Budaya Mawarung

Tradisi Mawarung Masyarakat Banjar

Segelas kopi panas disuguhkan Acil (bibi) Imah, pemilik warung tenda kaki lima yang berdiri di tepi jalan Pasar Lama, Banjarmasin. Warung yang menyajikan aneka panganan khas Banjar, minuman, lontong dan nasi kuning tersebut, setiap pagi ramai dikunjungi warga.
“Tambah lagi cil, wadai paisnya (kue),” pinta Utuh (sebutan lelaki) pengunjung lain, yang sudah duduk dibangku kayu panjang dalam warung sejak setengah jam lalu. Dua bangku panjang yang disusun mengitari bagian depan dan samping meja warung, hampir tanpa celah karena dipadati tidak kurang sepuluh orang pengunjung (bubuhan).
Sementara Acil Imah, sibuk melayani pembeli, sang suami sibuk menyeduhkan teh panas dan kopi pesanan lainnya. Mawarung, orang banjar menyebutnya adalah kebiasaan atau tradisi turun temurun warga suku banjar sarapan pagi sembari nongkrong di warung.
Interaksi sosial terjadi di sini, para pengunjung terutama pengunjung tetap warung menjadikan warung sebagai wadah (tempat) tukar informasi, gosip dan sebagainya. Banyak kisah yang dapat didengar dari dalam warung ini, mulai kisah sehari-hari, kisah lucu (balucuan), gosip, sampai berita-berita terkini di koran atau televisi seperti kasus Antasari hingga Bank Century.
Tidak jarang juga terjadi debat kusir, tidak jelas ke arah mana topik perdebatan. Topik yang paling panas saat ini adalah pembicaraan seputar pemilihan kepala daerah yang akan digelar serentak pada Juni 2010 mendatang. Masing-masing orang punya pandangan dan pendapat sendiri tentang calon kepala daerah yang akan bertarung.
Di Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan, tradisi mawarung sudah semakin terkikis seiring perkembangan jaman. Namun, di daerah kabupaten seperti banua enam sebutan untuk kabupaten sepanjang sub DAS Barito, Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong, mawarung masih terasa kental.
Di wilayah ini, sebagian warga datang ke warung hanya mengenakan kain sarung membalut tubuhnya. Kebiasaan lainnya adalah duduk menjongkok di atas bangku sambil makan dan merokok.
Di warung memang tak melulu harus makan, bisa saja hanya memesan secangkir kopi atau segelas teh dingin (sebutan untuk teh hangat). Ada juga teh lapas alias teh tanpa gula. Warung-warung tradisional ini biasanya menyajikan aneka kue khas banjar seperti pais, apam, kelelepon, babangko, wajik, gagatas, bingka dan sebagainya atau sering wadai 41 macam.

Budaya Kaum Petani
Budayawan Kalimantan Selatan, Syamsiar Seman, mengatakan budaya mawarung adalah tradisi kaum petani yang menjadi mayoritas profesi warga suku banjar. “Sekarang ini tradisi mawarung masih dapat dilihat di sejumlah kabupaten, dimana masyarakatnya adalah petani,” tuturnya.
Mawarung menjadi salah satu kegiatan para petani untuk mengisi waktu luang. Terlebih setelah selesai musim tanam dan menunggu panen tiba. Mawarung juga muncul akibat tidak adanya aktifitas lain bagi petani selain pergi ke sawah.
Menurut Syamsir, budaya mawarung ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positifnya, mawarung membuat keluarga lebih praktis dan tidak repot dengan kegiatan memasak. Bahkan, dari kegiatan mawarung kerap memunculkan kesepakatan penting dari satu desa mengenai satu masalah.
Sisi negatifnya adalah mawarung, membuat pola hidup warga suku banjar menjadi boros, menyia-nyiakan waktu dan terkesan malas. Hingga kini budaya mawarung juga terwariskan ke masyarakat suku banjar modern yang terlihat dari banyaknya warung makan dan restoran di Kota Banjarmasin dengan jumlah pengunjung selalu ramai. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: