Haji

Haji Antara Ibadah dan Status Sosial

Deretan puluhan mobil angkutan desa dan bak terbuka (pick up) parkir di tepi jalan trans Kalimantan depan bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Puluhan mobil ini adalah pengangkut rombongan pengantar jemaah haji yang datang dari pelosok kabupaten di Kalimantan Selatan.
Dinginnya angin malam membuat puluhan orang pengantar jemaah haji tertidur lelap di atas bak mobil dan taman sekitar bandara, setelah seharian menempuh perjalanan panjang. Para pengantar jemaah haji ini rela tidur di pinggir jalan untuk sekadar dapat melihat dan melepas keberangkatan sanak keluarga ke tanah suci pada keesokan harinya.
Siang sebelumnya mereka juga telah melepas jemaah masuk ke asrama haji yang letaknya tidak jauh dari bandara. Pemandangan seperti ini selalu hadir ketika musim haji tiba.
“Sudah tradisi jika ada yang berangkat haji, maka keluarganya ikut mengantarkan, sembari berharap dapat berkah agar mendapat giliran naik haji di tahun-tahun mendatang,” tutur Abdul Manaf,50 warga Serongga, Kabupaten Kotabaru, salah satu daerah terpencil di Kalsel berjarak sekitar 300 kilometer dari Banjarmasin.
Abdul Manaf tidak sendiri, dia bersama anak isteri dan sanak keluarga ikut mengantar adik dan iparnya berangkat ke tanah suci. Bagi sebagian warga di Kalsel mengantar jemaah haji sudah menjadi tradisi.
Tradisi ini dimulai dari selamatan (kenduri) dan bermaaf-maafan di desa mereka. Selanjutnya, jemaah diantar dengan iring-iringan kendaraan hingga ke asrama haji, bahkan sampai naik pesawat, walau hanya melihat dari luar pagar bandara.

Masyarakat Religius
Masyarakat Kalsel yang didominasi warga suku Banjar selama ini memang dikenal sebagai masyarakat religius. Gelar haji menjadi menempatkan seseorang dalam status social yang berbeda dibandingkan warga umumnya.
Bahkan ada anekdot, belum kaya seseorang jika belum menunaikan ibadah haji. Ongkos naik haji (ONH) yang terus melonjak setiap tahunnya tidak menyurutkan minat warga untuk menjalankan rukun islam ke lima ini.
Mereka yang kaya karena bisnis batubara dengan mudahnya berangkat haji melalui ONH Plus. Dan mereka yang pas-pasan tidak mau ketinggalan walau harus menjual tanah hingga binatang ternak.
Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Kalsel, Fahmi Arief, menyebutkan minat warga kalsel untuk beribadah haji sangat tinggi. “Setiap tahun jumlah warga yang mendaftar untuk beribadah haji lebih dari 7.000 orang,” katanya.
Saat ini jumlah calon jemaah haji yang masuk daftar tunggu haji regular mencapai lebih dari 20.000 orang. Dengan kuota hanya setiap tahunnya kurang dari 4.000 orang, maka diperlukan waktu lima tahun bagi seseorang untuk mendapat giliran naik haji.
Karena itu, pihak Kanwil Depag Kalsel sendiri menganjurkan kepada warga yang mampu untuk menunaikan ibadah haji plus. Mereka yang sudah berulang kali naik haji juga dihimbau untuk menahan diri dan dianjurkan melaksanakan ibadah umrah.
Tingginya minat warga untuk menunaikan ibadah haji ini, memberi peluang bisnis yang cukup menjanjikan dalam bisnis biro perjalanan (travel). Puluhan perusahaan jasa biro perjalanan haji dan umrah bermunculan di Kalsel.
Bahkan, ibadah haji dan umrah kerap menjadi komoditas politik para pejabat daerah guna menarik simpati dengan memberangkatkan haji warga dalam jumlah besar. Setiap tahun tercatat tidak kurang dari 8.000 orang warga dari 13 kabupaten/kota di kalsel melaksanakan ibadah umrah. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: