Bus Sungai

Bus Sungai Andalan Warga Pedalaman

Masyarakat Kalimantan Selatan, terutama yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai, sangat kental dengan budaya sungai. Keberadaan bis sungai menjadi sarana transportasi angkutan barang dan penumpang andalan masyarakat pedalaman.
Hari masih pagi, namun suasana di pelabuhan barang dan penumpang tradisional Pasar Lima , Banjarmasin mulai ramai. Kapal-kapal motor dari berbagai daerah pedalaman yang mengangkut penumpang dan barang kerajinan dan hasil bumi merapat.
Para buruh angkut pasar disibukkan mengangkut barang bawaan dari perahu ke dermaga. Para penumpang yang sebagian besar adalah kelompok pedagang sembako, bergegas menuju toko-toko memborong aneka barang dagangan untuk dijual kembali ke pedalaman.
Tragedi tenggelamnya KM Berkat Sari Mulia, yang menewarkan 21 orang penumpang beberapa waktu, tidak serta merta membuat transportasi sungai ke wilayah pedalaman Kalsel terhenti. Terlebih di saat-saat menjelang lebaran, transportasi sungai tetap menjadi pilihan masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai.
“Sejak dulu, kami tetap mengandalkan angkutan sungai ini, karena akses jalan darat belum ada,” tutur Rusmini,45 seorang pedagang barang kelontokongan dari Kecamatan Tabunganen, sebuah daerah pesisir terpencil di Kabupaten Barito Kuala. Para pedagang mengambil keuntungan, karena tingginya harga kebutuhan pokok di pedalaman.
Komplek pertokoan Pasar Lima, Banjarmasin merupakan pusat grosir sembako dan barang kebutuhan lain seperti pakaian serta bahan bangunan di Kalsel, bahkan sebagian Kalteng.
Hampir setiap minggu, Rusmini dan puluhan warga lainnya datang ke Banjarmasin untuk berbelanja aneka kebutuhan pokok dan barang dagangan lainnya. Bagi warga pedalaman, Banjarmasin juga menjadi tempat memasarkan hasil pertanian dan sebagainya.
Dengan ongkos Rp 8.000 sampai Rp 25.000 perorang, bis sungai mengantarkan penumpang ke berbagai tujuan pedalaman Kalsel. Tercatat ada lima pelabuhan angkutan sungai yang melayari jalur ke berbagai daerah di pedalaman Kalsel maupun Kalteng.
Diantaranya, dermaga Pasar Lima, Pasar Baru, Ujung Murung, Taman Sari dan Banjar Raya yang melayari jurusan Tamban Muara, Catur, Lupak Dalam, Bahaur, Tabunganen, Kolam Kanan, Ujung Panti,Belawang, Gampa dan Barambai di Kabupaten Barito Kuala. Juga Margasari, Kabupaten Tapin, Negara, Hulu Sungai Selatan, Kuala Kapuas, Buntok serta Puruk Cahu di Kalteng.
Berbeda dengan angkutan darat, pemerintah daerah telah membebaskan angkutan sungai dari pajak pendapatan daerah, menyusul kondisi angkutan sungai yang memprihatinkan.

Sungai kian mendangkal
Masih minimnya pembangunan infrastruktur jalan darat ke wilayah pedalaman Kalsel dan Kalteng, mengharuskan warga tetap mengandalkan bis sungai sebagai sarana transportasi.
Namun ada beberapa trayek angkutan sungai yang terhenti menyusul dibangunnya jalur darat seperti jurusan Banjarmasin-Martapura dan Banjarmasin-Palangkaraya.
Di satu sisi, transportasi sungai menghadapi kendala keberadaan sungai yang kian mendangkal. “Keberadaan sungai di Banjarmasin dan wilayah lain di Kalsel, banyak yang mati akibat pendangkalan serta imbas kegiatan pembangunan,” tutur Muryanta, Kepala Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase, Kota Banjarmasin.
Hingga 2000 jumlah sungai besar dan kecil yang mengelilingi Banjarmasin tercatat sebanyak 102 buah. Namun keberadaan sungai ini terus berkurang dan berdasarkan pendataan pada 2004 jumlah sungai berkurang 31 buah menjadi 71 sungai.
Sayangnya sebagian besar sungai yang terdiri dari dua sungai besar, tujuh sungai sedang, 30 sungai kecil, dan 32 anak sungai dalam kondisi rusak parah. Tidak kurang 30 sungai kehilangan fungsi karena tersumbat akibat rapatnya bangunan, pengurukan, pendangkalan, buangan sampah, pencemaran limbah rumah tangga dan kegiatan berbagai usaha masyarakat, serta industri.
Demikian juga dengan keberadaan sungai barito yang menjadi jalur perekonomian utama Kalsel, merupakan sungai dengan tingkat sendimentasi tinggi di dunia, sehingga pemerintah daerah membuat kebijakan pengerukan rutin alur barito. Tidak berbeda jauh dengan anak-anak sungai barito atau daerah aliran sungai, mengalami pendangkalan akibat rusaknya kawasan hutan penyangga karena penebangan dan alih fungsi kawasan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: