayam hitam yang dipanggang, piduduk (semacam ketan), beras kuning, kelapa muda dan tua, pisang, serta kemenyan. Ragam sesaji itu disiapkan kaum perempuan yang tidak dalam masa haid beberapa hari sebelumnya.
Tidak ketinggalan, warga lainnya yang ikut dalam rombongan berperahu ini membunyikan gong, gendang, dan serunai membuat ritual tahunan ini semakin meriah. Perahu hanya dapat bergerak pelan, akibat hampir seluruh permukaan rawa ditutupi rumput dan enceng gondok (ilung).
“Aruh danau bangkau ini kami sebut Manyanggar atau menebarkan sesaji ke danau yang menjadi tradisi turun temurun,” tutur Yusuf, warga Desa Danau Bangkau.
Bagi warga setempat, ritual ini sangat penting karena bentuk terima kasih warga terhadap alam (danau) yang menjadi sumber penghidupan warga.
Laju belasan perahu ini berhenti di wilayah perbatasan antara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, lokasi aruh akan digelar. Lokasi ini adalah tempat perhentian terakhir, dimana puncak aruh digelar.
Selain meletakkan sesaji kelapa berisi telur dan gula merah di dasar danau, juga dilarungkan daging kambing bakar. Upacara adat diakhiri dengan pembacaan doa keselamatan dan tolak bala yang dipimpin dua tokoh adat desa.

Kearifan Lokal
Aruh danau di Hulu Sungai Selatan ini, merupakan bentuk kearifan lokal warga yang bermukim di sekitar rawa-rawa di Kalsel. “Aruh danau adalah satu dari sekian banyak bentuk kearifan local warga,” ungkap Zulkifli, Kepala Bagian Humas Hulu Sungai Selatan.
Ritual aruh danau bangkau, digelar setiap tiga tahunan dan biasanya ditandai dengan munculnya permintaan dari alam gaib melalui warga yang kesurupan. Adat ini diperkirakan lahir sejak sebelum masuknya agama Islam di daerah tersebut.
Dahulu para leluhur melakukannya dengan memberi sesaji kepada penguasa atau ruh penjaga rawa Danau Bangkau yang luasnya puluhan kilometer persegi. Hingga kini ritual aruh danau bangkau, tetap digelar. Warga percaya bahwa tangkapan ikan akan melimpah setelah upacara adat dilaksanakan. Menangkap ikan adalah mata pencarian mayoritas warga setempat. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: