Bencana Kebakaran

Kebakaran Terus Mengancam

Kebakaran permukiman menjadi momok bagi warga Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan di saat musim kemarau panjang seperti sekarang ini.
Suara teriakan dan tangisan, menyamai nyaringnya suara sirine dari puluhan barisan pemadam kebakaran yang berusaha masuk ke dalam kawasan permukiman padat penduduk di Jalan KS Tubun, Banjarmasin Selatan. “Allahu akbar, allahu akbar, aduh bagaimana rumah ku!,” teriak Rahimah,50 histeris.
Beberapa saat berselang, si jago merah mulai berkobar di kawasan permukiman padat penduduk tersebut. Namun dirinya bersama puluhan warga lainnya tidak dapat berbuat banyak.
Cuaca panas dan hembusan angin cukup kencang siang itu membuat kobaran api terus membesar dan melumat bangunan tempat tinggal warga yang mayoritas terbuat dari kayu tersebut. Upaya warga setempat untuk memadamkan api dengan menyiram air menggunakan ember-ember plastik sia-sia.
Sebagian besar harta benda milik warga hangus terbakar. Yanuar,35, korban kebakaran lainnya hanya bisa terduduk lesu menyaksikan rumah kontrakannya dilalap api. Hanya televise 20 inch, sepeda motor, dokumen serta sebagian peralatan rumah tangga berhasil ia dan isterinya selamatkan.
Demikian pula dengan aksi barisan pemadam kebakaran yang tiba beberapa saat setelah peristiwa kebakaran, terhalang akibat sempitnya jalan berupa gang menuju lokasi kejadian. Dan dalam hitungan menit, sebanyak 22 rumah warga di dua wilayah RT 28 dan RT 29, Gang Damai, KS Tubun, Banjarmasin Selatan ludes terbakar.
Dugaan sementara kebakaran disebabkan, terjadinya hubungan arus pendek (konsleting) listrik. Sedangkan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Di musim kemarau seperti sekarang ini, bencana kebakaran menjadi momok bagi warga di Kota Banjarmasin dan daerah lainya di Kalsel. “Kota Banjarmasin, ibukota Kalsel merupakan daerah paling rawan bencana kebakaran karena banyaknya permukiman padat penduduk,” kata Kepala Sub Dinas Bina Organisasi dan Penanganan Bencana, Dinas Kesejahteraan Sosial Kalsel, Zakaria.
Dalam dua bulan terakhir, telah terjadi 20 kali kebakaran permukiman di berbagai daerah dan terbanyak di Banjarmasin . Lebih dari 50 rumah warga terbakar dan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Meski demikian kondisi ini dinilai lebih baik dibanding tahun sebelumnya, dimana terjadi 62 kali kebakaran, beberapa diantaranya kebakaran besar yang menyebabkan tewasnya 15 warga. Serta angka kerugian mencapai Rp 15 Miliar.
Lebih dari 400 BPK yang tersebar di 50 kelurahan di Kota Banjarmasin pun, belum mampu melakukan pemadaman kebakaran permukiman secara maksimal menyusul kendala ketersediaan hidran dan banyaknya permukiman padat penduduk tersebar di dalam Kota Banjarmasin.

Kebakaran hutan dan lahan
Selain ancaman kebakaran permukiman penduduk, wilayah Kalsel juga merupakan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan. Hingga kini kebakaran hutan dan lahan telah menimbulkan dampak kabut asap yang parah di sejumlah wilayah.
Menurut data Satuan Koordinasi dan Pelaksana Penanganan Bencana Kalsel, sepanjang 2009 sebaran titik api yang muncul di 13 kabubapaten/kota di Kalsel mencapai 1.002 titik. Selama musim kemarau sejak Juli lalu, jumlah titik api tercatat lebih dari 700 titik.
Titik api muncul akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan. “Sebagian besar kebakaran akibat adanya aktifitas pembersihan lahan baik oleh masyarakat maupun perusahaan perkebunan,” kata Kepala Daerah Operasional I Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, BKSDA Kalsel, Suhadi.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan ini, lima kali lebih parah dari tahun sebelumnya, dimana titik api yang muncul hanya 203 titik, dengan jumlah lahan terbakar seluas 320 hektar dan 14 hektar diantaranya kawasan hutan. Untuk tahun ini, luasan kebakaran hutan dan lahan yang ditangani BKSDA mencapai 1.200 hektar.
Lebih dari 60 hektar adalah kawasan hutan lindung dan hutan konservasi. Namun diakui Suhadi, luasan areal kebakaran hutan dan lahan secara keseluruhan diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 hektar.
“Sebagian lokasi kebakaran terjadi di daerah yang jauh dan sulit dijangkau. Sehingga kebakaran tidak dapat ditanggulangi dan kita hanya berharap pada pertolongan alam,” paparnya.
Kebakaran hutan dan lahan ini telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ancaman kabut asap. Banyak petani merugi akibat terbakarnya areal tanaman padi mereka, juga ancaman kesehatan warga akibat serangan kabut asap. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: