Bisnis Penipuan

Bisnis Intan yang Membawa Petaka

Berawal dari kabar macetnya pencairan dana ratusan miliar rupiah dalam bisnis intan di Singapura empat bulan lalu, perlahan tapi pasti jaringan usaha yang dikelola “Ustadz” Lihan terpuruk. Kini pemilik intan Putri Malu itu ditangkap polisi karena diduga melakukan praktek penipuan serta pencucian uang dari hasil penggalangan dana masyarakat mencapai Rp 817 Miliar lebih.
Menggunakan baju biru bertuliskan tahanan polda, Lihan yang berperawakan kecil tampak pucat saat keluar dari ruang tahanan di markas kepolisian daerah (Polda) Kalimantan Selatan. Namun dirinya tetap tersenyum dan menjawab berbagai pertanyaan sejumlah wartawan.
“Sejak ditahan ruang gerak saya menjadi terbatas, padahal saya ingin menuntaskan masalah usaha saya terutama terhadap pada penanam modal,” katanya singkat. Sejak menjadi tahanan dan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penipuan (5/12) lalu, Lihan praktis tidak dapat mengurusi sejumlah bisnisnya.
Di Kalsel, nama Lihan dan perusahaannya PT Tri Abadi Mandiri begitu fenomenal. Dalam dua tahun terakhir, bisnis yang disebut sebagai investasi berbasis syariah mencapai puncak kejayaan. Dengan system bagi hasil 60:40 atau rata-rata 10 persen perbulan dari modal yang ditanam, bisnis menjanjikan ini membuat banyak warga kepincut.
Tercatat ada 3.475 orang dari berbagai daerah termasuk pulau Jawa dan Sumatera menjadi penanam modal (nasabah). Jumlah ini belum termasuk warga yang menitipkan dananya melalui para penggalang dana atau disebut kolektor. Total keseluruhan yang masuk dalam bisnis Lihan mencapai Rp 817 Miliar lebih.
Dengan dana investasi yang fantastis dan melebihi nilai APBD masing-masing kabupaten/kota di Kalsel ini, Lihan mampu mengembangkan bisnisnya di berbagai bidang.
Diantaranya bisnis perdagangan intan, rental helicopter, stasiun televisi, waralaba, warnet, celuler, rumah makan, percetakan dan berbagai bisnis lainnya yang tersebar tidak hanya di Kalsel tapi juga di pulau Jawa dan Sulawesi. Hingga menanamkan investasi Rp 30 Miliar dalam bisnis penerbangan dengan menggaet maskapai penerbangan Merpati.
Sebagai pengusaha yang sangat sukses, Lihan juga dikenal sebagai orang dermawan. Menjadi donator berbagai even skala lokal dan nasional, termasuk memberikan sumbangan korban bencana.

Bisnis Fiktif
Salah satu yang membuat nama Lihan dan bisnis begitu terkenal adalah ketika ia membeli intan sebesar pentol bakso berjuluk Intan Putri Malu seharga Rp 3 Miliar. Lihan juga sempat dikabarkan, menggelontorkan dan miliar rupiah untuk menyelamatkan asset Negara berupa kediaman Bung Karno.
Tak ayal sepak terjang Lihan yang selalu berpenampilan sederhana dan menggunakan batik khas Kalsel Sasirangan ini, mendapat banyak simpati masyarakat. Sayangnya utama perdagangan intan yang dijalankan Lihan, tidak lebih sebuah bisnis fiktif berdasarkan pengusutan pihak kepolisian.
“Bisnis intan yang selama ini diketahui masyarakat adalah fiktif dan banyak bohongnya, dan dia sendiri bukanlah seorang ustadz,” ungkap Kepala Polda Kalsel, Brigjend Untung S Rajab. Sementara bisnis lain yang dijalankan diduga merupakan kegiatan pencucian uang.
Karenanya, polisi yang dalam penangan kasus ini bekerjasama dengan pihak Kejaksaan, Bank Indonesia dan PPATK menjerat Lihan dengan tuduhan melakukan penipuan, penggelapan, pencucian uang dan pelanggaran UU perbankan syariah.

Penanam modal dan pengumpul dana resah
Setelah sempat menikmati dana bagi hasil selama beberapa tahun kini, para penanam modal mulai resah bagaimana nasib uang mereka. Demikian pula para pengumpul dana yang kini dikejar-kejar penanam modal.
Tidak hanya Lihan yang aset-asetnya disita petugas, para kolektorpun terpaksa menjual harta bendanya untuk mengembalikan dana masyarakat. Belakangan, para kolektor meminta perlindungan hukum agar tidak bernasib sama dengan Lihan.
Sebelumnya, pihak kepolisian telah memeriksa belasan orang pengumpul dana, terutama pengumpul dana skala besar yang diduga ikut terlibat dalam bisnis intan berkedok penipuan ini. Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, menyatakan cukup prihatin terhadap banyaknya masyarakat yang menjadi korban bisnis ini.
Besarnya fee atau bagi hasil mencapai 10 persen perbulan, menghilangkan akal sehat masyarakat tentang resiko dana yang diinvestasikan. Beberapa kasus penipuan serupa pernah terjadi di Kalsel dengan nilai kerugian masyarakat mencapai ratusan miliar rupiah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: