Arum Jeram Meratus

Arung Jeram Tradisional di Kaki Meratus

Loksado merupakan lokasi wisata alam di kaki pegunungan Meratus Kalimantan Selatan yang menyajikan panorama hutan alam, kehidupan masyarakat adat suku dayak hingga arung jeram tradisional menggunakan lanting bambu (bamboo rafting).
Setelah menempuh perjalan kurang lebih 40 kilometer dari Kota Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, melewati jalan curam sepanjang kaki pegunungan meratus, akhirnya rombongan wisatawan dari Jakarta yang dipandu seorang agen travel dari Banjarmasin tiba di Loksado.
Loksado adalah nama sebuah desa di Kecamatan Loksado yang merupakan wilayah komonitas adat bernama Dayak Loksado. Akbar,35 seorang wisatawan mengaku sangat terpesona melihat kehidupan masyarakat suku dayak yang tinggal di rumah-rumah panjang atau balai.
“Suasananya begitu nyaman, udara sejuk dan dikelilingi hutan demikian pula dengan kehidupan warga dayak yang sederhana. Ini sangat berbeda dengan suasana kehidupan di Jakarta ,” tutur Akbar sembari mengabadikan momen-momen yang unik.
Awa, warga setempat yang menjadi pemandu membawa rombongan dengan berjalan kaki, menyusuri tepi sungai Amandit menuju dermaga sungai. Tujuan utama rombongan wisatawan ini adalah aksi petualangan arung jeram tradisional dengan menggunakan rakit bamboo.
Petualangan bamboo rafting yang menjadi obyek wisatawan andalan Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini, mengambil rute antara Desa Loksado menuju Desa Tanuhi dihilir sungai Amandit. Jarak tempuh antara dua desa ini mencapai 2,5 jam menggunakan rakit bamboo atau 12 kilometer melalui jalan darat.
Bagi wisatawan lokal apalagi mancanegara, petualangan treckling (jalan kaki) dan kemudian dilanjutkan dengan menaiki rakit bamboo, sembari menikmati pemandangan alam, merupakan hal yang luar biasa. Derasnya arus sungai yang berbatu, menjadi tantangan tersendiri dalam petualangan bamboo rafting. Di sinilah diperlukan keahlian seorang pemandu atau joki lanting.
Balanting paring, begitu warga banjar menyebutnya cukup unik karena hanya menggunakan rakit bamboo sederhana, berbeda dengan olah raga arung jeram umumnya yang menggunakan perahu karet dan berbagai alat keselamatan lainnya.
Sepajang perjalanan, wisatawan disuguhkan dengan pemandangan alam berupa gunung dan hutan, ladang dan permukiman masyarakat suku dayak di tepi sungai.
Zulkifli, Kepala Bagian Humas Hulu Sungai Selatan, mengungkapkan wisata alam loksado, kehidupan masyarakat suku dayak dan bamboo rafting merupakan obyek wisata andalan daerahnya. “Setiap tahunnya, PAD yang diterima derah dari obyek wisata ini mencapai Rp 200 Juta,” ungkapnya.
Namun, masih minimnya kegiatan promosi dan kemampuan daerah dalam mengelola obyek wisata, membuat pihaknya belum bisa berharap banyak dari pendapatan sektor kepariwisataan tersebut. Terlebih kondisi daerah aliran sungai cenderung mengalami degradasi akibat kerusakan kawasan hutan di bagian hulu.
Untuk lebih mempopulerkan wisata alam Loksado dan bamboo rafting ini, Pemkab Hulu Sungai Selatan sejak lima tahun terakhir, menggelar lomba bamboo rafting yang peserta diikuti wisatawan dari berbagai daerah bahkan turis mancanegara. Biasanya even ini digelar pada akhir tahun saat musim penghujan, sehingga debit air sungai tinggi.
“Tahun ini, penyelenggaraan lomba bamboo rafting kita tunda karena kondisi sungai belum memungkinkan, kemungkinan awal tahun depan,” tambah Zulkifli.

Warisan Suku Dayak Penjual Bambu
Rakit bamboo, terbuat dari susunan barang bamboo yang diikat dan ditengahnya diberi tempat duduk, dengan bagian ujungnya diikat meruncing. Rakit-rakit ini hanya untuk sekali pakai, karena tidak mungkin dibawa ke hulu melawan arus sungai.
Wisata arung jeram tradisional dengan rakit bamboo ini, berawal dari kegiatan keseharian masyarakat suku dayak yang berprofesi sebagai penjual bamboo dari daerah hulu untuk dijual ke Kota Kandangan, ibukota kabupaten bahkan sampai ke banjarmasin . Selain menjual bamboo warga juga mengangkut aneka hasil bumi seperti palawija, kayu manis, kemiri dan sebagainya.
Di sepanjang tepi sungai amandit, memang terdapat banyak hutan bamboo. Hingga kini aktifitas warga suku dayak sebagai penjual bamboo masih berlangsung. Diperlukan waktu hingga dua hari dua malam untuk memilirkan bamboo dan hasil bumi sampai ke Kota Kandangan, ibukota kabupaten.
Semakin ramainya wisatawan yang menyenangi bamboo
rafting, ini menjadi mata pencaharian sampingan warga sekitar sebagai joki lanting. Jasa sewa joki lanting untuk sekali pandu mencapai Rp 200.000. Karenanya di loksado terdapat persatuan joki lanting yang anggota mencapai 20an orang.
Petualangan arung jeram tradisional ini, berakhir di Desa Tanuhi, dimana terdapat obyek wisata pemandian air panas alam. Rombongan wisatawan pun umumnya tidak melewatkan kesempatan untuk menghilangkan kepenatan dengan mandi di pemandian air panas ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: