Bajing Loncat Sungai

Bajing Loncat Sungai Barito

Tiga perahu motor (klotok) melaju kencang membelah derasnya arus sungai Barito. Haluan perahu berpenumpang lima orang di tiap klotok itu sesekali terangkat dari permukaan sungai akibat membentur gelombang.
Tujuan rombongan warga yang bermukim di pesisir sungai Kelurahan Basirih, Banjarmasin itu adalah perairan Tabunio, muara sungai barito yang masuk wilayah Kabupaten Tanah Laut. Yusuf,16 salah seorang penumpang kapal, berdiri tegak di haluan kapal dengan bertelanjang dada.
“Di sana tongkangnya sedang berlabuh,” serunya kepada motoris kapal yang tak lain adalah ayahnya Ahmad,55. Yusuf dan 13 warga pesisir ini adalah para pencari batubara dari kapal-kapal tongkang batubara yang lalu lalang di muara sungai Tabunio.
Perairan Tabunio adalah lokasi bongkar muat (loading) kapal-kapal tongkang bermuatan batubara untuk dimuat ke kapal besar atau mother vessel tujuan ekspor. Setiap hari ada puluhan kapal tongkang melakukan loading batubara yang berasal dari berbagai lokasi tambang di Provinsi Kalsel maupun pedalaman Kalteng.
Tidak lama berselang, tiga perahu motor itupun merapat di samping kapal tongkang besar berbobot 12.000 ton milik sebuah perusahaan jasa pelayaran. Para pekerja kapal pun membiarkan dan hanya melihat dari kapal tug boat yang letaknya tidak jauh dari kapal tongkang, ketika para pencari batubara sisa berloncatan ke atas tongkang.
Karena sudah terbiasa, dengan cekatan mereka mengambil batubara di atas kapal tongkang dan memasukkannya ke dalam karung. Dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk mengumpulkan 150 karung batubara.
Sayang aksi para pencuri atau bajing loncat sungai barito ini, terpaksa terhenti menyusul datangnya kapal patroli milik Direktorat Polisi Air dan Udara Polda Kalsel. Merekapun pasrah saat polisi menangkap dan membawa mereka ke markas Polairud untuk menjalani pemeriksaan.
Polisi menyita sebanyak 150 karung batubara hasil pencurian, tiga kapal klotok serta berbagai peralatan mengambil batubara seperti cangkul dan sekop.

Faktor Kemiskinan
Aksi pencurian batubara di perairan sungai barito atau mencari batubara sisa, versi warga ini merupakan pekerjaan utama bagi sekitar 2.000 warga pesisir tepi sungai barito di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan Kota Banjarmasin. Sebagian besar dari mereka adalah mantan pekerja perusahaan kayu yang terPHK serta para preman kampung.
“Kami terpaksa melakukannya, karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini bertani maupun menjadi nelayan tidak menjanjikan,” tutur Ahmad. Diakuinya, aksi pencurian batubara yang dilakukannya ini sudah berlansung lebih dari satu tahun.
Tiap satu karung batubara hasil curian dijual kepada pengumpul batubara di Banjarmasin seharga Rp 2.000 perkarung. Setelah dipotong biaya operasional pembelian solar maupun keperluan makan awak kapal, rata-rata rombongan pencuri batubara mampu membawa pulang uang Rp 50.000.
Wakil Direktur Polisi Air dan Udara Polda Kalsel, Komisaris Joko Sadono, mengatakan aksi pencurian batubara di sungai barito masih marak berlangsung. “Kasus ini merupakan kasus kesekian kali yang berhasil kita tangani. Sebelumnya, kita telah melakukan sosialisasi dan pembinaan namun akibat faktor kemiskinan maka aksi pencurian ini kembali terulang,” ungkapnya.
Tidak semua aksi pengambilan batubara dari atas kapal tongkang ini illegal. Ada beberapa perusahaan melakukan kerjasama dengan sejumlah koperasi untuk mengambil batubara sisa pengiriman dengan kesepakatan warga membersihkan kapal tongkang.
Subhan Noor, General Manager Koperasi Korps Cacad Veteran RI, sebuah koperasi yang bergerak dalam bisnis batubara karungan mengatakan bisnis batubara karungan cukup menjanjikan. Usaha batubara karungan yang dijalan koperasi cacad veteran ini, merupakan perusahaan perintis dan pertama kali ada di Indonesia sejak 2006 lalu.
Belakangan persaingan dalam bisnis ini sangat ketat. Tercatat ada empat perusahaan batubara karungan yang mengandalkan batubara sisa dari kapal tongkang, termasuk koperasi milik kepolisian Puskopolda dan TNI. Tidak termasuk perusahaan lain yang menjual batubara karungan langsung dari lokasi tambang.
Setiap hari ada sekitar 20 kapal tongkang mengangkut batubara melintasi sungai barito. Jika setiap tongkang, menghasilkan empat ton batubara sisa, maka setiap hari dihasilkan 80 ton batubara dengan harga rata-rata pertonnya mencapai Rp 400.000.
“Dari sisi bisnis batubara karungan lebih mudah karena tidak perlu biaya tambahan seperti sewa tongkang dan biaya lainnya tetapi langsung dijual ke perusahaan,” katanya. Koperasi ini memasok untuk keperluan pembangkit sejumlah perusahaan perkayuan. Namun belakangan bisnis ini ikut terpuruk menyusul terpuruknya industri perkayuan dan sepinya permintaan batubara. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: