Buah Lokal

Buah Lokal Nan Tetap Dinanti

Iring-iringan tiga buah mobil angkutan desa yang datang dari daerah kabupaten (banua anam) di Kalimantan Selatan berhenti di depan kawasan pasar tradisional Kertak Hanyar, perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Angkutan desa ini, mengangkut puluhan kuintal buah-buahan lokal dari pedalaman hutan Meratus.
Di kawasan pasar jalan Akhmad Yani tersebut, sudah menunggu para pedagang bersepeda motor yang akan membeli buah lokal dan kemudian dijual (diecer) ke pedagang kecil di wilayah Banjarmasin . Sejak dua bulan terakhir, buah-buah lokal yang datang dari daerah pedalaman membanjiri sentra perdagangan buah di Banjarmasin .
“Buah lokal ramai pembelinya, walaupun banyak buah import,” ungkap Taufik, salah seorang pedagang buah skala besar di Banjarmasin . Tahun ini, musim buah lokal melimpah dengan kualitas cukup baik.
Buah-buah lokal yang populer antara lain durian dan pepaken (durian hutan). Cempedak, langsat (duku), mangga dan jeruk. Adapula kuini, ramania, kapul juga kasturi yang sebagian besar berasal dari kawasan hutan tanpa budidaya.
Di saat puncak musim, harga buah lokal sangat murah. Buah-buah lokalpun dijajakan para pedagang kaki lima bersamaan dengan buah asal pulau Jawa dan impor seperti jeruk dari China , lengkeng dari Thailand maupun apel dan anggar dari Amerika.
Untuk cempedak di tangan petani dijual seharga Rp 2.000 perbiji, namun setelah sampai Banjarmasin harganya naik menjadi Rp 6.000 perkilo. Demikian juga dengan durian, di daerah asalnya Kabupaten Tabalong, hanya berkisar Rp 10.000-Rp20.000. Tetapi pasaran di Banjarmasin rata-rata Rp 25.000 sampai Rp 50.000 perbiji.
Yohanes Sriyono, Kepala Dinas Pertanian Kalsel, mengungkapkan keberadaan buah lokal tetap mendapat tempat di masyarakat. Buah lokal asal kalsel sebagian bahkan dipasok ke provinsi tetangga dan pulau Jawa. “Buah lokal tetap dinanti masyarakat,” ungkapnya.
Buah cempedak salah satu buah lokal favorit warga Kalsel. Buah yang mirip nangka tersebut, hampir semuanya termanfaatkan. Daging buahnya yang harum dan manis, bisa langsung dimakan atau dibuat gorengan.
Bijinya dapat direbus dan dioleh jadi kripik. Sedangkan kulitnya banyak disukai untuk diolah menjadi sayur, serta diawetkan menjadi panganan disebut mandai.
Kalsel sendiri mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan hortikultura khususnya buah-buahan lokal. Dengan luas lahan rawa maupun lahan kering serta lebak yang mencapai 267.567 ha dan banyaknya lahan belum di manfaatkan menjadi potensi pengembangan buah lokal.
Saat ini pengembangan buah-buahan lokal seperti jeruk mencapai 8.740 hektar yang tersebar di Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Hulu Sungai Tengah, Tapin dan Kota Banjarbaru. Pisang seluas 4.200 hektar dan durian seluas 6.200 hektar.
Namun keberadaan buah-buahan lokal yang sebagian masih mengandalkan hasil dari hutan alam, semakin terancam seiring lajunya tingkat deforestasi hutan di wilayah ini. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: