Industri Jukung

Industri Jukung Kian Terhimpit

Modernisasi dan kelangkaan bahan baku kayu kian mengancam keberadaan industri perahu tradisional (jukung) Kalimantan Selatan. Industri transportasi khas wilayah berjuluk seribu sungai itu kini terhimpit.
Dentuman suara pahat dan raungan mesin ketam bersahut-sahutan mengiringi aktifitas warga di tepi Pulau Sewangi, Kabupaten Barito Kuala. Dengan berbekal keterampilan warisan turun temurun, mayoritas kaum lelaki di pulau yang terletak di tengah sungai barito ini berprofesi sebagai perajin jukung.
Di sepanjang tepi sungai, warga mendirikan bengkel pembuatan jukung sederhana beratap daun rumbia secara berkelompok. Walau tidak seramai dekade sebelumnya, industri jukung rakyat ini mencoba tetap bertahan meski terkendala penyediaan bahan baku kayu.
“Dari waktu ke waktu bahan baku kayu untuk pembuatan jukung semakin sulit di dapat, selain itu harganya juga mahal,” tutur Supri,60 salah seorang perajin perahu di Pulau Sewangi.
Jukung menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang tepi sungai di Kalimantan . Kendaraan air ini sangat diandalkan warga untuk berbagai aktifitas.
Sejatinya proses awal pembuatan jukung dilakukan warga pedalaman bagian hulu sungai barito di wilayah Kalimantan Tengah. Warga suku dayak pahuluan ini, menjadi pemasok badan jukung serta bahan baku kayu untuk dinding perahu atau klotok.
Jukung sendiri terbuat dari batang kayu yang dilobangi setelah sebelumnya dibakar. Untuk mendapatkan jukung dengan ukuran panjang empat sampai enam meter tersebut diperlukan batang pohon yang berdiameter besar.
Sementara para perajin Pulau Sewangi, lebih pada memoles badan jukung dengan keterampilan dan aerodinamika tersendiri sehingga jukung dapat dilayari. Jukung merupakan bentuk dasar perahu (lunas) yang dengan menambahkan papan di sampingnya akan berubah menjadi perahu dan dalam ukuran besar menjadi kapal.
Jukung dan perahu bikinan perajin Pulau Sewangi ini, cukup dikenal hingga ke provinsi tetangga bahkan luar negeri. Di era 1990an jukung Pulau Sewangi, pernah dipamerkan pada even internasional, sebagai salah satu bentuk kerajinan tradisional warga tepi sungai.

Tergantung Petani dan Nelayan
Dari waktu ke waktu jumlah pesanan jukung maupun perahu semakin lesu. Penjualan jukung hanya bergantung pada musim panen petani wilayah pesisir dan nelayan.
Usai musim panen para petani mempunyai cukup uang untuk membeli jukung baru yang akan digunakan untuk aktifitas sehari-hari. “Disamping nelayan tulen, banyak petani menjadi nelayan sembari menunggu masa panen tiba,” kata Amat,45 perajin perahu lainnya.
Satu sampai dua bulan saat musim panen, maka penjualan jukung dan perahu meningkat. Namun pada bulan-bulan di luar musim panen, sangat jarang ada pembeli perahu, kecuali ada pesanan tidak terduga. Karenanya para perajin harus pandai memanfaatkan uang hasil penjualan jukung untuk modal juga keperluan sehari-hari.
Puncak kejayaan industri jukung Kalsel, berlangsung hingga tahun 2000. Dulu pasar jukung begitu ramai, dalam sehari jukung laku terjual sampai sepuluh buah. Sekarang dalam sebulan, perajin paling-paling mendapat pesanan jukung satu buah.
Harga jukung dijual berkisar Rp 2 Juta dan perahu mulai dari Rp 3 sampai Rp 8 Juta tergantung besar kecilnya. Menurut para perajin harga ini tidaklah mahal, mengingat bahan baku kayu dan badan dasar jukung harganya juga meningkat tajam. Terlebih untuk menyelesaikan satu jukung memerlukan waktu satu bulan.
Industri jukung juga dihadapkan pada masalah keterbatasan bahan baku kayu, menyusul semakin langkanya kayu hutan dan gencarnya operasi penertiban pembalakan liar. Sama sekali tidak ada jaminan mengenai pasokan bahan baku kayu bagi kelangsungan hidup industri perahu tradisional yang menjadi mata pencaharian ribuan warga Pulau Sewangi.
Kayu-kayu kualitas baik, seperti kayu Ulin (kayu besi) dan Meranti yang dulu banyak dipakai semakin sulit dicari, sehingga para perajin menggantinya dengan jenis kayu lain lebih mudah didapat dan murah. Kondisi ini jika diabaikan akan mematikan usaha warga. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juni 19, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: