Hukum Adat

Benturan Kearifan Lokal dan Hukum

Cuaca cerah pagi itu di Paringin, ibukota Kabupaten Balangan, sebuah kabupaten kecil di Kalimantan Selatan berubah menjadi sebuah ketegangan. Puluhan warga suku dayak yang berasal dari pedalaman pegunungan meratus menyambangi markas kepolisian resort setempat.
Kedatangan warga pedalaman ini merupakan bentuk protes warga atas penahanan salah seorang anggota warga oleh pihak kepolisian, karena sebelumnya kedapatan membawa sepucuk senjata rakitan. Mereka mendesak aparat keamanan membebaskan tersangka kepemilikan senjata api yang tak lain adalah seorang tokoh adat.
Beberapa orang warga yang datang dalam rombongan pengunjuk rasa itu, justru membawa mandau senjata tajam jenis golok, karena tujuan mereka berangkat dari kampongnya sekaligus ke ladang.
Bagi warga lokal sendiri kepemilikan senjata api adalah suatu hal yang lumrah. Senjata sederhana jenis senapan yang dirakit sendiri oleh warga tersebut dipergunakan untuk berburu dan alasan keamanan.
Berburu masih menjadi kegiatan utama warga pedalaman, pegunungan meratus. “Kasus ini merupakan contoh benturan antara hukum negara dengan tradisi atau kearifan lokal warga suku dayak,” jelas Jhonson Maseri, Ketua Persatuan Masyarakat Adat Dayak (Permada) Kalsel yang memimpin aksi protes di halaman mapolres Balangan, beberapa waktu lalu.
Masyarakat adat berharap pemerintah, termasuk aparat keamanan menghormati masalah tradisi atau kebiasaan warga suku dayak yang sebagian memang bersinggungan dengan aturan hukum berlaku. Tidak hanya masalah kepemilikan senjata api, tradisi warga pedalaman yang selalu membawa senjata golok jenis mandau, juga kerap menimbulkan persoalan ketika berhadapan dengan aparat kepolisian.
Demikian pula dengan tradisi warga pedalaman suku dayak seperti minuman keras, sabung ayam dan judi domino, terutama ketika digelarnya pesta adat (aruh). Serta kegiatan pembukaan kawasan hutan dengan menebang pohon dan kemudian membakarnya untuk berladang, merupakan sebuah bentuk pelanggaran hukum negara.
“Meski negara kita adalah negara hukum, tetapi kearifan lokal yang bersinggungan dengan hukum perlu dihormati,” ungkap Dwi P Jatmiko, Direktur Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI) Kalsel.

Hukum Adat
Namun sesungguhnya masyarakat suku dayak memiliki aturan atau norma-norma yang disebut hukum adat. Hukum adat mengatur tata cara kehidupan masyarakat suku dayak di dalam komonitasnya. Aturan tersebut berlaku pula bagi masyarakat luar.
Sejumlah kasus pelanggaran hukum adat baik yang dilakukan anggota komonitas adat maupun masyarakat luar, diselesaikan melalui, sebuah persidangan adat. Produk dari persidangan adat yang dipimpin para tokoh adat dan diawasi “roh” para leluhur ini berupa sanksi adat dan pembayaran denda (tahil).
Beberapa waktu lalu, empat orang oknum polisi Kepolisian Resort Hulu Sungai Tengah, harus membayar denda adat 20 tail emas dan bahan kebutuhan pokok karena terbukti melakukan pelanggaran hukum adat, yaitu melakukan penangkapan dan penyiksaan terhadap warga dayak.
Sidang adat berisi pembacaan mantra dan pembakaran dupa dari seorang kepala adat, menandai awal dimulainya peradilan adat. Seekor ayam hitam disembelih di dalam ruangan dan kemudian diletakkan diatas tikar putih yang dibentang di tengah-tengah ruangan.
Proses peradilan dilaksanakan seperti musyawarah, duduk berkelompok di dalam ruangan. Tetapi peradilan adat juga mengenai majelis hakim adat, mahkamah pertimbangan dan penuntut. Para pelaksana proses peradilan adat ini, mengenakan berbagai atribut ciri suku dayak seperti lahung (ikat kepala), tapan (sarung), gelang kuning (ikat pinggang) dan berbagai peralatan upacara adat lainnya.
Selanjutnya para terdakwa disumpah secara adat. Sumpah ini mempunyai konsekuensi berakibat fatal apabila dilanggar atau terdakwa memberi keterangan menyimpang. Karma dari sumpah inilah yang sangat diyakini dan ditakuti masyarakat suku dayak. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: