Bencana

Membabat Hutan Menuai Bencana

Hujan belum kunjung reda sejak semalam mengguyur Kota , Amuntai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Gemuruh arus sungai yang berada persis di belakang permukiman penduduk dan perkantoran pemerintah terdengar kencang.
Tingginya curah hujan dalam sebulan terakhir membuat hampir seluruh wilayah di Kalimantan Selatan, termasuk Hulu Sungai Utara dilanda banjir besar. Sejumlah warga, termasuk anak usia sekolah terlihat mengarungi genangan banjir setinggi pinggang orang dewasa, mengangkut harta benda mereka seperti televisi, kursi, pakaian dan kasur, mengungsi dari banjir ke lokasi tenda darurat yang dibangun pemerintah daerah setempat.
Sudah sepekan ini, kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan tanpa batas waktu akibat banjir yang merendami ratusan sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum (SMU) di wilayah tersebut. Menurut data Pemkab setempat banjir sedikitnya merendam 86 sekolah TK, 79 SD, dua SMP dan satu SMA yang ada di lima kecamatan meliputi Amuntai Tengah, Banjang, Haur Gading, Amuntai Utara dan Amuntai Selatan.
Sebagian warga lainnya memilih tetap bertahan di rumah-rumah mereka karena alasan keamanan harta benda. Mereka membangun lantai kayu tinggi di dalam rumah(apar-apar) untuk bertahan, meski banyak dari mereka harus tidur bersama dengan hewan ternak.
Bagi warga setempat banjir musiman ini merupakan hal biasa. Dalam setahun banjir bisa datang beberapa kali. “Banjir kali ini merupakan banjir terparah dalam lima tahun terakhir,” ucap Rahmi,32 warga Amuntai Barat salah seorang korban banjir.
Keluarga Rahmi, beserta puluhan keluarga lainnya terpaksa mengungsi akibat banjir besar yang hampir menenggelamkan rumah mereka. Banjir sendiri diperkirakan akan terus berlangsung seiring masih tingginya curah hujan yang turun.
Bencana banjir telah menyebabkan aktifitas masyarakat dan pemerintahan terganggu. Dampak banjir sangat dirasakan oleh para petani. Tidak hanya di Hulu Sungai Utara, banjir juga melanda wilayah sepanjang daerah aliran sungai, seperti Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, Tanah Bumbu dan Kotabaru.
Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Yohanes Sriyono, mengatakan lebih dari 10.000 hektar areal persawahan di sejumlah daerah sentra pertanian kalsel terkena banjir dan terancam rusak. Bencana banjir yang datang berulang kali ini, membuat kehidupan petani di Kalsel terpuruk.

Rusaknya kawasan hutan penyebab bencana
Bencana banjir yang tiap tahun melanda hampir seluruh wilayah kalsel ini, tidak lepas dari akibat rusaknya kawasan hutan penyangga di bagian hulu kaki pegunungan Meratus. “Kerusakan kawasan hutan sangat luar biasa di bagian hulu, sehingga hilangnya area tangkapan air saat hujan yang menyebabkan terjadinya banjir,” tutur Zainal Ariffin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel.
Hal yang sama dikemukakan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat. Menurutnya, luas hutan murni atau perawan di provinsi yang dalam beberapa tahun terakhir ini gencar melakukan eksploitasi pertambangan dan perkebunan tersebut tersisa hanya 400.000 hektar.
“Luas hutan di kalsel terus berkurang dan tersisa hutan di kawasan puncak pegunungan meratus saja,” tegasnya. Hutan kalsel terus tergerus oleh maraknya penebangan liar, pembukaan kawasan hutan untuk kepentingan ekspansi perkebunan serta pertambangan.
Hutan perawan yang tersisa di pegunungan Meratus itu masih bertahan karena lokasinya jauh dan sulit dijangkau sehingga masih tetap terjaga. Jika membandingkan luas kawasan hutan sesuai SK 453/1999 Menteri Kehutanan seluas 1,8 Juta hektar, maka hutan kalsel tinggal 15 persen.
Sebagian besar kawasan hutan kini telah beralih fungsi menjadi areal konsesi bagi perusahaan HPH, HTI, perkebunan dan pertambangan. Sejumlah perijinan perkebunan dan pertambangan justru berada di areal hutan lindung.
Walhi mencatat ada 229 ijin pertambangan berada di areal kawasan hutan pegunungan Meratus yang merupakan kawasan hutan lindung dan dalam proses pengajuan menjadi taman nasional oleh BKSDA. Khusus lahan konsesi pertambangan sendiri tercatat seluas 658.742 hektar yang dimiliki tidak kurang dari 26 perusahaan tambang ijin PKP2B dan 400an ijin tambang Kuasa Pertambangan (KP).
Hilangnya kawasan hutan, terutama di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berfungsi sebagai catchment area tersebut, menyebabkan 13 kabupaten/kota di kalsel rawan bencana banjir dan tanah longsor. Sementara upaya rehabilitasi lahan terganjal minimnya dana, sehingga pemerintah daerah hanya mampu merehabilitasi 350 hektar hutan pertahun dari luas lahan kritis mencapai 600.000 hektar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: