Buruh Kayu

Perjuangan Panjang Buruh Kayu

Sudah lebih sepekan, 1.453 buruh perusahaan perkayuan PT Daya Sakti Unggul Corporation (DSUC), Barito Kuala, Kalimantan Selatan berunjuk rasa dan bertahan di gedung DPRD mencoba memperjuangkan nasib mereka.
Waktu telah menunjukkan pukul 15.40 Wita, ketika adzan menandakan waktu sholat ashar sudah tiba. Ruas jalan Lambung Mangkurat di depan gedung megah DPRD Kalsel yang berseberangan dengan kantor Bank BCA, Banjarmasin dikosongkan.
Ratusan buruh pengunjuk rasapun melakukan sholat berjamaah di tengah jalanan. Sementara sebagian lainnya, terutama kaum perempuan sudah bersiap-siap di tepi dan perempat jalan meminta sumbangan kepada setiap pengendara yang melintas di jalan protokol pusat kota .
Menggunakan baju seragam kerja pabrik kayu dan kotak kardus bertuliskan “mohon sumbangan untuk perjuangan buruh daya sakti”, mereka meminta dukungan keuangan untuk keperluan berbuka dan makan sahur. Banyak yang memberikan sumbangan ala kadarnya, banyak juga yang tidak perduli.
“Aksi unjuk rasa dan meminta di pinggir jalan ini terpaksa kami lakukan, untuk memperjuangkan nasib kami yang selama ini terkatung-katung,” kata Tumen, perwakilan serikat pekerja PT DSUC. Sudah sepakan ini, ribuan pekerja bersama keluarganya, memilih bertahan di gedung DPRD Kalsel menuntut kepedulian pemerintah daerah dan pimpinan perusahaan menemui mereka.
Halaman dan tempat parkir rumah rakyat berlantai empat itu, dijadikan rumah mereka. Mereka pun mendirikan dapur umum untuk menyiapkan makanan ala kadarnya, hasil meminta-minta di jalan dan kepedulian berbagai pihak termasuk gubernur kalsel yang menyumbangkan empat karung beras.
Rutinitas seperti mandi dan buang hajat, harus menumpang di sejumlah perkantoran di sekitar lokasi unjuk rasa. Yang cukup memprihatinkan, puluhan anak kini terserang sakit flu dan Ispa, akibat hidup tidak teratur serta tidur di alam terbuka sejak beberapa hari terakhir.
Perjuangan panjang 1.453 buruh salah satu perusahaan perkayuan terbesar di Kalsel tersebut dimulai ketika pada Juni 2009, perusahaan memutuskan menutup perusahaan karena alasan merugi. Para pekerja yang berasal dari berbagai divisi kerja terpaksa di rumahkan.
Sayangnya, dari waktu ke waktu nasib buruh semakin tidak jelas. Perusahaan pun tidak dapat memenuhi kewajibannya, membayar penuh gaji mereka selama dirumahkan termasuk tuntutan perubahan besaran gaji berdasarkan UMSP 2009.
Buruh pun akhirnya, berunjuk rasa untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Meski beberapa kali dilakukan perundingan antara buruh dengan pihak perusahaan yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Barito Kuala dan provinsi Kalsel, namun hingga kini belum ada titik temu.
Bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel, terpaksa turun tangan membantu penyelesaian sengketa buruh PT DSUC ini…

Setitik harapan mulai terlihat, sebagai buah dari perjuangan nasib para buruh ini. Pihak perusahaan berjanji akan memberikan tunjangan hari raya kepada pekerja sebesar Rp 2,5 Miliar.
Tetapi masih ada satu tuntutan buruh yang belum terpenuhi yaitu pesangon dengan besaran mencapai Rp 70 Miliar. Pasalnya pihak perusahaan hanya menawarkan pesangon yang jauh lebih kecil, seperempat dari tuntutan buruh.
“Pihak perusahaan memang harus memenuhi hak-hak para buruh. Namun penyelesaian masalah ini harus melalui jalur hukum secara benar,” terang Kepala Dinas Nakertrans Kalsel, Kurdiansyah. Diakuinya sejak 2000, industri perkayuan Kalsel mengalami keterpurukan imbas dari masalah terbatasnya bahan baku kayu dan krisis moneter.
Terpuruknya PT DSUC menambahkan daftar panjang keruntuhan industri perkayuan di Kalsel. Menurut data Apindo Kalsel, jumlah industri perkayuan (plywood) yang masih bertahan tinggal lima perusahaan. Yaitu PT Tanjung Selatan Makmur Jaya, PT Basirih Timber, PT Surya Satria Timber Corporation, PT Tanjung Raya dan PT Wijaya Tri Utama.
Sebelumnya tercatat ada 14 buah industri perkayuan skala besar, ditambah 200 usaha penggergajian skala kecil dengan jumlah pekerja mencapai 40.000 orang. Demikian juga dengan kondisi industri penggergajian skala kecil yang tersebar di sepanjang sungai barito, lebih dari separuhnya tutup.
Dinas Nakertrans Kalsel mencatat terjadi penyusutan jumlah tenaga kerja sektor perkayuan lebih dari 30.000 pekerja sejak tahun 2000 lalu. Puncak keterpurukan industri perkayuan di Kalsel terjadi pada 2005, akibat ekses ketersediaan bahan baku , biaya produksi dan persaingan pasar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: